Polres Kotabaru Tetapkan Tiga Tersangka dalam Kasus Penggelapan Uang Hasil TBS

KabarKalimantan, Kotabaru – Polres Kotabaru berhasil mengungkap kasus penggelapan uang hasil Tandan Buah Segar (TBS) yang melibatkan Koperasi Sipatuo Sejahtera.

Hal itu disampaikan Kabag OPS Polres Kotabaru Kompol Agus Rusdi Sukandar, Kasat Reskrim Polres AKP Abdul Jalil dan Kaur Bin OPS Reskrim IPDA Kity Tokan saat pres release di Aula Sanika Satya Wada, Rabu (18/5/2022).

Kapolres Kotabaru AKBP M Gafur Aditya Siregar melalui Kabag Ops Kompol Agus Rusdi Sukandar mengatakan, ada tiga tersangka dalam kasus tersebut, yakni S, K dan N yang masing-masing memiliki peran dalam perkara ini.

“Barang bukti yang kami sita berupa dokumen, baik itu akta pendirian, pendistribusian intensif plasma, buku tabungan, buku rekening dan laporan transaksi lainnya,” ungkap Agus Rusdi Sukandar.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Kotabaru AKP Abdul Jalil mengatakan, perkara itu sebenarnya dari tahun 2017 dan pada tahun 2022 ini perkara itu sudah selesai dituntaskan.

“Pada hari ini juga, salah satu tersangka dan barang bukti akan kami bawa dan diserahkan ke Kejaksaan Negeri Kotabaru, yang artinya perkara ini sudah tahap 2,” jelasnya.

Baca Juga :   PT Arutmin NPLCT Indonesia Akan Membuka Wisata Snorkeling Dan Diving

Dijelaskannya, dalam kasus tersebut salah satu tersangka inisial S, bertindak sebagai Ketua Koperasi Sipatuo Sejahtera. Di koperasi dia mempunyai wewenang, namun pada pelaksanaan dia tidak menerapkan SOP yang ada.

“Artinya dia menyalahi wewenang. Tugasnya sebagai ketua koperasi dibantu oleh kedua rekannya yang berinisial K dan N yang pada hari ini juga telah kita tetapkan sebagai tersangka,” katanya.

Para pelaku, lanjutnya, akan dikenakan Pasal 372 dan Pasal 374 Juncto Pasal 55 dengan ancaman hukuman maksimal 5 tahun penjara.

Sementara modus yang dilakukan pelaku pada saat menjabat sebagai ketua koperasi, sebenarnya tahun 2013 itu sudah ada calon petani plasma sawit yang berjumlah yang sudah terintegrasi di Dinas Koperasi Kotabaru sebanyak 1.470 orang, kemudian mereka menyerahkan lahannya sebagai petani plasma dan mereka bermitra dengan perusahaan, kemudian perusahaan Bumi Raya Invesindo.

Dalam perjalanan waktu, tahun 2015 itu sudah mulai penambahan anggota baru, anggota bertambah sedangkan lahan tidak bertambah, artinya ada penambahan keanggotaan karena disitu ada berupa kartu kuning sehingga kita intipikasi ada penggelembungan kartu kuning, setelah dihitung penyidik penggelembungan kartu kuning ini hampir 3000 lebih atau sekitar 5000 dimana tadinya hanya 1.470 menggelbung menjadi 5000 lebih.

Baca Juga :   TP-PKK Kotabaru Laksanakan Gebrak Masker

Inilah kemudian menimbulkan pertanyaan dari petani plasma yang pertama terkait bagi hasil, setelah kami lakukan pemeriksaan terhadap saksi-saksi mereka ternyata membeli kartu kuning itu berpariatif ada 12 juta, 15 juta sampai 20 juta, jadi kartu kuning itulah tanda mereka masuk sebagai keanggotaan calon petani plasma kelapa sawit Sipatuo Sejahtera, padahal mereka tidak mempunyai lahan dan ini yang dirugikan mereka yang menjadi petani awal, yang pembagian hasilnya lebih tinggi dan lebih bagus, namun bertambahnya anggota sehingga yang petani 1.470 tadi harusnya mendapatkan penuh haknya, kini dibagi bagi ke anggota-anggota lain yang sebenarnya tidak berhak mendapatkan.

Inilah modus yang dilakukan oleh ketua Koperasi Sipatuo Sejahtera dan dibantu kedua rekannya dalam penerbitan kartu kuning dan membantu dalam merumuskan hasil TBS, setelah kita kalkulasi dan audit independen ditabung 2016 ada kerugian yang sangat besar yaitu Rp 1,2 miliar.

Baca Juga :   Lanal Kotabaru Diobrak-abrik Tim Wasrik Inspektorat Koarmada II

Kejadian ini menjadi pembelajaran buat masyarakat kabupaten Kotabaru, tolong berhati-hati lagi dalam berinvestasi, modus yang mereka lakukan itu sebenarnya merupakan pola lama di perkebunan koperasi. Hasil dari penjualan kartu kuning itu dinikmati oleh pengurus koperasi Sipatuo Sejahtera yang sudah kami tetapkan sebagai tersangka. Hasil penjualan kartu kuning fiktip tersebut digunakan para tersangka untuk diri sendiri.

“Kami imbau kepada seluruh masyarakat kabupaten Kotabaru, silahkan datang ke Polsek terdekat atau langsung ke Polres Kotabaru untuk melaporkan sebagai petani plasma yang awal,” ucapnya.

Sebelum kasus ini terungkap petani plasma sebanyak 1.470 anggota resmi awalnya menerima Rp 900 ribu-Rp 1 juta lebih, tapi dengan adanya penggelembungan kartu kuning sebanyak 3 ribu lebih, padahal kartu kuning yang mereka jual tersebut tidak ada lahan plasma sawitnya, maka hasil tersebut di bagi kepada 3 ribu lebih anggota fiktif, yang tadinya menerima Rp 900 ribu menjadi Rp 11.000 saja perpaket dan satu paketnya itu sekitar 2 hektar plasma sawit.

Ardiansyah

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.