Pengabdian Guru di Tengah Pandemi

GURU berperan penting dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Tanpa keberadaan guru, tidak akan ada dokter, insinyur, ahli ekonomi, atau bahkan presiden. Guru memiliki tanggung jawab serta peran yang sangat penting dalam meningkatkan mutu pendidikan sehingga menjadikan suatu negara bisa berkembang, maju, dan berdaya saing. Seorang guru haruslah memiliki rasa cinta, baik cinta pada profesinya sebagai guru maupun dalam pengajaran. Ia haruslah mengajar dengan penuh rasa cinta kepada siswa-siswinya (Richard Leblanc, pengajar di York University, Ontario, Kanada, 1998). Inti pengajaran dan pendidikan itu sendiri ialah cinta. Cinta di dalam pendidikan lebih penting daripada penalaran rasional semata. Karena di dalam cinta, ada niat yang dapat mendorong orang untuk belajar, untuk membantu mereka menemukan sendiri pola belajar yang pas.

Seorang guru juga harus mencintai ilmu pengetahuan yang akan diajarkannya kepada siswa, sehingga diharapkan anak-anak didiknya juga akan mencintai ilmu pengetahuan tersebut dan terus menerus mau belajar sepanjang hidup mereka. Guru yang baik akan mencintai dan merawat murid-muridnya. Agar bisa menerapkan cinta itu, ia pun butuh memberikan waktu dan tenaganya, bahkan lebih daripada untuk dirinya sendiri. Bangsa kita sendiri memahami guru sebagai sosok yang harus digugu dan ditiru. Segala ucapannya akan dituruti, begitu pula perbuatannya bakal menjadi cerminan bagi murid-muridnya.

Baca Juga :   Cara Mengatasi Konflik dan Membina Hubungan yang Positif

Tugas penting dan tidak ringan itu banyak kita dapati di lapangan telah dilakukan guru dengan penuh rasa cinta, tanggung jawab, dan keikhlasan. Ia menjalani pekerjaannya sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat, bangsa, dan negara. Guru melakukannya tanpa paksaan dan tekanan rasa ketakutan. Apabila ada seorang guru yang melakukan tugasnya bukan karena rasa pengabdian tetapi karena keterpaksaan atau karena tekanan rasa ketakutan, guru itu sesungguhnya tidak pantas disebut guru. Ia tidak akan dapat memberikan kontribusi bagi tujuan mulia pendidikan, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Pengabdian seorang guru bukan hal yang mudah dilakukan. Pengabdian seorang guru terkadang harus diikuti dengan pengorbanan. Tak jarang guru yang mengabdi di tempat-tempat terpencil, jauh di pegunungan, di pulau-pulau kecil, hingga di antara masyarakat yang masih terasing dari peradaban modern.

Baca Juga :   Cara Menghadapi Kegagalan dalam Berkarier

Tak sedikit pula guru yang mengabdi di daerah rawan konflik yang dapat membahayakan keselamatan jiwanya dan keluarganya. Demi pengabdiannya, banyak guru terpisah jauh dari keluarga karena harus tinggal di daerah-daerah yang minim sarana transportasi dan komunikasi. Kondisi ini pun menjadi perhatian pemerintah dengan memberikan mereka kebutuhan untuk komunikasi seperti memberikan kuota internet secara gratis. Kini, pandemi covid-19 sedang melanda negeri.

Baca Juga :   Tantangan Pelaksanaan Pendidikan Dasar di Daerah Tertinggal

Wabah penyakit yang disebabkan virus corona baru itu menggoyahkan segala sendi kehidupan, termasuk juga pendidikan. Kita diminta mencegah penyebaran virus dengan menjaga dan membatasi interaksi fisik. Sekolah dianjurkan menjalani kegiatan belajar mengajar tanpa tatap muka. Selama pandemi yang kita belum tahun kapan akan berakhir, guru pun dituntut untuk terus bekerja, memutar otak, dan berinovasi. Agar ilmu pengetahuan yang diajarkan kepada siswa-siswinya tetap berjalan. Agar ia dapat terus menerus menanamkan pendidikan karakter kepada peserta didik, agar menjadi anak yang cerdas, berbudi pekerti luhur, dan berakhlak mulia. Karena itulah guru mengabdi tanpa ingin dipuji.

Oleh: Mirwan S.Pd SD
Guru Kelas di SD Negeri 1 Marga Mulya

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.