Kedewasaan adalah Proses Perkembangan Kepribadian

TINGKAT kedewasaan seseorang tidak selalu berbanding lurus dengan usianya. Mereka yang lebih tua belum tentu lebih dewasa. Lalu bagaimana mengukur tingkat kedewasaan seseorang? Ada beberapa aspek yang bisa dijadikan ukuran untuk menilai tingkat kedewasaan seseorang yaitu intelektual, emosional, sosial, moral, dan spiritual.

Dari segi intelektual kita dikatakan dewasa dilihat dari kemampuan membentuk pendirian. Artinya kita punya pendirian dan prinsip yang jelas sehingga tidak mudah terombang-ambing oleh situasi yang menuntut kita untuk bersikap. Tapi tetap memperhatikan pendapat orang lain walaupun tidak bersandar pada pendapat itu.

Kemampuan mengambil keputusan sendiri dengan tegas dan bebas berdasarkan bukti, alasan nyata dan nasihat baik dari orang lain, serta bertanggung jawab dengan segala keputusan kita. Tidak bingung kalau ada masalah tapi dianalisis sebab-sebabnya sehingga bisa dicari kemungkinan-kemungkinan penyelesaiannya.

Kita dikatakan sebagai orang dewasa secara emosional ditandai dengan kemampuan menerima emosi dan menguasainya secara wajar. Artinya apapun emosi yang sedang kita alami, kita tetap bisa menguasai dan mengelolanya dengan baik. Tidak dipengaruhi rasa takut dan gelisah. Kita bisa mengontrol emosi sehingga tidak merugikan orang lain. Dari sini dapat dilihat bahwa orang dewasa juga punya kecerdasan emosi yang cukup tinggi.

Baca Juga :   Fondasi dan Strategi dalam Belajar

Kedewasaan kita dari segi sosial tampak dari keterbukaan terhadap orang lain. Sanggup membuat persahabatan, tidak bergantung kepada siapapun, tetapi bukan berarti kita tidak butuh orang lain. Kita bisa menyesuaikan diri dan hormat dengan hukum, kebiasaan dan adat istiadat masyarakat dimanapun kita berada.

Dari segi moral dapat dilihat dari kesetiaan kita pada asas-asas moral dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Umumnya semakin dewasa diri kita, akan semakin mementingkan diri orang lain dari pada diri sendiri. Kedewasaan dari segi spiritual bisa dilihat dari cara berkeyakinan yang tidak sempit. Kita mampu bergaul dan membina hubungan baik dengan orang-orang yang keyakinannya berbeda dari diri kita.

Kalau sudah mencapai hal itu, kita mampu mencintai orang lain tanpa batas-batas agama, ras, suku, atau golongan. Lalu, apakah seseorang yang disebut dewasa kemudian meninggalkan segala bentuk keceriaan, dan kegairahan hidup? Tentu saja tidak. Orang dewasa tidak harus selalu bersikap serius. Adakalanya orang dewasa juga bersikap jahil dan senang bercanda untuk memecah kebekuan atau menutunkan ketegangan.

Baca Juga :   Pembelajaran Jarak Jauh Saat Pandemi untuk Siswa SD Kelas Rendah

Kedewasaan tidak selalu berhubungan dengan umur. Kadang ada orang yang umurnya boleh dibilang tua, tapi sikapnya masih kekanak-kanakan, suka menang sendiri, emosian dan enggak mau kalah. Tapi ada yang sebaliknya walaupun usianya masih muda, dia mampu menjadi panutan teman-temannya.

Kedewasaan adalah proses perkembangan kepribadian. Karena proses jadi tidak bisa instan. Tidak bisa hanya berdandan ala orang dewasa lalu jadi orang dewasa. Kedewasaan itu lebih kesikap kita dalam menghadapi apapun. Memang mestinya yang umurnya lebih banyak dia akan lebih dewasa karena sudah mengalami banyak hal dalam hidup dan lebih banyak belajar dari pengalaman.

Tapi kenyataanya tidak selalu begitu ini karena pendewasaan dalam prosesnya bisa mengalami kemajuan berhenti bahkan mundur.Orang yang selalu belajar dari pengalaman dan suka intropeksi diri biasanya proses kedewasaanya makin maju.Artinya,makin hari ia makin tumbuh menjadi manusia yang lebih bijaksana. Sebaliknya, orang yang cepat merasa puas sehingga tidak perlu belajar lagi, manja, tidak mau dikritik, dan selalu lari dari masalah akan mengalami hambatan dalam proses pendewasaannya.

Baca Juga :   Kiat Utama untuk Mengelola Waktu Belajar

Ciri paling mencolok dari orang yang tidak dewasa adalah egoisme yang tinggi. Artinya selalu mementingkan diri sendiri tanpa melihat kepentingan orang lain. Latihan pertama untuk menjadi dewasa adalah berlatih untuk mengurangi sifat egois kita. Latihan selanjutnya adalah belajar untuk menerima diri sendiri apa adanya.

Jadi contoh eksplor diri sendiri kekurangan dan kelebihannya. Terimalah apapun yang ada pada diri sendiri. Hanya dengan menerima diri sendiri apa adanya, kita akan mampu bersikap terbuka pada orang lain. Mencintai semua yang ada dalam diri kita merupakan dasar untuk mencintai semua manusia. Kalau kita mampu mencintai semua manusia apa adanya itu berarti kita telah sampai di “puncak kedewasaan “.

Oleh: Putu Wudia Astuti S.Pd
Guru Matematika di SMP Negeri 1 Kuranji

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.