Guru Profesional di Era Digital

GURU profesional yang ditandai oleh empat macam kompetensi (pedagogik, kepribadian, sosial dan profesinal) sebagaimana tersebut di atas kembali dipertanyakan. Yakni apakah kriteria kompetensi tersebut masih memadai, atau sudah tidak memadai lagi, sehingga perlu adanya penyempurnaan. Dilihat dari segi waktu dirumuskannya kriteria tersebut, yakni sekitar tahun 2008 yang berarti baru berumur 9 tahun, nampak bahwa rumusan kriteria tersebut disusun pada masa  yang sudah masuk ke era digital. Dugaan ini benar adanya, karena di dalam kriteria kompetensi pedagogik dan kompetensi sosial sebagaimana tersebut di atas sudah memasukan unsur teknologi digital.

Pada kompetensi pedagogik sudah dimasukkan keharusan pemanfaatan teknologi pembelajaran; dan pada kompetensi sosial sudah dimasukan menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional. Namun demikian, kriteria kompetensi pedagogik dan sosial tersebut masih perlu disempurnakan karena beberapa alasan. Pertama, jarak waktu sembilan tahun yakni tahun 2008 ketika Undang-undang Nomor 14 Tahun 2008 sampai dengan sekarang untuk melihat perkembangan teknologi digital sudah cukup lama, karena ekspansi dan akselerasi inovasi teknologi digital pada setiap tahun selalu mengalami perkembangan yang luar biasa.

Seseorang yang hidupnya selalu mengikuti perkembangan teknologi digital akan tidak pernah berhenti untuk menyediakan waktu, pikiran dan dana untuk mengadakan, mencari dan memburunya, karena tanpa itu, kelengkapan sarana dan prasarana kehidupannya akan terasa kurang, dan social psychologinya akan terasa terganggu, ia merasa dirinya sebagai orang yang kurang up to date. Selanjutnya, walaupun kriteria guru profesional tersebut di atas sudah bernuansa teknologi digital, yakni menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional serta pemanfaatan teknologi pembelajaran, namun kriteria tersebut belum secara eksplisit menyebutkan teknologi digital.

Teknologi secara harfiah berarti ilmu tentang teknik. Ia merupakan aplikasi dari sintesis sains atau natural sciencies dengan teknik. Sains adalah hasil penelitian empirik berupa observasi dan eksperimen yang dirumuskan dengan bantuan akal pikiran. Sedangkan teknologi adalah aplikasi atau cara-cara penerapan sains dalam realitas kehidupan melalui eksperimen dan kegiatan piloting selama bertahun-tahun. Dengan demikian teknologi adalah hasil penelitian terapan. Penelitian model seperti biaya memerlukan ketekunan, waktu dan biaya yang tinggi. Oleh sebab itu yang akan menguasai perkembangan teknologi adalah bangsa-bangsa yang memiliki etos kerja keilmuan yang tinggi serta anggaran yang besar. Itulah sebabnya, negara-negara yang melahirkan dan mengembangkan teknologi adalah negara-negara yang sudah maju. Amerika, Jepang, Korea,  Finlandia, dan China, misalnya termasuk negara yang melahirkan berbagai teknologi digital yang sangat dinamis, karena bangsa-bangsa tersebut di samping memiliki modal, juga memiliki modal etos kerja dan ketekunan di atas rata-rata bangsa.

Baca Juga :   Bagaimana Mengenal dan Mengeksplorasi Potensi Diri

Teknologi memang buatan manusia, namun ketika teknologi tersebut lahir ia memiliki sifat, karakter, kepribadian, jati diri atau akhlaknya sendiri. Sifat-sifat tersebut pada mulanya dilahirkan dan dilekatkan oleh manusia pada teknologi tersebut. Dengan kata lain, pada teknologi tersebut terdapat sebagian dari hasil akal pikiran manusia. Sebagai hasil dari akal pikiran manusia seharusnya  teknologi  tunduk pada kemauan manusia. Namun dalam realitanya tidak demikian. Teknologi memiliki sifat, karakter, kepribadian, jati diri atau akhlaknya sendiri. Jika seseorang ingin memanfaatkan teknologi tersebut ia harus mengikuti sifat, karakter, kepribadian, jati diri atau akhlaknya sendiri. Tanpa mau mengikuti sifat, karakter, kepribadian, jati diri atau akhlaknya, maka manusia tidak akan dapat memanfaatkan teknologi tersebut. Oleh karena itu orang yang mau memanfaatkan teknologi, harus terlebih dahulu diperkenalkan dan dibiasakan menggunakan teknologi tersebut, melalui kegiatan pelatihan, magang, learning by doing, dan sebagainya.

