9 Jam Diperiksa Kejaksaan, AT Sumar Beberkan ini

KabarKalimantan, Marabahan – Selama lebih kurang 9 jam diperiksa pihak kejaksaan negeri Barito Kuala yaitu dari pukul 09.00 WITA sampai dengan pukul 18.30 WITA, Ketua Kelompok Tani (Poktan) Mulyo, AT Sumar akhirnya bisa keluar dari Kantor kejaksaan negeri Batola, Kamis (12/05/2022)

At Sumar dipanggil oleh pihak kejaksaan sebagai saksi terkait kasus dugaan tindak pidana korupsi tukar guling tanah desa kolam kanan kecamatan Wanaraya dengan KUD Jaya Utama.

Setelah keluar dari kantor kejaksaan AT Sumar langsung di sambut oleh para petani plasma yang sedari tadi juga setia menunggu di depan kantor kejaksaan.

Salah seorang petani plasma yang juga ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Aspeksindo) Darmono dihadapan awak media mengatakan bahwa kami pada hari ini memang mendampingi petani plasma desa kolam kanan dan ini adalah kali kedua kami mendampingi AT Sumar yang diperiksa oleh Kejaksaan negeri Batola.

Baca Juga :   Ketua DWP Fidriana Akhiri Masa Tugas

Menurut Darmono ini adalah bentuk solidaritas para Petani Plasma terhadap AT Sumar, yang mana beliau diperiksa oleh pihak kejaksaan dari pukul 09.00 WITA sampai habis magrib baru selesai. Kami sebagai petani plasma merasa bahwa kami harus memberikan support kepada beliau, dan kami tidak berbuat apa apa selain diam dan setia menunggu sampai pemeriksaan terhadap AT Sumar selesai. Terangnya.

Dikesempatan itu juga AT Sumar Usai diperiksa mengatakan, bahwa selama diperiksa oleh pihak kejaksaan ada kurang lebih 40 pertanyaan yang di sampaikan kepadanya.

Baca Juga :   Mariana: Bantuan Penanganan Covid-19 di Batola Layak Diprioritaskan

Diantaranya berkaitan dengan keuangan Kelompok Tani selama 9 bulan dalam masa panen sawit yang dikelola oleh kelompok tani yaitu seluas 120 hektare. Dengan sangat detail sekali kemana saja uang itu digunakan dan dikeluarkan untuk keperluan apa saja.

Tapi yang jadi pertanyaan menurutnya mengapa malah lahan seluas 6 hektar tidak dipertanyakan oleh pihak kejaksaan.

Padahal lahan seluas 6 Hektare tersebut oleh pihak kejaksaan telah disita sebagai barang bukti dugaan tindak pidana korupsi tukar guling tanah desa.

Lahan tersebut tidak termasuk dalam 120 hektare yang kami kelola, sehingga kami merasa tidak nyaman dengan pertanyaan pertanyaan yang diajukan pihak kejaksaan tersebut.

Baca Juga :   BINDA Batola Gandeng Ketua MUI Sosialisasikan Vaksinasi

Padahal dalam surat panggilan kami sebagai saksi terkait kasus tukar guling tanah desa, tapi mengapa pertanyaan yang di ajukan pihak kejaksaan tidak terkait dengan kasus tukar guling tanah desa tersebut.

Berkaitan dengan pertanyaan yang secara rinci mengenai keuangan kelompok tani kami oleh pihak kejaksaan , kami menjawabnya juga sesuai apa adanya.

Sempat kesulitan juga mengingat, karena selama 9 bulan keuangan yang kami catat dibuku laporan keuangan itukan saat ini telah disita kejaksaan sehingga sulit untuk mengingatnya. Ungkapnya.

Dalam pemeriksaan selama lebih kurang 9 jam itu, kami diberi waktu untuk sholat dan minum serta tidak ada tekanan dari Tim pemeriksa yang berjumlah 3 orang dengan pendampingnya. Pungkasnya

Mahmud Shalihin

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.