Ciri-ciri Guru yang Berperan sebagai Pemimpin

Oleh: Andi Jumriati S.Pd

Guru Kelas di SD Negeri Barokah

SETIAP peran sosial manusia pasti mempunyai ciri spesifik yang membedakannya dari peran sosial lainnya. Juga sebagai tanda agar mudah dikenali. Guru harus mampu memposisikan dirinya sebagai pelayan murid, guru tentu saja harus melayani murid. Artinya, guru melayani kepentingan dan kebutuhan murid baik jasmani (otaknya) maupun rohani (spiritualitasnya). Bukan melayani seperti seorang pembantu melayani majikannya. Akan tetapi, lebih seperti seorang ibu melayani anak-anaknya.

Ibu mengandung anak-anaknya dengan keikhlasan dan kesabaran yang luar biasa. Meskipun segala penderitaan, kesusahan dan beratnya kehamilan itu harus dia rasakan dan tanggung sendiri. Tapi demi anak semua kesengsaraan itu dia abaikan. Rasa cintanya yang begitu besar pada sang anak mengalahkan rasa sakitnya kehamilan. Rasa kasih sayangnya, menghilangkan beratnya mengandung.

Seperti itulah guru yang berperan sebagai pemimpin bagi muridnya. Dia akan memberikan yang terbaik yang ada padanya kepada para murid. Laksana seorang ibu memberikan ASI kepada anak-anaknya. Dia ingin para murid menjadi yang terbaik, maka diapun memberikan yang terbaik miliknya. Dia ingin muridnya tangguh dalam menghadapi kehidupan, maka dia berikan imunisasi pendidikan akhlak mulia sebagai bekal mereka.

Guru juga harus mampu sebagai pengkader pemimpin baru, seorang pemimpin baru dikatakan berhasil apabila dia sukses melahirkan para pemimpin setelahnya. Ini artinya selama memimpin dia mengkader orang-orang di bawahnya agar suatu saat kelak menjadi pemimpin sebagaimana dirinya. Kalau dia hanya mementingkan dirinya sendiri atau kelompoknya, maka dia akan melahirkan para penjilat dan oportunis kehidupan, bukan melahirkan pejuang-pejuang yang tangguh.

Begitu juga seorang guru sesungguhnya dia adalah pemimpin bagi murid-muridnya. Oleh karenanya, dia juga harus menyiapkan calon-calon pemimpin sebagai bagian dari tugasnya. Dia harus mengkader murid-muridnya menjadi pemimpin-pemimpin baru, yang akan dia hibahkan atau dia wariskan kepada bangsa dan negaranya. Guru yang berperan sebagai pengkader calon-calon pemimpin laksana pemain catur menghadapi bidak-bidak catur. Dia boleh merasa bangga tetapi bukan karena berhasil menyelamatkan raja dan perdana menterinya dari serangan musuh. Melainkan karena dia berhasil mengantarkan pion sebagai pemimpin baru di papan caturnya setelah melewati berbagai rintangan dan kesulitan.

Dengan bahasa yang sederhana, guru boleh merasa bangga ketika dia berhasil mengantarkan murid-muridnya dari orang yang “bukan apa-apa” menjadi orang-orang berarti bagi kehidupan dirinya sendiri dan bermakna bagi orang lain. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah membawa perubahan yang demikian cepat di segala bidan kehidupan, termasuk juga perubahan perilaku. Dan ini juga berimbas ke dunia pendidikan sehingga hubungan guru-murid yang dulu “sakral” mengalami dekonstruksi.

Guru bukan lagi sosok yang harus dihormati habis-habisan oleh murid sehingga dia harus jaim/jaga imej dengan sikap pura-pura. Relasi guru murid sekarang lebih cair, hangat, dan akrab. Dia lebih mirip teman atau sahabat dari pada guru. Ini memungkinkan murid mengaktualisasikan dirinya lebih maksimal dihadapan guru. Keakraban guru dengan murid bisa melahirkan persahabatan. Persahabatan bisa menciptakan kekuatan, kekuatan akan mewujudkan kejayaan dan kedamaian. Setidaknya ada enam tingkatan sahabat dalam variannya yaitu umat, shahib, qarib, jamaah, ali, dan aulia. Guru yang menempatkan dirinya sebagai sahabat murid pasti akan memberikan yang terbaik bagi murid-muridnya karena dia sedan berhadapan dan mengajar para sahabatnya, bukan orang lain yang mereka tidak kenal. Sehingga dia akan memberikan yang terbaik dalam dirinya kepada para sahabatnya itu.[]

Pos terkait