Mendidik untuk Kemanusiaan

  • Whatsapp

“Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah, menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali.” 

 

 

Begitulah kutipan kata-kata dari tokoh perjuangan Indonesia, Tan Malaka, sang penulis buku Aksi Massa dan Madilog yang pandai meracik tulisan,  menggelorakan kemerdekaan Indonesia.

 

Tan Malaka pernah mendirikan sekolah-sekolah Sarekat Islam (SI), 6 Juni 1921, tepatnya di Semarang. Di sekolah untuk rakyat kecil itu rupa-rupanya Tan Malaka berupaya mendidik siswa agar tak hanya pintar namun juga berjiwa merdeka dan peduli terhadap nasib rakyat.

 

SI School, itulah sebutan untuk sekolah itu. Sekolah ini menampung anak-anak kalangan buruh di Kota Semarang. Mengutip tulisan dari historia, ada tiga dasar pemikiran Tan Malaka dalam rancangan kurikulum sekolahnya.

Baca Juga :   Bongkar Lagi Oknum ASN Hidung Belang

 

Pertama, memberi senjata cukup buat pencari penghidupan dan dunia kemodalan (berhitung, menulis, ilmu bumi, bahasa Belanda, Jawa, Melayu, dan sebagainya).

 

Kedua, memberi hak murid-murid, yakni kesukaan hidup dengan jalan pergaulan (vereeniging). Ketiga, menunjukkan kewajiban kelak terhadap berjuta-juta kromo (rakyat kecil).

 

Tan Malaka berharap murid-muridnya kelak punya kemampuan dan kemauan hendak membela rakyat tidak dalam buku atau kenang-kenangan saja, malah sudah menjadi watak dan kebiasaannya masing-masing.

 

Jika kita tarik persoalan pendidikan ini ke Kalimantan Selatan, akan banyak pertanyaan yang runutannya akan sampai ke pemerintah pusat. Hari ini kita ribut tentang persatuan, rasa kebersamaan dan menggaungkan kalimat Bhineka Tunggal Ika.

Baca Juga :   Jangan Gaduh, Segera Bekerja

 

Para pemuda dan rakyat hari ini adalah hasil pola pendidikan kita. Apakah selama ini para siswa yang belajar di sekolah itu sudah diberi asupan pelajaran kehidupan. Ataukah memang kita lupa? Bahwa mereka dulu, yang kini menjadi pejabat, aktivis dan birokrat adalah produk dari sistem pendidikan.

 

Pendidikan yang barangkali penuh dijejali dengan materi, beragam mata pelajaran dan tugas menggunung. Hingga lupa tentang esensi pendidikan itu, yaitu memanusiakan manusia itu sendiri. 

 

Jadi jangan heran, jika hari ini banyak kita temui orang-orang individualis, apatis dan pesimis. Lebih banyak mengumpat ketimbang baik-baik berpendapat. Barangkali mata kita harus terbelalak. Bangun dari tidur. 

 

Sudah saatnya pendidikan kita diperbaiki. Jangan-jangan masalah bangsa yang kelewat rumit sekarang salah satu sebab utamanya adalah pola pendidikan yang perlu dibenahi. Generasi emas tak mungkin dilahirkan dari pola pendidikan yang tidak pas.

Baca Juga :   Pertanian untuk Masa Depan Rakyat Banua

 

Teringat kata-kata Tan Malaka. “Kita harus mendidik siswa agar tak hanya pintar namun juga berjiwa merdeka dan peduli terhadap nasib rakyat,” katanya.

 

Namun sudahkah pendidikan kita sekarang mengarahkan siswa memiliki integritas dan jiwa peduli atas sesama? Jangan-jangan selama ini kita malah mencetak lulusan pengejar nilai akademik dan pencari kerja belaka, namun lemah jiwa sosial dan kepribadian? Siapa yang tahu.

 

Seorang bijak pernah berucap, masa depan sebuah bangsa, bisa dilihat dari bagaimana kondisi anak mudanya saat ini. Lalu bagaimana kondisi anak muda kita sekarang di Kalimantan Selatan, silakan anda nilai sendiri. red

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *