Sab. Jan 23rd, 2021

Begini Cerita di Balik Lebatnya Pisang Talas di Pegunungan Meratus

2 min read

BARABAI, KK – Pisang talas dan pisang manurun, khususnya di Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah mempunyai kisah tersendiri di daerah itu

Kedua pisang tersebut pastinya memiliki perbedaan dan persamaan. Perbedaan mencolok terlihat dari bentuknya. Kalau pisang talas memiliki ukuran panjang, besar, berisi dan tebal kulitnya.

Sedangkan pisang manurun mempunyai bentuk yang mungil namun berisi, kulitnyapun tidak setebal pisang talas. Sedangkan persamaannya kedua pisang tersebut bisa bertahan lama, karena kulit luarnya agak keras serta memiliki buah yang lebat dalam satu pohonnya.

Said, seorang petani, warga Desa Datar Batung, Kecamatan Batangalai Timur menceritakan kepada Kabar Kalimantan cerita turun temurun di balik lebatnya pisang talas yang ditanam oleh para petani di pegunungan.

Menurut cerita dongeng di daerah itu, zaman dulu ada perjanjian antara pisang talas dan pisang manurun.
Pisang talas akan tinggal di daerah pegunungan sedangkan pisang manurun di dataran rendah. “Begitulah perjanjiannya,” cerita Said.

Makanya, jelas Said, apabila pisang manurun ditanam di gunung maka buahnya tidak bisa lebat. Begitu juga dengan pisang talas yang di tanam di dataran rendah tidak akan tumbuh baik.

“Kalau pisang talas itu ditanam di banua, bisa tumbuh. Namun tidak bisa subur seperti yang ditanam orang kami di pegunungan sini,” jelasnya lagi.

Adapun Bihan, juga warga setempat yang berprofesi sebagai petani mengatakan, perlu waktu sampai delapan bulan sampai bisa panen. Namun itu juga tidak merata, terkadang masih ada yang muda.

“Dari menanam dulu sampai mempunyai tongkol hingga berbuah dan siap panen itu sekitar hampir enam bulan. Itu juga tidak merata, pohon satu dengan yang satunya lagi tidak sama. Jadi semuanya sekitar sembilan bulan,” tuturnya.

Oleh masyarakat setempat khususnya Kalimantan Selatan, pisang talas dan manurun bisa dimakan langsung, namun rasanya sedikit sepat tidak seperti pisang lainnya seperti, pisang susu, ambon dan mahuli.

Biasanya oleh masyarakat pisang talas dan manurun dapat diolah menjadi kue ataupun cemilan, seperti kolak, pisang goreng, kripik dan roti pisang. hnl

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © All rights reserved. | redkal.com by Kabar Kalimantan.