168 Artikel se-Indonesia Dibedah demi Bahas Lahan Basah

436
Unlam menggelar seminar lahan basah di Hotel Arya Barito, Sabtu (11/11/2017). Redkal.com/ Nafiah Noor

KabarKalimantan, Banjarmasin – Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarat (LPPM) Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) mengadakan seminar nasional tentang lahan basah untuk yang ketiga kalinya sejak 2015. Kali ini, peserta membincang 168 artikel yang dipresentasikan dari berbagai lembaga dan instansi di Indonesia.

Adapun 168 artikel itu berisi aneka topik kajian, seperti Pertanian dan Ketahanan Pangan; Kesehatan dan obat-obatan; Biodiversitas dan Bioteknologi; Konservasi Sumber Daya Alam dan Lingkungan; Energi Baru dan Terbarukan; Hukum dan Kebijakan; Sosial, Ekonomi, Seni, dan Budaya; serta Pendidikan dan Pembelajarannya.

Ketua LPPM Unlam, Prof Dr Ir Mochamad Arief Soendjoto MSc, mengatakan potensi lingkungan lahan basah harus dimanfaatkan secara lestari. Menurut dia, pemanfaatannya tidak boleh serampangan di tengan peluang lingkungan lahan basah. Tapi, ia mengakui ada risiko dalam pengelolaan lahan basah.

“Risiko atau dampak negatif dari pengelolaan lingkungan tentu harus diminimalkan. Minimal ini istilah yang bernuansa pembenaran yang menegaskan bahwa pasti ada risiko yang tidak dapat dihindari, ketika kita memanfaatkan lahan basah,” ujar Arief di sela seminar di Hotel Arya Barito, Sabtu (11/11/2017).

Baca Juga :   Diprotes Unlam, Dishub Banjarmasin Ogah Buka U-Turn

Studi lingkungan lahan basah merupakan unggulan universitas tertua di Kalimantan ini. Arief berkata Unlam tidak hanya harus mengenal secara mendalam karakteristik lahan basah. Tetapi Unlam mesti memberi pahaman kepada masyarakat bahwa lahan basah harus dimanfaatkan secara bijak.

Menurutnya, pembangunan di Indonesia mengarah pada pengalih fungsian lahan, baik lahan kering (lahan mineral) dan lahan basah. Celakanya, kata Arief, pengalihfungsian itu lewat cara yang dampaknya membahayakan bagi lahan basah itu sendiri maupun lingkungan yang lebih luas. “Cara yang berdampak signifikan adalah pengurukan dan pembakaran,” Arief melanjutkan.

Cara ini, lanjut Arief, bermula dari ketidakmampuan dan ketidakmauan masyarakat untuk memahami karakter lahan basah secara menyeluruh. Ujung-ujungnya, lahan basah rusak sebelum masyarakat memahami karakter tersebut lebih mendalam.

Penelitian dan pengabdian masyarakat berbasis lingkungan lahan basah menjadi bentuk tanggung jawab civitas akademika. Penyelenggaraannya harus berkesinambungan. Karena ilmu pengetahuan, teknologi, seni dan budaya masyarakat berkembang secara personal maupun generasi.

Baca Juga :   Rektor ULM Cup II Menjaring Pecatur Muda Kalselteng

“Hasil penelitian yang dilakukan masyarakat akademis harus didesiminasikan secara luas, sehingga hasil informasi dapat disebarluaskan,” ujar Arief.

Seminar yang bertemakan “Potensi, Peluang, dan Tantangan Pengelolaan Lingkungan Lahan Basah Secara berkelanjutan” ini menghadirkan tiga pembicara utama: Prof Dr Ir Chafid Fandeli MS (Pakar Konservasi Sumber Daya Kehutanan dan Guru Besar Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada), Prof Sutiman Bambang Sumitro MS DSc (Pakar Biologi Sel dan Nano Biologi dan Guru Besar Fakultas MIPA Universitas Brawijaya), dan Prof Dr Ir Mochamad Arief Soendjoto MSc (Pakar Konservasi Flora dan Fauna dan Guru Besar Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat).

M ALI NAFIAH NOOR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here