Mengatasi Rasa Rendah Diri dan Marah dalam Pergaulan

ADA seorang pelajar sering mengeluh tidak bisa bergaul dengan teman-temannya di sekolah. Kalau teman-temannya mengobrol atau bersenda gurau pada waktu istirahat, ia lebih senang menyendiri di dalam kelas atau menjadi pendengar saja. Siswa tersebut sebenarnya ingin bisa bergaul, bersenda gurau dan bermain seperti teman-temannya yang lain, tetapi dia tidak memiliki keberanian.

Dia merasa rendah diri bila bergaul dengan teman-temannya, karena menurut anggapannya dia tidak memiliki kemampuan atau kelebihan seperti yang dimiliki teman-temannya. Padahal, dia termasuk anak yang pandai di kelasnya. Dia baru saja merayakan ulang tahunnya akhir-akhir ini, dia sering murung dan mudah tersinggung, di sekolahpun dia sering menyendiri dan berusaha menjauhi teman-temannya.

Padahal sebelumnya dia tergolong anak yang cerdas dan lincah, di rumah pun dia sering uring-uringan tanpa alasan yang jelas. Tingkah laku yang aneh ini tentu membuat orang tuanya bingung. Setelah melalui pendekatan akhirnya ibunya dapat mengetahui bahwa dia sering diolok-olok temannya karena memiliki jerawat yang besar-besar.

Itulah sebabnya dia tidak mau bergaul lagi dengan teman-temannya. Pergaulan dapat diartikan sebagai suatu kegiatan persahabatan dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam bergaul, setiap orang memiliki cara sikap dan gaya sendiri-sendiri. Perasaan malu dan rendah diri dapat dialami oleh siapa saja tanpa pandang bulu.

Baca Juga :   Pentingnya Aktivitas Olahraga dalam Kehidupan Sehari-hari

Entah si kaya atau si miskin, baik sarjana maupun yang hanya tamatan sekolah dasar, tentu pernah selalu dibanding-bandingkan kemampuan diri mereka dengan remaja-remaja lain yang memiliki kemampuan intelektual lebih tinggi, dan jarang dibandingkan dengan remaja lain yang setara kemampuannya. Akibatnya, bila mereka mengalami kegagalan, maka mereka menjadi kecewa, putus asa, merasa rendah diri dan akhirnya tidak mau berusaha lagi.

Secara keseluruhan penyebab timbulnya rasa rendah diri yaitu penyebab dari dalam individu meliputi hal-hal yang berasal dari keadaan fisik dan mental individu yang bersangkutan seperti cacat tubuh, baik yang diderita sejak lahir ataupun cacat tubuh yang disebabkan oleh kecelakaan. Adanya sifat-sifat seksual yang berlainan, misalnya anak laki-laki yang tingkah lakunya seperti anak perempuan akan sering merasa rendah diri bila bergaul dengan teman sejenis.

Baca Juga :   Tips Cara Menghadapi Masalah Kehidupan

Adanya kepribadian yang lemah, adanya kelainan-kelainan seperti bau mulut, bau badan, dan sebagainya. Penyebab dari luar individu yaitu hal-hal yang berasal dari luar individu yang bersangkutan seperti adanya sikap orang tua yang keliru dalam mendidik anak-anak. Misalnya terlalu melindungi, terlalu memanjakan, terlalu membebaskan, terlalu otoriter dan sebagainya.

Adanya suasana keluarga yang tidak harmonis seperti orang tua yang sering cekcok, sering kawin cerai, dan sebagainya. Adanya perbedaan status ekonomi sosial. Masyarakat kelas bawah, khususnya dalam berhadapan dengan golongan atas biasanya lebih suka diam dan menunduk karena takut salah, takut kurang sopan, takut melanggar, dan sebagainya.

Adanya perbedaan ras atau pun suku, misalnya anak keturunan China yang bersekolah di dalam lingkungan anak-anak pribumi, atau sebaliknya.

Marah adalah luapan emosi yang tidak terkendali, yang mengakibatkan kerugian bagi dirinya maupun orang disekelilingnya. Mengendalikan rasa marah bukanlah perkara yang gampang.

Karenanya tidak heran bila marah ini menjadi problem yang besar bagi remaja yang mendambakan keluhuran budi. Orang yang mampu menguasai diri di saat marah, itulah orang yang perkasa (Sabda Nabi Muhammad SAW). Sebab timbulnya rasa marah karena tabiat atau watak, karena bersenda gurau yang melampaui batas, karena perdebatan yang tidak sehat, karena sombong, rendah diri dan karena sebab-sebab lain.

Baca Juga :   Perlunya Pemerintah Lebih Memperhatikan Pendidikan di Daerah Terpencil

Kondisi yang menimbulkan marah pada remaja yaitu kondisi di rumah meliputi peraturan-peraturan cara berpakaian, pengawasan yang ketat, dibanding-bandingkan dengan saudara tentang kemampuannya, perbedaan pendapat antara para remaja dan orang tua, pembatasan dalam berbagai hal, diperlakukan seperti anak kecil dan bentrok dengan saudara-saudaranya.

Jadi, cara mengatasi rasa rendah diri dan sifat marah semua tergantung bagaimana kita menyikapi dan mengerti akan dunia siswa, anak dan remaja pada khususnya. Sebagai orang tua yang baik dan bijak harus faham dan mengerti dengan semua keadaan sekarang ini yang tentunya tidak dapat di samakan dengan keadaan atau zaman dahulu.

Oleh: Puji Asiati S.Pd
Guru IPS di SMP Negeri 1 Simpang Empat

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.