Kendala dalam Kerukunan antar Umat Beragama

MENURUT Dr Ali Masrur, M Ag, salah satu masalah dalam kmunikasi antar agama sekarang ini khususnya di Indonesia adalah munculnya sikap toleransi malas-malasan (lazy tolerance) sebagaimana diungkapkan P. Knitter sikap ini muncul sebagai akibat dari pola perjumpaan tak langsung (indirect encounter) antar agama, khususnya menyangkut persoalan teologi yang sensitif. Sehingga kalangan umat beragama merasa enggan mendiskusikan masalah-masalah keimanan. Tentu saja dialog yang lebih mendalam tidak terjadi, karena baik pihak yang berbeda keyakinan atau agama sama-sama menjaga jarak satu sama lain.

Masing-masing agama mengakui kebenaran agama lain, tetapi kemudian membiarkan satu sama lain bertindak dengan cara yang memuaskan masing-masing pihak. Yang terjadi hanyalah perjumpaan tak langsung, bukan perjumpaan sesungguhnya. Sehingga dapat menimbulkan sikap kecurigaan diantara beberapa pihak yang berbeda agama, maka akan timbulah yang dinamakan konflik.

Faktor politik ini terkadang menjadi faktor penting sebagai kendala dalam mencapai tujuan sebuah kerukunan antar umat beragama khususnya di Indonesia, jika bukan yang paling penting diantara faktor-faktor lainnya. Bisa saja sebuah kerukunan antar agama telah dibangun dengan bersusah payah selama bertahun-tahun atau mungkin berpuluh-puluh tahun, dan dengan demikian kita pun hampir memetik buahnya. Namun tiba-tiba saja muncul kekacauan politik yang ikut mempengaruhi hubungan antar agama dan bahkan memporak-porandakannya seolah petir menyambar yang dengan mudahnya merontokkan “bangunan dialog” yang sedang kita selesaikan.

Baca Juga :   Integrasi Penilaian Sikap dalam Pembelajaran untuk Membentuk Karakter Generasi Penerus Masa Depan Bangsa

Seperti yang sedang terjadi di negeri kita saat ini, kita tidak hanya menangis melihat political upheavels di negeri ini, tetapi lebih dari itu yang mengalir bukan lagi air mata, tetapi darah, darah saudara-saudara kita yang mudah-mudahan diterima di sisi-NYA. Tanpa politik kita tidak bisa hidup secara tertib teratur dan bahkan tidak mampu membangun sebuah negara, tetapi dengan alasan politik juga kita seringkali menunggangi agama dan memanfaatkannya. Dikalangan islam pemahaman agama secara eksklusif juga ada dan berkembang.

Baca Juga :   Aneka Manfaat Bersyukur Menambah Nikmat

Bahkan akhir-akhir ini, di Indonesia telah tumbuh dan berkembang pemahaman keagamaan yang dapat dikategorikan sebagai islam radikal dan fundamentalis, yakni pemahaman keagamaan yang menekankan praktik keagamaan tanpa melihat bagaimana sebuah ajaran agama seharusnya diadaptasikan dengan situasi dan kondisi masyarakat. Mereka masih berpandangan bahwa islam adalah satu-satunya agama yang benar dan dapat menjamin keselamatan manusia.

Pandangan-pandangan ini tidak mudah dikikis karena masing-masing sekte atau aliran dalam agama tertentu, Islam misalnya juga memiliki agen-agen dan para pemimpinnya sendiri-sendiri. Islam tidak bergerak dari satu komando dan satu pimpinan. Ada banyak aliran dan ada banyak pemimpin agama dalam islam yang antara satu sama lain memiliki pandangan yang berbeda-beda tentang agamanya dan terkadang bertentangan.

Tentu saja dalam agama Kristen juga ada kelompok eksklusif seperti kelompok Evangelis, misalnya berpendapat bahwa tujuan utama gereja adalah mengajak mereka yang percaya untuk meningkatkan keimanan dan mereka yang berada “di luar” untuk masuk dan bergabung. Bagi kelompok ini, hanya mereka yang bergabung dengan gereja yang akan dianugerahi salvation atau keselamatan abadi. Dengan saling mengandalkan pandangan-pandangan setiap sekte dalam agama tersebut. Maka timbullah sikap fanatisme yang berlebihan.

Baca Juga :   Kurangnya Kesadaran Masyarakat Tentang Dampak Sampah bagi Kesehatan

Kendala dalam kerukunan antar umat beragama di Indonesia bahkan dunia tentunya tidak lepas dari faktor rendahnya sikap saling toleransi, adanya kepentingan politik, dan sikap fanatisme seperti contoh yang diuraiakn sebelumnya. Kita sebagai guru wajib memberikan contoh yang tepat pada siswa agar tidak terjadi hal yang membuat semuanya menjadi kurang harmonis terhadap perbedaan. Dengan berhasilnya guru dalam membuat siswanya harmonis merupakan langkah awal dalam memberantas perbedaan.

Oleh: Teguh Imanuddin Ruska, S.Pd.I
Guru PAI di SMP Negeri 3 Satap Angsana

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.