Alot, IWO Gagal Tetapkan AD/ART Organisasi

432

KabarKalimantan, Jakarta– Musyawarah Besar Ikatan Wartawan Online (Mubes IWO) pertama resmi ditutup pada Sabtu malam (9/9/2017). Sedikitnya 200-an wartawan dari 31 provinsi menghadiri Mubes IWO yang digelar pada 8-9 September 2017 di Puri Mega Hotel, Jakarta.

Sidang pleno membacakan tiga hasil keputusan rapat Komisi A, Komisi B, dan Komisi C. Komisi A membahas AD/ART IWO, Komisi B membahas kode etik profesi wartawan online, dan Komisi C membahas kesejahteraan anggota. Dari ketiga komisi itu, debat kusir alot antar peserta Mubes ketika menginjak pleno AD/ART IWO.

Salah satu poin yang belum menemui kata sepakat soal makna logo IWO. Logo itu bergambar bola dunia dengan satu tangan menunjuk ke bawah dan dua arah panah ke atas. Selain itu, poin keredaksian soal nama Musyawarah Nasional dan Musyawarah Besar sebagai ajang tertinggi IWO.

Baca Juga :   IWO: Ada Saatnya Tidak Perlu Dewan Pers

“Yang belum menemui sepakat, akan diteruskan ke tim perumus. Ada 10 orang di dalam tim perumus dari Komisi A,” kata Ketua Umum IWO, Jodi Yudono di hadapan peserta Mubes, Sabtu malam (9/9/2017).

Pimpinan sidang menugaskan 10 orang tim perumus AD/ART bekerja salama 30 hari ke depan, terhitung sejak rapat pleno diketuk Sabtu 9 September 2017. Jodi berharap hal-hal prinsip AD/ART segera beres dalam tenggat 30 hari. Setelah itu, IWO akan membawa semua hasil Mubes I ke Dewan Pers.

Panas pembahasan AD/ART IWO sudah terasa sejak pertama rapat Komisi A dibuka pada Jumat malam, 8 September. Setiap utusan IWO provinsi dan kabupaten/kota saling sanggah dan memberi masukan atas draft usulan yang ditulis pengurus IWO. Dimulai pukul 21.00 Wib, rapat sementara ditutup pukul 03.15 Wib.

Gagal mencapai kata sepakat di hari pertama, Komisi A melanjutkan rapat AD/ART di hari kedua Mubes IWO. Dimulai 10 pagi, rapat baru beres pukul 15.00 Wib. Toh, ketika dibawa ke rapat pleno, masih ada peserta Mubes yang protes atas rumusan redaksional AD/ART.

Baca Juga :   IWO: Ada Saatnya Tidak Perlu Dewan Pers

Setelah sidang pleno ditutup, ketegangan sempat muncul antara utusan IWO Kota Medan dan IWO Sulawesi Selatan. Kedua orang itu saling adu argumentasi dan saling tunjuk. Alhasil, wartawan lain lekas melerai keduanya sebelum memicu aksi adu jotos.

Adapun pembacaan hasil kesepakatan pembahasan kode etik wartawan online dan kesejahteraan anggota, nyaris tak ada debat kusir. Pembahasan dan pembacaan hasil rapat Kesejahteraan Anggota paling cepat ketimbang dua Komisi lainnya.

Sementara itu, pengurus IWO, Iskandar Sitorus, mengatakan pembahasan yang alot karena rapat berjalan cukup demokratis. Alhasil, setiap usulan dan debat argumentasi terus bermunculan di tengah pembahasan rumusan maupun sidang pleno. “Ini terlalu demokratis.”

TIM KABARKALIMANTAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here