Kiat Sukses Hidup Bermasyarakat

DALAM hidup bermasyarakat, kita harus pandai menyesuaikan diri dengan adat istiadat yang berlaku di tempat tersebut. Sebagaimana peribahasa Jawa mengatakan “Desa Mawa Cara, Negara Mawa Tata”, setiap tempat pasti mempunyai kebiasaan sendiri-sendiri. Oleh karena itu, kita harus mengenal baik adat kebiasaan di tempat tersebut agar kita bisa bermasyarakat dengan baik, serta keberadaan kita memberi banyak manfaat untuknya.

Dalam kehidupan sehari-hari, setiap individu senantiasa melakukan interaksi sosial dengan individu atau kelompok lainnya. Dalam interaksi sosial tersebut, setiap individu bertindak sesuai dengan kedudukan, status sosial, dan peran mereka masing-masing. Tindakan manusia dalam interaksi sosial itu senantiasa didasari oleh nilai dan norma yang berlaku di masyarakat. Manusia dilahirkan dan hidup tidak terpisahkan satu sama lain, melainkan berkelompok.

Hidup berkelompok ini merupakan kodrat manusia dalam memenuhi kebutuhannya. Dalam hidup berkelompok itu terjadilah interaksi antar manusia. Interaksi yang dilakukan pasti ada kepentingannya, sehingga bertemulah dua atau lebih kepentingan. Pertemuan kepentingan tersebut disebut “kontak”. Menurut Surojo Wignjodipuro, ada dua macam kontak, yaitu kontak yang menyenangkan dan kontak yang tidak menyenangkan. Kontak yang menyenangkan yaitu jika kepentingan yang bertemu saling memenuhi. Misalnya penjual bertemu dengan pembeli. Kontak yang tidak menyenangkan yaitu jika kepentingan yang bertemu bersaingan atau berlawanan. Misalnya pelamar yang bertemu dengan pelamar lain, pemilik barang bertemu dengan pencuri.

Baca Juga :   Kiat Utama untuk Mengelola Waktu Belajar

Mengingat banyaknya kepentingan, terlebih kepentingan antar pribadi, tidak mustahil terjadi konflik antar sesama manusia, karena kepentingannya saling bertentangan. Agar kepentingan pribadi tidak terganggu dan setiap orang merasa aman, maka setiap bentuk gangguan terhadap kepentingan harus dicegah. Manusia selalu berusaha agar tatanan masyarakat dalam keadaan tertib, aman, dan damai, yang menjamin kelangsungan hidupnya. Dalam hubungan sosial itu selalu terjadi interaksi sosial yang mewujudkan jaringan relasi-relasi sosial (a web of social relationship) yang disebut sebagai masyarakat.

Dinamika kehidupan masyarakat menuntut cara berperilaku antara satu dengan yang lainnya untuk mencapai suatu ketertiban. Ketertiban didukung oleh tatanan yang mempunyai sifat berlainan, karena norma-norma yang mendukung masing-masing tatanan mempunyai sifat yang tidak sama. Oleh karena itu, dalam masyarakat yang teratur setiap manusia sebagai anggota masyarakat harus memperhatikan norma atau kaidah, atau peraturan hidup yang ada dan hidup dalam masyarakat.

Baca Juga :   161 Peserta se-Kalselteng Adu Mahir di Olimpiade Komputer

Setiap individu dalam kehidupan sehari-hari melakukan interaksi dengan individu atau kelompok lainnya. Interaksi sosial mereka juga senantiasa didasari oleh adat dan norma yang berlaku dalam masyarakat. Setiap anggota masyarakat mengetahui hak dan kewajiban masing-masing. Tata itu lazim disebut kaidah (berasal dari bahasa Arab) atau norma (berasal dari bahasa Latin) atau ukuran-ukuran. Norma-norma itu mempunyai dua macam isi, dan menurut isinya berwujud perintah dan larangan. Perintah merupakan kewajiban bagi seseorang untuk berbuat sesuatu oleh karena akibat-akibatnya dipandang baik.

Sedangkan larangan merupakan kewajiban bagi seseorang untuk tidak berbuat sesuatu oleh karena akibat-akibatnya dipandang tidak baik. Ada bermacam-macam norma yang telah dikenal luas yaitu norma agama, norma kesusilaan, norma kesopanan, dan norma hukum. Kehidupan manusia dalam bermasyarakat, selain diatur oleh hukum juga diatur oleh norma-norma agama, kesusilaan dan kesopanan serta kaidah-kaidah lainnya. Kaidah sosial itu mengikat dalam arti dipatuhi oleh anggota masyarakat di mana kaidah itu berlaku.

Baca Juga :   Kehidupan akan Bermakna Jika Dilandasi dengan Nilai-nilai Kebajikan

Hubungan antara hukum dan kaidah-kaidah sosial lainnya itu saling mengisi artinya kaidah sosial mengatur kehidupan manusia dalam masyarakat. Selain saling mengisi juga saling memperkuat. Dengan demikian, tanpa adanya kaidah hukum pun dalam masyarakat sudah ada larangan untuk membunuh sesamanya. Hal yang sama juga berlaku untuk pencurian, penipuan, dan pelanggaran hukum lainnya.

Hukuman antara norma agama, kesusilaan, kesopanan dan hukum yang tidak dapat dipisahkan itu dibedakan karena masing-masing memiliki sumber yang berlainan. Norma agama sumbernya kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Norma kesusilaan sumbernya suara hati. Norma kesopanan sumbernya keyakinan masyarkat yang bersangkutan dan norma hukum sumbernya peraturan perundang-undangan.

Oleh: Suparti S.Pd
Guru Kelas 1A di SD Negeri 3 Batuah

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.