Etika dalam Percakapan, Berbicara Secara Efektif

SENI pembicaraan adalah bukan mengetahui sesuatu yang harus dikatakan, melainkan sesuatu yang tidak boleh dikatakan. Hal yang diperlukan untuk dapat berbicara secara efektif adalah rasa percaya diri yang kuat, keluwesan dalam pergaulan, mempunyai persepsi yang tepat terhadap keadaan lingkungan dan individu yang terlibat dalam interaksi tersebut, dapat menguasai situasi dan mengetahui hasil yang diharapkan dari interaksi.

Hal-hal yang dihindari dalam percakapan seharusnya adalah memotong pembicaraan orang lain, memonopoli pembicaraan atau percakapan, membual tentang diri sendiri, membicarakan hal-hal yang dapat menimbulkan pertentangan, pembicaraan tentang penyakit kematian dan lain-lain, menanyakan harga barang orang lain, menanyakan maslah yang sifatnya pribadi, dan gosip atau berita yang belum tentu kebenarannya.

Tata cara berkenalan yaitu memperkenalkan orang dengan mengucapkan namanya dengan jelas, memberikan sedikit informasi tentang orang yang diperkenalkan, personal contact, cara berjabat tangan tiga sampai enam detik, melihat mata yang bersangkutan, senyum dan tubuh sedikit ke depan. Apabila tidak dapat terdengar nama dengan jelas boleh bertanya lagi.

Baca Juga :   Dampak Berpikir Positif Bagi Kehidupan

Dalam perkenalan yang lebih muda diperkenalkan kepada yang lebih tua, umumnya seorang pria di kenalkan kepada seorang wanita, wanita diperkenalkan kepada pria apabila pria itu orang penting yang perlu dihormati seperti Kepala Negara, Menteri, Gubernur, Duta Besar Negara Asing, Ulama atau tokoh agama, Atau pria jauh lebih tua dari wanita kurang lebih 20 tahun.

Wanita tidak harus berdiri waktu berkenalan kecuali bila menghadapi orang-orang yang pantas dihormati, tuan dan nyonya rumah selalu harus berdiri untuk menyambut tamu-tamu,apabila tamu akan pulang,tuan dan nyonya rumah harus berdiri dan mengantar tamu sampai di pintu. Khusus untuk pria harus berdiri dari tempat duduk bila berjabatan tangan dengan wanita atau pria, bila seorang wanita masuk dalam ruangan, bila seorang wanita mendekati saat ia duduk, bila seorang wanita yang duduk disampingnya berdiri dan akan meninggalkan tempat.

Masyarakat kita terkenal dengan sikap “gotong royong”, sikap ini menggambarkan kepedulian sosial warga masyarakat untuk memelihara kepentingan bersama, menghindarkan diri dari sikap egois individualistis. Kalian sebagai masyarakat sebaiknya juga sudah mampu mengembangkan sikap tersebut, yaitu memiliki kepedulian untuk memelihara kepentingan bersama, ikut terlibat dalam aktifitas kemasyarakatan dalam kehidupan sehari-hari, baik lingkungan sekolah maupun lingkungan masyarakat.

Baca Juga :   Hal yang Harus Diperhatikan agar Disiplin Belajar

Kita sebagai remaja sudah seyogyanya menampilkan perilaku memelihara kebersihan lingkungan baik di rumah, sekolah, maupun di masyarakat. Misalnya ikut terlibat dalam memelihara kebersihan rumah, ikut aktif dalam piket kebersihan sekolah, membuang sampah pada tempatnya. Memelihara ketertiban dan keamanan lingkungan baik disekolah maupun masyarakat.

Misalnya tidak ribut di kelas, tidak membawa senjata tajam disekolah, tidak membuat onar atau menjadi biang keladi kerusuhan, baik disekolah maupun di masyarakat. Memelihara kedisplinan berlalu lintas, berpartisipasi aktif dalam kegiatan sekolah, berpartisipasi aktif dalam kegiatan atau kepanitiaan yang di adakan di lingkungan masyarakat, aktif dalam organisasi baik OSIS maupun organisasi kepemudaan seperti karang taruna, pramuka, PMR, dan IRMA (Ikatan Remaja Masjid).

Baca Juga :   Sikap dan Kebiasaan yang Memperlihatkan Keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa

Agama mengajarkan bahwa “orang yang baik itu adalah orang yang banyak memberikan manfaat kepada orang lain” atau “Tangan yang di atas lebih baik dari pada tangan yang di bawah”. Keterangan tersebut menunjukkan bahwa agama sangat memuliakan orang yang memiliki sikap pribadi (watak) yang dermawan, sosial, memiliki kepedulian untuk menyejahterakan orang lain yang sedang dalam keadaan terjepit.

Sebagai mahkluk beragama kita wajib hukumnya memiliki sikap ini,dalam kehidupan atau pergaulan sebagai remaja, maka sikap ini seyogyanya terwujud dalam perilaku mau menengok teman yang sakit, membantu teman yang memerlukan pertolongan, saling memberi nasehat dalam hal kebenaran atau memberikan saran kepada teman yang suka berbuat menyimpang, mau menyisihkan uang pakaian atau barang tertentu untuk diberikan fakir miskin, yatim piatu atau yang sedang ditimpa musibah.

Oleh: I Ketut Diana Putra S.Pd
Guru Kelas IV di SD Negeri 2 Marga Mulya

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.