Terkait Rencana Perluasan Bandara Gusti Sjamsir Alam, Disperkimtan Kotabaru Kumpulkan Warga Terdampak

KabarKalimantan, Kotabaru – Dinas Perumahan Rakyat, Permukiman dan Pertanahan Kabupaten Kotabaru mengumpulkan warga Desa Stagen, Kecamatan Pulau Laut Utara yang rumah dan tanahnya terdampak dari rencana pengembangan Bandara Gusti Sjamsir Alam Kotabaru, Kamis (16/3/23).

Kegiatan tersebut dihadiri langsung Plt Kadis Perkimtan Kotabaru HM Maulidiansyah, Kepala Desa Stagen, perwakilan Bandara Gusti Sjamsir Alam, Babinsa dan puluhan warga kecamatan Pulau Laut Utara.

Plt Kadis Perkimtan Kotabaru HM Maulidiansyah mengatakan, selain untuk mensosialisasikan kepada masyarakat tentang proses dan tahapan pengembangan bandara, termasuk proses pembebasan tanah dengan berdialog langsung, juga dalam rangka pemberitahuan kegiatan pengumpulan dan penyusunan daftar rencana pembebasan yang dilaksanakan oleh konsultan.

Dikatakannya, pembebasan lahan dilaksanakan secara bertahap sesuai jadwal dan prosedur yang sudah disusun berdasarkan ketentuan yang berlaku, setelah penyusunan DPPT ini akan dilanjutkan dengan penetapan lokasi dan penilaian harga tanah atau bangunan oleh lembaga independen.

“Tentunya kita semua berharap harga yang ditetapkan nanti secara wajar dapat diterima semua pihak, baik masyarakat tidak merasa dirugikan dan dari pemerintah juga memiliki cukup anggaran untuk menggantinya, yang jelas ini semua untuk kepentingan umum dan demi kemajuan daerah yang dampak ekonominya bisa mensejahterakan masyarakat ke depannya,” ujarnya.

Sebagaimana diketahui bahwa sejak 2019 lalu, Pemerintah Kabupaten Kotabaru telah berencana untuk memperluas dan memperpanjang runway Bandara Gusti Sjamsir Alam sehingga bisa didarati pesawat berbadan lebar sejenis Boeing atau Airbus. Hal ini tertuang dalam Nota Kesepahaman antara Bupati Kotabaru H Sayed Jafar dengan Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan RI tahun 2019 lalu yang kemudian ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan RI nomor 142 tahun 2019.

Luas lahan yang dibutuhkan untuk pengembangan bandara ini sekitar 79 hektar yang diatasnya sebagian masih lahan kosong, area permukiman, jalan umum, sekolah dan kantor polsek, merupakan tanggungjawab Pemda untuk pembebasannya, sedangkan untuk pembangunan infrastruktur landasan dan fasilitas terminal lainnya menjadi wewenang Kementerian Perhubungan sesuai master plan yang sudah ditetapkan Menteri Perhubungan.

“Lokasi seluas 79 hektar ini akan dibebaskan secara bertahap mulai tahun 2023 ini, menyesuaikan dengan tahapan pembangunan infrastrukturnya. Lahan ini juga telah ditetapkan secara Tata Ruang Wilayah sebagai kawasan Bandara sehingga semua pembangunan harus menyesuaikan, tidak dapat dipergunakan yang tidak sesuai tata ruang,” jelasnya.

Ardiansyah

Pos terkait