Teknologi memiliki karakter dan budayanya sendiri. Sebuah cangkul misalnya, adalah teknologi tradisional yang amat sederhana. Namun ketika seseorang akan menggunakannya ia harus mengikuti logikanya, misalnya cara memegangnya, cara mengayunkannya, posisi orang yang menggunakannya, arah yang dikenai sasaran dan sebagainya. Tanpa mau mengikuti logikanya, maka cangkul yang dibuatnya itu akan menjadi “senjata makan tuan”. Ia tidak akan menghasilkan tanah yang gembur, melainkan kaki yang baba belur. Demikian pula teknologi digital, walaupun ia buatan manusia, namun ia memiliki logikanya sendiri. Manusia yang menggunakannya harus mengikuti logikanya itu.

Baca Juga :   Pentingnya Aktivitas Olahraga dalam Kehidupan Sehari-hari

Di antara logika teknologi digital adalah:

1) Sistemik. Yakni bahwa ia dirancang dalam sebuah sistem yang canggih, yaitu suatu keadaan di mana antara satu bagian dengan bagian lainnya saling berkaitan dan berurutan. Satu sistem akan tampil dan berfungsi sebagaimana mestinya, apabila satu sistem yang lain yang merupakan partner yang merupakan pre-requisitenya sudah ada. Karena sistem tersebut selalu di up date, maka seseorang yang akan menggunakannya harus terus mengupdate kemampuan memahami perkembangan sistem tersebut. Sebagai suatu sistem, teknologi digital tak ubahnya seperti anggota tubuh manusia yang antara satu dan lainnya saling berkaitan. Ketika ada bagian anggota badan yang terluka, maka yang merasakannya bukan hanya bagian anggota yang terkena luka itu saja, melainkan sekujur tubuh ikut merasakannya. Oleh karena itu, jika ada salah satu elemen yang rusak, terutama pada elemen yang pokok, maka teknologi digital tersebut tidak akan dapat bekerja, atau akan mati. Jika dalam tubuh manusia, komponen yang paling urgen adalah jantung, maka dalam  teknologi digital adalah chip-nya, jika chipnya dicabut, maka teknologi digital akan berhenti bekerja. Agar seseorang dapat menggunakan teknologi digital secara benar, maka ia harus mempelajari sistemnya, sebagaimana diatur dalam manual books yang dikeluarkan oleh perusahaan atau industri yang mengeluarkan teknologi digital tersebut.

2) Netral. Pada dasarnya teknologi digital atau teknologi apapun bersifat netral. Ia tidak baik atau tidak buruk oleh dirinya sendiri, melainkan amat bergantung pada manusia yang merancang dan menggunakannya. Jika orang yang merancangnya memasukan sistem, program atau menu yang tidak baik, kotor, seperti gambar, video atau film porno, atau tindakan kekerasan, maka teknologi tersebut menjadi kotor, dan orang yang menggunakannya akan terkena pengaruh buruk, misalnya ia terdorong untuk melakukan perbuatan buruk tersebut, seperti melakukan kegiatan pesta seks, pesta minuman keras, tindakan kriminal, dan lain sebagainya. Sebaliknya, jika orang yang merancangnya memasukan sistem, program atau menu yang baik, seperti menu bacaan atau hafalan al-Qur’an, bacaan doa, tausiyah, kegiatan sosial keagamaan dan gambar-gambar yang membangkitkan spiritualitas, maka orang yang menggunakannya akan terdorong untuk melakukan hal-hal yang baik. Dengan karakter teknologi digital yang demikian, maka penggunaan teknologi digital tergantung pada manusia yang merancang dan menggunakannya. Dalam kaitan ini, maka pemberian wawasan yang benar dan komprehensif tentang teknologi digital, serta landasan moral dan etik yang berbasis pada nilai-nilai agama, budaya, tradisi, dan kearifan lokal, nasional dan internasional perlu dimiliki oleh setiap orang yang menggunakannya. (3)Terbatas. Walaupun teknologi digital tersebut sudah semakin canggih dan telah dapat melayani kebutuhan manusia terutama dalam membangun komunikasi dan melakukan tukar menukar informasi, namun ia tetap saja terbatas. Ia tidak dapat berbuat sendiri, tidak bisa menentukan dirinya sendiri, ia tidak memiliki perasaan, keinginan, dan kehendak atas dirinya sendiri. Karena itu, sehebat apapun kemampuan teknologi digital, ia tidak dapat sepenuhnya menggantikan peran manusia. Teknologi sehebat apapun tidak akan dimintakan pertanggung jawaban; yang dimintakan tanggung jawab adalah orang yang menggunakannya.

Baca Juga :   Tugas Kepala Sekolah di Masa Pandemi Covid-19

Sebagaimana telah disebutkan di atas, bahwa sebagai salah satu syarat guru profesional di era digital, adalah seorang guru yang selain memiliki kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial dan profesional sebagaimana telah disebutkan di atas, juga harus memiliki wawasan, ketertarikan, kepedulian, kepekaan, kesukaan, serta kemampuan dan keterampilan dalam menggunakannya.

Oleh: Husnul Khatimah S.Ag
Kepala Sekolah di SMP Negeri 3 Satu Atap Satui

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.