Menu

Mode Gelap

Nasional · 29 Des 2017 21:50 WIB ·

Alissa Wahid Bicara Kebhinekaan di SMA Kolese de Britto


 Alissa Wahid berbicara plurarisme dan kebhinekaan di SMA Kolese de Brito Yogyakarta. Istimewa Perbesar

Alissa Wahid berbicara plurarisme dan kebhinekaan di SMA Kolese de Brito Yogyakarta. Istimewa

KabarKalimantan, Banjarmasin – Ada kebiasaan unik di SMA Kolese de Britto, Yogyakarta setiap tanggal 27 Desember. Sekolah tersebut selalu menggelar reuni informal yang bernama Manuk Pulang Kandang (MPK).

Acara ini dipakai sebagai ajang pertemuan bagi alumni yang sedang berlibur di Yogyakarta. Yang menjadi penyelenggara MPK adalah angkatan yang sudah lulus 25 tahun dari Kolese de Britto.

Agak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, MPK 2017 mengambil tema ‘de Britto untuk Kebinekaan’. Tema ini diambil untuk merespon situasi aktual Indonesia dimana terjadi pengerasan dan formalisasi keyakinan di sebagian masyarakat. Hal ini bisa kita rasakan dalam situasi kehidupan sehari-hari kita.

Baca Juga :   Gunung Agung Meletus, Kunjungan Wisman Melonjak

Untuk mendukung tema itu, panitia MPK 2017 secara khusus mengundang Alissa Wahid, Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian dan putri mantan Presiden Gus Dur. Alissa Wahid memberikan pandangannya soal kebinekaan di Indonesia. Dalam pidatonya, Alissa Wahid menekankan perlunya peran kita semua untuk berani melawan konservatisme dan radikalisme.

“Situasi Indonesia sepuluh tahun ke depan tergantung pada keberanian kita bersikap di masa sekarang,” ujar Alissa Wahid melalui keterangan tertulis kepada KabarKalimantan, Jumat (29/12/2017).

Baca Juga :   Menteri Puan Minta Rumah Sakit Utamakan Keselamatan Pasien

Ia menekankan perlunya kelompok-kelompok pro kebinekaan untuk bekerjasama secara lebih erat. Komunitas Alumni SMA Kolese de Britto menyambut baik seruan Alissa Wahid tersebut.

Selain tema kebinekaan, MPK 2017 juga menampilkan pertunjukan kesenian yang dibalut dengan misa ekaristi. Misa kali ini dipimpin oleh Romo In Nugroho SJ dan Universitas Sanata Dharma. Romo In dalam kotbahnya menyampaikan perlunya semangat memberi alih-alih mengambil.
Perjuangan pada kebinekaan tidak mungkin berjalan tanpa semangat memberi. Hal ini sangat penting ditekankan karena semangat dominan yang dimiliki masyarakat saat ini adalah mengambil, merampok, yang berorientasi pada pemenuhan ego semata.

Baca Juga :   Seorang Pekerja Tewas Terjepit Lift

Berbagai pertunjukan kesenian yang ditampilkan dalam MPK 2017 kali ini adalah Wayang Guru oleh dalang Triyanto Hapsoro, gamelan Gangsa Kulila oleh murid SMA Kolese de Britto yang sempat menang dalam berbagai festival gamelan, band Cross Fire, dan kelompok vokal Mlenuk Voice yang menyanyikan lagu misa.

DP

Artikel ini telah dibaca 0 kali

badge-check

Reporter

Baca Lainnya

Ayo Kenali Kalimantan melalui Borneopedia

5 Desember 2021 - 09:06 WIB

Kementerian PUPR Nilai Pembangunan Bendungan Kusan Layak Masuk Tahapan Perencanaan

28 November 2021 - 21:41 WIB

Bappenas Nilai Pembangunan Bendungan Kusan Sangat Prospek 

24 November 2021 - 18:40 WIB

Bupati Noormiliyani Hadiri Festival HAM di Semarang

18 November 2021 - 20:11 WIB

Pemprov Kalteng Rancang Pergub Tarif Media Massa, Humas DPRD Kalsel: Mungkin Patut Dicontoh

9 November 2021 - 19:29 WIB

Pemprov Kalsel Terima Penghargaan Bhumandala Emas 2021

30 Oktober 2021 - 16:36 WIB

Trending di Nasional