Mitos Harta Karun dan Kerajaan Ibnu Hadjar

  • Whatsapp

KabarKalimantan, Banjarmasin– Tepat di samping pertigaan jalan di Desa Berangas Kecamatan Pulau Laut Timur Kabupaten Kotabaru, berdiri sebuah rumah reot. Keadaannya semakin memprihatinkan sejak ditinggal wafat sang penghuninya sekitar setahun silam. Nini Uha, begitu warga sekitar memanggil, nama mendiang penghuni sebatang kara itu.

Sebelum meninggal, sehari-hari ia membuka kedai kopi sederhana di rumahnya itu. Banyak pegawai negeri dan anggota polisi yang mendapat penugasan di daerah itu diangkatnya sebagai anak berkat numpang makan di warung kecil tersebut. Maklum, Nini Uha sampai akhir hayatnya tak pernah melahirkan seorang anak pun.

Dari cerita warga Desa Berangas, Nini Uha tidak hanya dianggap seorang wanita sepuh yang hidup sampai mengalami kepikunan. Di usia sangat muda, ia diperisteri seorang tokoh bernama Ibnu Hadjar.

Ibnu Hadjar dianggap sebagai gerombolan pemberontak yang tidak patuh pada kemauan pusat. Padahal ia adalah pejuang kemerdekaan era revolusi fisik di Kalimantan Selatan 1945-1949.

Baca Juga :   Enam Daerah Beradu Kreasi Seni Tari  

Sosoknya kembali dibincang oleh kalangan sejarawan Kalsel dalam seminar nasional program studi pendidikan sejarah Fakultas Keguruan dan ilmu pendidikan (FKIP) Universitas Lambung Mangkurat (Unlam), Kamis (26/10/2017).

Wilayah Kabupaten Kotabaru dikatakan sebagai salah satu basis pelarian gerombolan Ibnu Hadjar. Sebagai salah satu isteri muda Ibnu Hadjar, Nini Uha pun sempat menghabiskan masa mudanya di dalam hutan bersama para gerombolan.

Ibnu Hadjar memang dikatakan oleh banyak orang mempunyai banyak isteri. Layaknya bapak proklamator Indonesia yang karismatik, Soekarno, di mana ia singgah, di situ Ibnu Hadjar punya isteri.

Selain terkenal punya banyak isteri, rupanya Ibnu Hadjar juga dimitoskan punya kerajaan dan menyimpan harta karun. Salah satu pemakalah dalam seminar tersebut, Drs Yusliani Noor Mpd menjelaskan mengapa Ibnu Hadjar dapat bertahan lama dalam perlawanan kepada ketidakadilan pemerintah, yakni sejak 1950-1963.

“Kabarnya, ia memiliki kerajaan sendiri di sebuah gunung yang sulit dijangkau,” katanya.

Konon, Ibnu Hadjar juga memiliki kesaktian. Oleh Suku Bukit di pedalaman Meratus, Ibnu Hadjar dianggap sebagai raja yang melindungi mereka karena merasa sebagai bagian dari Suku tersebut.

Baca Juga :   Menjaga Perdamaian Lewat Refleksi Awal Tahun

Menurut Yusliani, berbagai kesaksian polisi yang ditugaskan menangkap Ibnu Hadjar membenarkan kisah ini. Misalnya, Polisi Umar yang ditugaskan di Barabai menyaksikan ilmu gaibnya yang selalu dapat menghindar ketika hendak ditangkap.

“Ibnu Hadjar juga kebal peluru. Lebih dari itu, Umar merasa segan dengan Ibnu Hadjar yang begitu setia dengan Hassan Basry dan begitu ikhlas memperjuangkan nasib kawan-kawannya dalam menuntut keadilan bagi pejuang di Kalimantan Selatan,” tulis Yusliani dalam makalah berjudul hassan Basry, Ibnu Hadjar dan Mitos Harta Karun Ibnu Hadjar.

Di kerajaannya itu pula, konon Ibnu Hadjar menyimpan berbagai benda pusaka, dan harta karun, baik emas, dan batuan permata. Namun sampai saat ini, tidak seorang pun mengetahui tempat Harta Karun itu.

Mengutip dari tulisan Van Dijk, Darul Islam Sebuah Pemberontakan (1983), Yusliani menjelaskan, harta-harta itu diperoleh Ibnu Hadjar dari anak buahnya yang setia. Mereka mengumpulkan dari para pedagang dan golongan hartawan serta bangsawan yang mereka lindungi keamanannya.

Baca Juga :   Abdus Sukur, Seniman Bapandung di Tengah Modernitas Zaman

Adapun harta karun yang dikumpulkan Ibnu Hadjar itu berupa emas dan intan gosokan serta intan mentah dengan jumlah nilai lima juta rupiah untuk harga waktu itu. Harga intan mentah satu karat tahun 1953 sebesar enam ribu rupiah. Saat ini Oktober 2017, Harga satu karat intan putih sebesar 15 juta rupiah. Kenaikan harga sekitar 10 ribu persen. Maka nilai harta Ibnu Hadjar itu jika dikonversio pada nilai rupiah berdasarkan harga intan sekarang sekitar 50 milyar rupiah.

“Kalau ada intan yang ukuran karatnya di atas 30 karat, maka nilainya lebih berubah secara fantastis. Intan warna pink sebesar 36 karat yang telah dicutting harganya mencapai 200 milyar rupiah. Itu berdasarkan patokan harga Hongkong Oktober 2017,” ujar Yusliani.

M ALI NAFIAH NOOR

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *