Kehidupan akan Bermakna Jika Dilandasi dengan Nilai-nilai Kebajikan

NILAI-NILAI atau peraturan-peraturan dalam masyarakat berlaku dan disepakati bersama-sama dalam kehidupan, sehingga anda sering mendengar kata-kata “baik dan tidak baik”, “boleh dan tidak boleh”, “sopan dan tidak sopan”, “penting dan tidak penting”, dan sebagainya. Manusia tidak dapat hidup sendiri oleh karena itu sangat penting memahami nilai kelompok, masyarakat, negara, dan pribadi sendiri.

Sedangkan yang dimaksud dengan nilai kehidupan, adalah segala nilai yang hidup dan mempengaruhi tindakan seseorang. Misalnya ketika terjadi penyerangan AS dan tentara sekutu terhadap negara Irak, Indonesia mengutuk negara tersebut. Di sini nilai-nilai dasar “bahwa kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa” mendasari tindakan bangsa Indonesia.

Kepribadian yang sukses dibentuk dengan nilai-nilai yang kuat. Kehidupan akan bermakna jika dilandasi dengan nilai-nilai kebajikan dan kemuliaan. Khalil Kavari menyatakan “apabila manusia gagal dalam mencapai makna hidupnya, hal ini terjadi akibat salah orentasi dalam menjalani kehidupannya”.

Makna hidup yang hakiki adalah ketika manusia merasa bahagia dan ini terletak pada dimensi “spiritual”. Setiap manusia hidup dalam suatu lingkaran sistem tata nilai dalam masyarakat. Manusia memenuhi kebutuhan masing-masing bersama-sama membentuk masyarakat. Individu dan masyarakat saling membutuhkan.

Baca Juga :   Krisis Listrik, Mahasiswa Kalimantan Ciptakan Indonesia Tidal Power

Namun keinginan masyarakat (atau kelompok yang mewakilinya) tidak selalu sama dengan kebutuhan dan keinginan masing-masing individu. Bahkan dapat terjadi adanya ketegangan atau pertentangan antara pribadi dengan masyarakat. Contoh saluran air dijalan tersumbat oleh sampah sehingga pada saat hujan turun terjadi banjir.

Untuk mengatasi masalah tersebut pengurus RT/RW memutuskan mengadakan kerja bakti dan meminta sumbangan biaya pengerukan sampah. Sebagian kepala keluarga rela melakukan kerja bakti dan menyumbangkan uang sesuai dengan kemampuannya. Tetapi ada sebagian yang lebih mementingkan keperluan pribadinya, diantaranya pergi berekreasi keluar kota dan lainnya. Di sini terlihat perbedaan minat dan kebutuhan masyarakat dengan kebutuhan pribadi.

Memilih nilai-nilai dalam kehidupan nyata, semua nilai-nilai bercampur dimasyarakat. Nilai baik buruk, positif negatif, keadilan kecurangan, kemuliaan kehinaan, amal ibadah kemaksiatan, seluruhnya berbaur menjadi satu. Masing-masing punya banyak pengikutnya, banyak yang melakukannya.

Baca Juga :   Dalam Proses Pembelajaran IPA Perlu Ditanamkan Keterampilan Berpikir Kritis

Kita jangan terkecoh, kita harus berfikir jernih dan menghidupkan hati nurani. Hati nuranilah yang mampu melihat mana nilai-nilai yang benar-benar mulia dan mana yang hina. Kita jangan tertipu karena hari ini banyak terjadi bahwa nilai-nilai keburukan (kemaksiatan) justru mayoritas masyarakat menggemarinya. Nilai-nilai kecurangan justru banyak yang melakukannya. Sebaliknya keadilan dan kebajikan justru sedikit orang yang mengikutinya.

Perbedaan nilai-nilai dalam kehidupan selalu ada perbedaan, nilai-nilai yang dikembangkan disebuah keluarga akan membentuk kepribadian anggota keluarganya. Demikian juga bagaimana keluarga mengatasi perbedaan dan konflik nilai-nilai. Misalnya ada keluarga yang suka membaca dan mengutamakan pendidikan.

Ada yang mengembangkan nilai-nilai sosial dan organisasi. Sebagian yang lain mengutamakan jiwa bisnis dan berwiraswasta. Bahkan ada yang mampu membangun keluarga agamis, meskipun menekuni profesi yang beraneka ragam. Dalam mengatasi konflik nilai-nilai ada keluarga yang otoriter bebas permisif, liberal, sekuler, demokratis, dan agamis.

Baca Juga :   Pengabdian Guru di Tengah Pandemi

Hidup tetap sukses dengan manajemen terhadap konflik, adanya perbedaan adalah fitrah manusia. Apabila secara salah, perbedaan memang dapat menimbulkan pertentangan dan benturan-benturan atau pertikaian. Apabila disikapi dengan benar, perbedaan itu justru menjadi rahmat (kekuatan atau kebaikan).

Kepribadian yang mantap dan matang justru dibentuk melalui proses hidup dan berlatih mengatasi permasalahan atau konflik yang terjadi setiap saat. Buatlah kiat-kiat atau cara bagaimana manusia tetap sukses dalam hidupnya, dengan cara melatih diri mengatasi permasalahan yang terjadi, inilah yang disebut dengan istilah manajemen terhadap konflik.

Contoh sikap dengan istilah manajemen konflik adalah terimalah orang lain apa adanya dan utuh, termasuk sejumlah perbedaan yang ada. Membesar-besarkan perkara yang kecil adalah tindakan yang tidak bijak, menyepelekan atau meremehkan persoalan kecil apalagi mengerdilkan sesuatu yang hakikatnya besar adalah kecerobohan.

Oleh: I Kadek Arsana S.Pd
Guru Kelas VI di SD Negeri Marga Mulya

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.