Fokus: Jejak Komunis dan Lekra di Banua (1)

KabarKalimantan, Banjarmasin – Heboh penyerangan terhadap kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia di Jakarta sekaligus aksi nonton bareng film pengkhianatan G30S/PKI, mengingatkan kita betapa negara ini belum bisa melenyapkan bayang-bayang bahaya laten komunis. Isu hantu komunis selalu saja muncul ketika memasuki bulan September setiap tahun. Tak sedikit yang menilai isu komunis sengaja digoreng mendekati tahun politik 2019.

Di Kalimantan Selatan, jajaran teritorial TNI-AD sukses mengajak masyarakat nonton bareng layar tancap film G30S/PKI—sebuah drama pemberontakan yang wajib ditonton di era Orde Baru tapi dilarang ketika era reformasi. Selain nobar di markas setiap jenjang teritorial, tentara menyasar tempat-tempat instansi pemerintahan dan area publik ketika menggelar nobar film itu.

Bacaan Lainnya
Baca Juga :   Travel Haji dan Umrah Tolak Biometrik Pengajuan Visa

Sulit untuk tidak mengatakan film besutan Arifien C. Noer, ini sebagai gaya propaganda Orde Baru yang merekonstruksi sejarah bahwa PKI dalang di balik pembunuhan sembilan perwira TNI-AD plus satu polisi. Melalui produk sineas, Orde Baru ingin menghilangkan secuil lembaran sejarah bangsa pasca Gestapu (Gerakan September Tiga Puluh).

Padahal, sebagian kalangan meyakini negara mesti bertanggung jawab atas pembantaian massal orang-orang yang tertuduh komunis, tanpa proses peradilan. Situasi saat itu memang sangat kompleks. Belakangan, muncul laporan bahwa Amerika Serikat melalui Central Intelligence Agency (CIA) ikut campur tangan di balik Gestapu.

Baca Juga :   Sebuah Ruko di Bantaran Sungai Kelayan Roboh, Tujuh Orang Nyaris Tertimbun Reruntuhan Bangunan

Alhasil, pemutaran ulang film G30S/PKI boleh dibilang membuka luka lama di tengah ketidakpastian upaya rekonsiliasi terhadap korban dan keluarganya. Yang lebih miris, panitia di sebagian lokasi pemutaran film, justru merayakan peristiwa kelam 52 tahun lalu itu dengan pembagian aneka doorprize di penghujung acara.

Meskipun tak sebrutal di Jawa Timur dan Jawa Tengah, aksi penculikan, penyiksaan, dan pembunuhan terhadap simpatisan PKI, fungsionaris PKI, dan pegiat organisasi underbow PKI, turut meninggalkan bau amis di Kalimantan Selatan. Lantaran laporan ini kerja jurnalistik, kami melacak jejak komunis dan Lekra di Kalimantan Selatan melalui wawancara dengan pelaku sejarah, saksi mata, ditambah sumber literatur di sejumlah buku.

Baca Juga :   Hibah Lahan Project Rusunawa 4 Belum 'Clean'

Pembaca budiman, KabarKalimantan menurunkan rangkaian berseri tulisan soal komunis dan Lekra di Kalsel untuk memperingati peristiwa G30S/PKI. Melalui tulisan berseri, kami ingin mengingatkan bahwa Kalimantan Selatan pun tak luput dari huru-hara dan peristiwa kelam 1965. Kami sadar, tulisan jurnalistik semacam ini ada kemungkinan tidak memuaskan sebagian pihak. Selamat membaca.

TIM KABARKALIMANTAN

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.