Ketika Patih Lambung Mangkurat Batal Membunuh

  • Whatsapp
Pementasan Sendratasik Unlam dengan lakon Patih Lambung Mangkurat. Istimewa

KabarKalimantan, Banjarmasin – Jika tidak dibunuh, Sukmaraga dan Patmaraga yang jatuh hati kepada Puteri Junjung Buih akan membawa malapetaka bagi Negara Dipa. Hati Nurani rupanya tidak bisa mendustakan bahwa Lambung Mangkurat adalah paman dari Sukmaraga dan Patmaraga.

Saat itu Lambung Mangkurat yang dimandatkan oleh mendiang orangtuanya, Empu Jatmika, untuk melakukan tapa suci. Dari tapa yang bertujuan untuk mencari pemimpin Negara Dipa itu muncullah seorang wanita cantik yang dianggap sebagai titisan dewata dari segumpalan buih di permukaan sungai. Wanita itu lantas dinamakan Puteri Junjung Buih.

Bacaan Lainnya

Sebagai seorang patih, Lambung Mangkurat memikul tanggungjawab besar menjaga Negara Dipa yang didirikan ayahnya sendiri. Namun, keluarganya tidak berhak menjadi raja yang sah karena persoalan kasta.

Baca Juga :   Waduh, Selesai Dibangun Tahun Lalu, Panggung Terbuka Taman Budaya Kalsel Belum Bisa Digunakan

Malang bagi Patih Lambung Mangkurat, keponakannya sendiri, Sukmaraga dan Patmaraga telah jatuh hati kepada Puteri Junjung Buih. Cinta pun membutakan mereka. Begitu pula dengan Puteri Junjung Buih Sendiri.

Menghindari Bala yang akan diturunkan Dewata, Lambung Mangkurat pun menyiapkan strategi yang dilematis bagi dirinya sendiri. Ia harus membunuh kedua keponakannya sendiri untuk menghentikan cinta yang sudah membabibuta. Kemudian mencarikan seorang putera mahkota dari kerajaan besar, Majapahit. Sebab, Lambung Mangkurat beranggapan titisan dewata harus disandingkan dengan titisan dewata pula.

Itulah kisah legenda yang diangkat Program Studi (Prodi) Pendidikan Seni Drama, Tari, dan Musik (Sendratasik) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) dalam gelaran Sendratasik Berkarya 7 di Gedung Balairung Sari Taman Budaya Kalsel pada 27 dan 28 Desember 2017.

Baca Juga :   Sendratasik Unlam Pentaskan Legenda Sukmaraga dan Patmaraga

Disutradarai Bayu Bastari Setiawan, pementasan yang diselenggarakan sebagai tugas akhir semester mahasiswa Prodi Sendratasik FKIP Unlam ini mengangkat sisi humanisme dari legenda tersebut. Naskah yang digunakan adalah adaptasi dari Drama Karya Bapak Teater Kalsel Datuk Mangku Adat (DMA) H Adjim Arijadi (Alm).

Mengusung tema “Kaji Folklor, Membaca Diri Lewat Seni” mereka mengerucutkan cerita pada kisah cinta Sukmaraga dan Patmaraga kepada Puteri Junjung Buih. Untuk menjadi hiburan yang menarik di penghujung tahun 2017, Bayu menambahkan beberapa karakter lucu.

Alhasil, akhir cerita ditafsirkan kembali dengan pendekatan yang lebih humanis. Lambung Mangkurat urung membunuh kedua keponakannya. Ia malah menyuruh Sukmaraga dan Patmaraga melarikan diri dan menghilang dari Negara Dipa dengan dalih sudah dibunuh.
Bayu menjelaskan, pujangga-pujangga terdahulu juga sudah melakukan gubahan-gubahan dengan menambahkan bumbu fantasi yang menarik pada cerita ini. “Gubahan ini melalui proses pertimbangan panjang dengan niatan bukan untuk merusak alur cerita ataupun sejarah, melainkan untuk memperkuat karakter Sukmaraga dan Patmaraga yang kami bawakan,” katanya.

Baca Juga :   Sarmela dan 'Gandut' yang Berakhir di Tumpukan Sampah

Yang terpenting bagi Bayu, pementasan tersebut juga sebagai tawaran untuk wacana-wacana baru yang diangkat dari legenda dan mitos sebagai kekayaan lokal di Kalsel. “Selalu ada pesan yang disampaikan setiap mitos dan legenda,” ujarnya.

Sementara itu, dosen pengampu mata kuliah manajemen seni pertunjukkan, Sulisno mengatakan Sendratasik Berkarya diorientasikan agar mahasiswa Prodi Sendratasik FKIP Unlam dapat membuka ruang-ruang pertunjukkan seni di Kalsel. “Banyak ruang-ruang yang bisa dieksplor untuk menggelar pertunjukkan seni. Tidak melulu harus di Taman Budaya,” ucapnya.

ALI NAFIAH NOOR

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *