Siapa Bilang Kita Tidak Bisa?

DALAM hidup ini tentunya kita dihadapkan oleh banyak kejadian atau peristiwa. Bermacam cara kita menyikapi setiap kejadian atau peristiwa tersebut. Kalau kejadian yang menimpa kita membuat hati kita senang, tentunya kita akan tertawa puas tetapi sebaliknya kalau peristiwa atau kejadian itu memilukan tentunya kita akan menjadi bersedih. Yang perlu diingat adalah setiap orang akan berbeda dalam menyikapi atas suatu kejadian atau peristiwa yang sama. Itulah sebabnya kita manusia sering dikatakan mahkluk Tuhan yang unik dan menarik.

Pernahkah kamu tiba-tiba mengalami “blank attack”, misalnya kamu tiba-tiba tidak bisa mengerjakan tugas yang diberikan bapak atau ibu guru dan semua terasa sulit? Atau kamu tiba-tiba dijewer oleh Kepala Sekolah karena atributmu yang tidak lengkap sehingga kamu menjadi sangat malu dihadapan teman-temanmu. Atau kamu merasa stress karena beban tugas yang menumpuk, atau kamu terpaksa harus menjadi kutu buku semalaman karena besok ulangan.

Sering kita menganggap masalah-masalah yang kita alami disebabkan oleh kebodohan atau ketidakberdayaan kita. Padahal kebanyakan dari semua itu disebabkan oleh persepsi kita yang salah dalam merespon kejadian atau peristiwa. Sehingga persepsi yang buruk tadi menjadi self identity kita. Sehingga kita sering mengeluh dan berkeluh, aku bodoh, aku lemah, aku tidak bisa! Dan sebagainya.

Baca Juga :   Mantap! ITS Luncurkan Sapuangin Speed 5

Siapa bilang kita tidak bisa, ungkapan inilah yang mestinya mulai ditanamkan pada diri kita, dan juga kita dengung-dengungkan kepada sesama teman. Kalau perlu, jadikan itu motto hidup kita untuk mencapai sesuatu yang lebih baik. Kalau kita lihat secara statistik, jumlah kelompok usia remaja di negeri ini cukup besar, mencapai 29% dari total penduduk Indonesia. Angka ini memperlihatkan, kalau remaja diberikan ruang dan waktu untuk mengembangkan potensi dirinya, ini akan menjadi kekuatan yang sangat luar biasa.

Jujur saja, selama ini tidak banyak orang yang sedang sukarela membagi pemikirannya untuk kehidupan remaja. Dari waktu ke waktu, remaja menjadi kelompok yang selalu ”dikambinghitamkan” dari berbagai persoalan. Banyak label atau cap yang diberikan kepada kita,”pembuat onar”,”generasi rusak”,”generasi penerus yang pemalas”, dan seterusnya. Memang ada beberapa diantara kita yang terlanjur berperilaku yang tidak sesuai dengan norma masyarakat. Tapi bukan berarti itu menjadi pembenaran bahwa semua remaja adalah kelompok yang selalu menjadi biang dari segala kerusakan.

Baca Juga :   Mengelola Waktu Belajar Secara Efektif

Padahal banyak juga yang justru memiliki kemampuan dan potensi yang membanggakan, tetapi tidak cukup terpublikasi. Prestasi seolah-olah kewajiban yang harus kita realisasikan tanpa perlu mendapatkan imbalan. Siapapun kita tentu tidak ingin dicap sebagai individu yang berperilaku tidak sesuai dengan norma-norma yang ada, itu hal yang manusiawi dan menjadi harapan semua orang. Tetapi tidak adilnya begitu banyak harapan yang dibebankan di pundak remaja. Sementara itu nyaris tidak ada usaha yang sungguh-sungguh dari berbagai pihak untuk menciptakan dunia yang layak bagi remaja untuk hidup, tumbuh dan berkembang sesuai harapan.

Contohnya walaupun ada dan tidak adanya, banyak pusat informasi kesehatan reproduksi remaja yang bisa kita akses untuk mencari tahu perihal tumbuh kembang diri yang sangat kita butuhkan. Sementara itu dunia luar dengan sangat garangnya selalu siap menyuguhkan informasi-informasi yang belum tentu benar kepada kita dengan murah, mudah, dan menyenangkan. Pendidikan seks seolah-olah menjadi sebuah hal yang sangat berbahaya melebihi “penyakit menular” jika diberikan kepada remaja,dianggap tabu, tidak sesuai dengan adat istiadat ketimuran dan masih banyak alasan lain yang menentang alasan itu dilakukan.

Baca Juga :   Menjadi Pribadi yang Mandiri dan Terus Maju

Hingga kini masih banyak yang beranggapan bahwa “pendidikan seks” mengajarkan kepada kita bagaimana cara-cara melakukan hubungan seks. Di sisi lain berbagai penelitian para ahli telah membuktikan bahwa hampir 90% remaja membutuhkan pendidikan mengenai tumbuh kembang dan seksualitas mereka. Bagi mereka yang mendapatkan pendidikan seks yang benar dan bertanggungjawab, lebih mudah memutuskan untuk menunda melakukan hubungan seks di masa remajanya.

Oleh: Baroto S.Pd
Guru IPS di SMP Negeri 5 Satu Atap Satui

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.