Bergaul Secara Cerdas

PERGAULAN adalah interaksi antar individu, bisa bersifat luas yakni pergaulan dengan banyak orang atau “frekuen”yaitu sering bergaul dengan orang lain. Dunia pergaulan identik dengan dunia remaja pada umumnya. Sering kita dengar istilah “kuper” atau kurang pergaulan sebutannya. Remaja dianggap kuper apabila remaja tersebut kurang atau bahkan kemungkinan sekali tidak pernah bergaul dengan teman sebayanya.

Cara bergaulnya di sekolah atau di luar sekolah menjadi bahan tertawaan oleh karena ketinggalan berita. Ketrampilan bergaul dapat dilihat sejak kanak-kanak hingga dewasa. Ketika masih kanak-kanak seseorang suka berkenalan dengan cara yang paling sederhana, tersenyum dan menyapa kawan-kawan yang baru dijumpainya. Maka seseorang itu akan memiliki ketrampilan berkenalan.

Lama kelamaan mulai terlihat bahwa dirinya paling menonjol diantara teman sebayanya. Ini merupakan awal terbentuknya rasa percaya diri dengan dunia pergaulan di lingkungannya, yaitu dunia anak. Sampai saatnya seseorang memasuki dunia remaja dan dewasa, untuk belajar bergaul sesuai dengan usianya, oleh karena itu pergaulan juga akan membawa kesuksesan di masa yang akan datang.

Baca Juga :   Tips Agar Sukses Mengatasi Kegagalan

Banyak orang karena pergaulannya yang sehat dan luas menyebabkan dia sukses dan berkembang. Namun tidak sedikit orang yang hancur masa depannya justru karena pergaulannya. Adapun ciri-ciri pergaulan yang tidak sehat adalah kelompok “klilk” yaitu pergaulan dalam kelompok kecil, hanya dengan orang-orang tertentu secara eksklusif. Pergaulan yang tanpa pernah membuka diri dengan lainnya.

Solidaritas secara buta adalah suatu pergaulan yang menerapkan nilai-nilai kesetiaan pada kelompoknya secara ketat, sehingga mematikan jati diri anggotanya. Misalnya pergaulan yang mengatur solidaritas anggotanya secara mutlak, anggota tidak dibenarkan untuk berbeda atau tidak setia kepada kebiakan kelompok.

Banyak orang berfikir bahwa kesuksesan bergaul itu harus bisa disenangi semua orang, sehingga dengan segala cara ia lakukan. Ia hanyut dan tidak punya prinsip, karena ingin mengikuti apapun kemauan lingkungannya. Perilaku yang dikendalikan oleh perasaan atau emosi. Perasaan tidak tega, kasian dan takut menyakiti hati sering membatasi aktifitas seseorang. Emosi dapat membuat orang bersikap tidak bijaksana.

Baca Juga :   Sikap dan Kebiasaan yang Memperlihatkan Keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa

Contoh sikap tersebut adalah karena rasa tidak tega, seorang ibu gagal mendisiplinkan anaknya. Karena takut menyakiti hati sehinggga penyelewengan dan penyimpangan dibiarkan terus menerus. Karena rasa tidak tega atau takut mengecewakan pacar, banyak wanita mudah diperdayai. Dari banyaknya persepektif ini diharapkan salah satunya menjadi metode standar yang digunakan untuk menentukan fungsi-fungsi positif dari mental manusia yang sehat.

Sangat aneh memang hingga sampai saat ini belum ada metode standar untuk menentukan hal tersebut. Jumlah para teoritis yang menggunakan sekala pengukuran untuk membuktikan teori mereka,pada sebagian besar justru berbeda dari keadaan yang nyata. Penelitian tersebut hanya menjadi alat saja.

Manusia terlahir di dunia selain sebagai makhluk individu maupun sebagai mahkluk sosial, maksudnya dalam kehidupan ini tak akan terlepas bagi seseorang individu mempunyai hak-hak dan kewajibannya untuk diri sendiri berhunbungan dengan Tuhan Yang Maha Esa dan sebagai makhluk sosial tak akan lepas hubungannya membutuhkan dengan manusia lainnya.

Baca Juga :   Cara Belajar yang Efektif dan Menyenangkan

Dalam menjalani kehidupan sebagai makhluk individu maupun sosial, sekiranya selalu perlu dukungan kerjasama dalam menyelesaikan tugas ataupun pekerjaan, dapat saja yang dibebankan kepada diri kita untuk pencapaian tujuan bersama. Agar dapat menemukan suatu kesepakatan dan dapat mulai mewujudkannya kerjasamanya yaitu membina team work.

Satu-satunya cara memperoleh manfaat sepenuhnya dari perdebatan adalah menghindarinya. Tips memperoleh kerjasama hindari debat usir. Hormati pendapat orang lain, hindari mengatakan kamu salah, jika anda salah aku dengan simpatik mulai dengan cara yang ramah, mulai dengan hal-hal yang disepakati bersama, ajak orang lain berbicara banyak, buatlah agar usulan pendapat datang dari orang tersebut.

Oleh: Sri Jumiati, S.Pd.SD
Guru di SDN 1 Sepunggur

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.