Sebab dan Ciri-ciri Penyakit Mental

PENJELASAN mengenai perspektif mental positif yang muncul beberapa tahun ini di teori psikologi, laboratorium psikologi dan klinis. Dari banyaknya perspektif ini, diharapkan salah satunya menjadi metode standar yang digunakan untuk menentukan fungsi-fungsi positif dari mental manusia yang sehat.

Sangat aneh memang, hingga saat ini belum ada metode standar untuk menentukan hal tersebut. Jumlah para teoritis yang menggunakan skala pengukuran untuk membuktikan teori mereka, pada sebagian besar justru berbeda dari keadaan yang nyata, penelitian tersebut hanya menjadi alat saja.

Psikologi memiliki tiga misi yang berbeda, antara lain untuk merawat penyakit mental, untuk membuat kehidupan manusia lebih bermakna dan pemeliharaan bakat. Bidang psikologi atau bidang lainnya yang berkaitan dengan penyakit mental mulai memfokuskan pada perawatannya dan membangun sistem diagnostik untuk mengidentifikasi jenis-jenisnya.

Panduan standar untuk itu adalah Diagnostic and statistical manual for mental disorder (American psychiatric association,1994). Panduan ini dapat membantu dalam menentukan jenis penyakit dan menentukan cara mengatasi gangguan. Meskipun penggolongan penyakit sangat membantu banyak orang, namun di sana terdapat kekurangan kekurangan karena penggolongan itu didasari oleh jenis penyakit (Disease model) dan yang merupakan korban dari gangguan tersebut (Maddux, 2002; seligman, 2002b).

Baca Juga :   Kesalahan Guru dalam Mengajar dan Solusinya

Penyakit mental itu merupakan jenis penyakit yang disebabkan karena masalah psikologis sama seperti pandangan bidang kedokteran tentang sebuah penyakit. Disease model merupakan sebuah penyakit mental yang berbeda dari normalitas yang bisa dikenali dengan gejala yang unik dan menyebabkan penyimpangan tertentu.

Banyak cara untuk mengetahui tentang penyakit mental yang berdasarkan disease model. Istilah yang biasa digunakan disease model “penyakit” mental, mental yang sehat, pathogen dan psikopatologi. Tapi tidak ada satupun yang disamakan dengan penyakit. Sebuah bukti menyatakan bahwa depresi atau kecemasan bekerja seperti penyakit (seligman,2001b).

Masalah-masalah psikologis secara umum berdasarkan pengalaman emosional manusia normal yang terkontrol. Masalah psikologis di anggap sebagai keadaan yang tidak efektif pada interaksi sosial manusia dari pada suatu penyakit yang ada dalam diri manusia itu sendiri (maddux,2002).

Baca Juga :   Dampak Positif dari Program Adiwiyata di Sekolah

Secara umum jenis penyakit sangat dangkal mengartikan masalah-masalah psikologis. Sayangnya konsekuensi dari disease model merupakan ciptaan suatu mentalitas korban dari ahli yang menanganinya. Hanya karena seseorang menjadi korban dari kuman, virus, dan hal lain yang menyebabkan penyakit tersebut muncul.

Bidang psikologi telah melihat manusia sebagai korban dari dorongan ketidaksadaran, kebutuhan dasar, keluarga atau lingkungan tempatnya berada. Dengan kata lain, manusia dilihat sebagai orang yang pasif dalam menanggapi lingkungan seperti ketidakharmonisan keluarga, yang dapat menyebabkan depresi serta kecemasan.

Jika ahli dan psikoterapis memperlakukan pasien objek penderita atau korban, maka ada dua hal yang bisa terjadi yaitu pertama para ahli akan menanggapi para pasien yang sudah tidak berdaya dan membutuhkan pertolongan, mereka memiliki tanggung jawab penuh untuk treatment. Kedua selfulfilling prophecy mulai bekerja dan pasien melihat diri mereka sebagai orang yang tak berdaya dan membiarkan diri mereka diterapi.

Baca Juga :   Menjadi Guru Hebat di Masa Pandemi

Selama pandangan tentang korban terus bertambah maka akan muncul lagi edisi-edisi terbaru yang menjelaskan tentang tipe-tipe penyakit mental yang baru. Adapun sebab-sebab penyakit mental yaitu mempunyai kepribadian yang lemah, konflik sosial dan konflik-konflik kultural yang mempengaruhi diri manusia.

Pemasakan batin dari pengalaman yang keliru, yaitu pencernaan pengalaman oleh diri si subjek yang salah. Bentuk-bentuk penyakit mental pertama psikopat adalah bentuk kekalutan mental ditandai dengan tidak adanya pengorganisasian dan pengintegralan pribadi. Orang seperti ini tidak bisa bertanggung jawab secara moral dan selalu berkonflik dengan norma sosial dan hukum.

Karena sepanjang hayatnya orang yang bersangkutan hidup dalam lingkungan sosial yang abnormal dan immoral yang diciptakan oleh angan-angan sendiri. Kedua psikoneurosa adalah sekelompok rekasi psikis yang ditandai secara khas dengan unsur kecemasan dan secara tidak ditampilkan dengan penggunaan mekanisme pertahanan diri.

Oleh: Fauzi S.Pd
Guru Bahasa Inggris di SMP Negeri Batulicin

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.