Faktor-faktor Penyebab Siswa Putus Sekolah

Oleh: Sunarti S.Pd

Guru Bimbingan Konseling di SMP Negeri 1 Batulicin

ADA beberapa penyebab anak putus sekolah, yakni tidak sanggup membayar SPP, menikah, tak mempunyai ponsel/tidak mampu membeli kuota internet, kecanduan game online hingga meninggal dunia. Faktor ekonomi dianggap sebagai penyebab utama meningkatnya angka putus sekolah sebab kebanyakan siswa berhenti sekolah biasanya karena tidak memiliki biaya sekolah atau harus mencari uang. Putus sekolah umumnya adalah karena faktor ekonomi. Anak akan meninggalkan sekolah ketika tidak mampu membayar uang sekolah, atau tidak mampu membeli perlengkapan sekolah seperti buku, tas atau seragam.

Selain itu, anak dari kalangan miskin sering juga harus membantu orang tua mencari uang dan makan. Akibatnya mereka akan meninggalkan bangku sekolah dan tidak melanjutkan pendidikannya.Upaya menangani putus sekolah dapat berupa upaya preventif (mencegah terjadinya putus sekolah) dan upaya kuratif (penindakan putus sekolah setelah terjadi). Baik orang tua, masyarakat dan pemerintah harus ikut serta. Salah satu cara untuk mencegah putus sekolah adalah membebaskan biaya sekolah. Dengan demikian anak tidak lagi terhambat persoalan biaya, dan dapat terus melanjutkan pendidikannya.

Cara lain mencegah putus sekolah adalah dengan memberi bantuan pendidikan atau beasiswa. Dengan demikian, selain anak dapat sekolah, mereka juga dapat terbantu kebutuhan sehari-harinya. Untuk mengatasi setelah putus sekolah terjadi, pemerintah menyelenggarakan kelompok belajar (Kejar), yaitu Program Kejar Paket A (dengan Ijazah setara Sekolah Dasar), Kejar Paket B (dengan Ijazah setara SMP), dan Kejar Paket C (dengan Ijazah setara SMA). Dengan demikian, anak putus sekolah dapat tetap melanjutkan pelajaran dan memperoleh pendidikan. Faktor lain selain faktor ekonomi yang menjadi penyebab meningkatnya putus sekolah adalah faktor dari kurangnya perhatian orang tua dan keluarga, faktor lingkungan dan budaya, kurangnya fasilitas dan minat dalam bersekolah. Orang tua dan keluarga adalah orang terdekat yang seharusnya bisa memotivasi siswa dalam belajar dan sekolah. Apabila siswa tidak diberi perhatian, kurangnya pengawasan dan motivasi untuk sekolah dari orang tua dan keluarga, maka akan semakin mendorong siswa untuk tidak melanjutkan sekolah.

Faktor dari lingkungan bisa mempengaruhi siswa menjadi putus sekolah. Apabila siswa bergaul dengan orang-orang yang tidak baik dan lebih banyak memberi pengaruh negatif pada siswa maka siswa akan ikut terjerumus kedalam lingkungan tersebut dan bisa menyebabkan putus sekolah. Kurangnya minat dan fasilitas sekolah yang ada juga dapat meningkatkan angka putus sekolah. Siswa menjadi punya rasa malas dan tidak termotivasi untuk sekolah karena tidak memiliki minat dan fasilitas yang kurang di sekolah.

Angka putus sekolah menjadi salah satu pekerjaan rumah yang perlu untuk segera diselesaikan bersama. Pasalnya, tidak sedikit anak-anak Indonesia yang belum bisa merasakan pendidikan sampai ke jenjang yang lebih tinggi. Ada faktor utama yang menyebabkan angka putus sekolah di Indonesia cukup tinggi faktor utamanya adalah kemiskinan. Sebanyak 76 persen angka putus sekolah dan mengapa anak-anak tidak melanjutkan pendidikan didasari oleh faktor ekonomi. Selain pada masalah pendidikan, faktor lainnya yang juga membuat angka putus sekolah tinggi adalah pada kultur yang tertanam di benak para orang tua. Mereka mungkin menganggap buat apa sih sekolah, mending membantu orang tua bekerja. Sehingga bisa mendapatkan penghasilan.

Hal itu juga masih berkaitan dengan ekonomi di mana kesejahteraan menjadi salah satu faktor yang membuat anak-anak Indonesia terpaksa berhenti untuk tidak melanjutkan pendidikan mereka. Sebaliknya, mereka justru sibuk untuk bisa membantu orang tua agar bisa memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. Kalau enggak sekolah kan tenaga mereka bisa dipakai untuk bekerja. Jadi membantu saja, dan itu kembali lagi pada faktor ekonomi. Jika kondisi seperti ini kerap terjadi di daerah-daerah di mana kesadaran untuk tetap meneruskan pendidikan masih rendah. Biasanya itu di daerah, di pedesaan. Mereka biasa membantu orang tua misalnya di kebun karet, sawit, persawahan dan lain sebagainya.

Semua faktor tersebut hendaknya kita semua bisa menanggulanginya tentunya dengan kerja sama yang baik dari berbagai pihak misalnya sekolah, lingkungan keluarga, masyarakat dan tentunya pemerintah yang wajib mempunyai kebijakan-kebijakan untuk bisa meringankan semua pihak agar siswa bisa menikmati pendidikan di Indonesia dengan mudah, nyaman, serta tanpa beban sehingga segala faktor pemicu putus sekolah dapat teratasi dengan baik. Tentunya hal ini yang sangat di harapkan oleh semua kalangan termasuk saya sebagai guru bimbingan konseling disekolah saya berharap jangan ada lagi siswa yang putus sekolah.***

Pos terkait