Hauling Ditutup, Pengusaha Tongkang Merugi

  • Whatsapp

KabarKalimantan, Banjarmasin – H Safei, salah satu pengusaha tongkang di Kabupaten Tapin, mengaku terpaksa harus menjual asetnya untuk membayar kewajiban ke bank sebesar Rp 1,2 miliar per bulan. 

Penutupan jalan hauling di KM 101 Tapin dalam sebulan terakhir bagi para pengusaha hauling dan tongkang sangat merasa dirugikan. “Bisa rugi hingga Rp 1 triliun. Kerugian ini akan semakin besar jika jalan tetap ditutup,” ungkap H Safei saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan DPRD Kalsel bersama PT Antang Gunung Meratus (AGM) dan PT Tapin Coal Terminal (TCT) di gedung DPRD di Banjarmasin, Selasa (4/1).

H Safei yang juga Ketua Perwakilan Asosiasi Tongkang mengatakan bahwa hampir semua pengusaha tongkang membiayai usahanya dari pinjaman bank. Itu sebabnya, dengan tidak beroperasinya pengiriman batubara oleh PT AGM praktis tidak ada pendapatan.

“Semuanya utang. Tidak ada yang tidak utang. Ini investasi kami, rakyat menggantungkan hidupnya di tempat kami,” kata H Safei. 

H Safei mengungkapkan, agar dapat membayar utang-utangnya, dirinya telah menawarkan tongkangnya ke sejumlah pemilik pelabuhan, namun tak mendapat hasil positif. 

Baca Juga :   Apkasi Temui Wabup Tala dan Insan Pers

“Kami sudah menawarkan kesana kemari, tidak ada yang memakai tongkang. Tongkang kami juga tidak bisa sandar di pelabuhan TCT karena speknya khusus,” ungkapnya. 

Mengingat ancaman kerugian yang terus  membesar, H Safei menegaskan pihak asosiasi akan memaksa untuk bekerja kembali pekan depan. Pihaknya bakal melintas di jalan nasional untuk mengirimkan batubara ke pelabuhan. 

“Tidak ada pilihan lain, disetujui atau tidak, kami akan melintas di jalan nasional. Kami telah mengkaji Perda larangan terkait melintas di jalan, itu hanya mengikat jalan provinsi atau kabupaten,” ungkapnya. 

Seiring dengan rencana tersebut, H Safei berharap PT AGM  selaku pemegang kontrak Perjanjian karya Pengusahaan Pertambahan Batubara (PKP2B), kembali memberikan pekerjaan kepada pengusaha hauling dan tongkang.

“Dengan segala kerendahan hati, kami tidak menuntut kompensasi. Kami meminta pekerjaan. Mustahil Antang bisa membayar utang-utang kami,” tegasnya. 

Dalam RDP di DPRD H Safei juga mengecam tindakan PT TCT yang tidak berniat menyelesaikan masalah. Salah satu buktinya pihak TCT hanya mengirim perwakilan dalam RDP dengan DPRD. Padahal sejak awal DPRD dalam suratnya tegas meminta perwakilan AGM dan TCT harus pihak pengambil keputusan. Ini dilakukan DPRD agar masalah penutupan jalur hauling tuntas hari itu.

Baca Juga :   Club Vespa Kalimantan dan Pulau Jawa Meriahkan Bakantan 3

“Kami melihat begitu kejamnya TCT. Demi mendapat pekerjaan, kami dikorbankan. Karyawan kami tidak kerja,” keluhnya. 

Tri Hartanto, kuasa hukum PT TCT dalam pertemuan di DPRD mengungkapkan bahwa perusahaannya sedang dalam kondisi sulit dan memiliki banyak kewajiban, termasuk utang bank.

“Kami juga ingin survive, kami juga punya karyawan, kami juga investasi, kami juga punya tanggungan di bank. Ini yang harus dipahami. Kami ingin diselesaikan bisnis to bisnis,” ungkapnya.

Dalam RDP kemarin, PT AGM diwakili oleh Direktur Utamanya Widada, direksi dan komisaris. Sementara PT TCT hanya mengirimkan Kuasa Direksi Markus Antonius Wibisono bersama Tri Hartanto.

Baca Juga :   Bupati Barito Utara Buka Musrengbang Tingkat Kecamatan di Montalat

H Safei mengatakan, ketua dewan seharusnya tidak memperbolehkan pihak TCT utk mewakili perusahaan dalam rapat RDP.  Karena yang hadir tidak dapat mengambil keputusan sesuai surat undangan dan maksud serta tujuan pertemuan tersebut.

“Tidak hadirnya direksi atau perwakilan yang dapat mengambil keputusan ini menunjukan arogansi dan melecehkan martabat DPRD Kalsel, termasuk seluruh warga Kalsel. Yang jadi masalah Ketua DPRD Kalsel justru mengijinkan wakil TCT ikut pertemuan yang akhirnya tanpa hasil. TCT juga tidak berani menyampaikan tuntutannya secara terbuka,” katanya.

Jika DPRD konsisten, lanjut H Safei, TCT harus dibekukan usaha dan kegiatannya seperti yang disampaikan oleh ketua dewan saat pertemuan dengan asosiasi dan pekerja hauling serta tongkang akhir Desember tahun lalu.

“Kami masyarakat Kalsel sangat dikecewakan dengan keberpihakan ketua dan anggota dewan yang hadir dengan tidak membekukan ijin TCT. Perusahan itu (TCT) telah bertindak zalim terhadap pekerja hauling dan tongkang di Tapin,” tegasnya.[]

M Ali Nafiah Noor

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *