Benih ‘Pamandungan’ Belum Tumbuh Subur

1339

KabarKalimantan, Banjarmasin – Kesenian ‘Bapandung’ seolah hidup segan mati tak mau. Pegiat seni generasi terbaru belum ada yang menceburkan diri menjadi ‘Pamandungan’.

Abdussukur MH bisa dikatakan satu-satunya seniman yang masih konsisten menggeluti seni teater tradisional ‘Bapandung’ hingga kini. Seniman Sanggar Lawang Banjarmasin yang kerap jadi MC di acara-acara kebudayaan formal ini sering mengenalkan ‘Bapandung’, baik berupa petilan maupun utuh. Sayangnya, hampir tidak ada yang melanjutkan langkahnya.

‘Bapandung’ bisa saja sudah punah andai Abdussukur menolak tawaran almarhum Bachtiar Sanderta untuk mempelajarinya. Pada 1995 itu, Syukur bahkan sudah sangat jarang melihat langsung kesenian ‘Bapandung’ yang ditampilkan secara utuh. Berkat keuletannya, ‘Bapandung’ bisa bernafas kembali, meski masih harus megap-megap.

Beberapa tahun silam, Sukur sempat mendirikan Komunitas Pamandungan Kalimantan Selatan. Sejumlah seniman muda bergabung. Sayangnya, kesenian yang mereka geluti sebelumnya lebih populer ketimbang ‘Bapandung’.

Baca Juga :   Menekan Golput, DPD Partai Golkar Kalsel Lakukan Silaturahmi dan Tatap Muka

Benih ‘Pamandungan’ belum bisa tumbuh subur pada komunitas tersbut. Meski Sukur melatih mereka kiat-kiat ‘Bapandung’ untuk dikembangkan, sampai ini, hanya sedikit yang berani menampilkan diri.

“Padahal sudah saya sarankan untuk diadakan pergelaran,” kata Abdussukur.

Menyemai benih ‘Pamandungan’ kembali dilakukan UPTD Taman Budaya Kalsel. Selama 26 sampai 28 Februari 2019, seratus guru Taman Kanak-kanak (TK) dan Sekolah Dasar (SD) diberi pelatihan. Harapannya, mereka bisa menularkan keterampilan ‘Bapandung’ pada murid-murid yang mereka ajari.

Kepala Taman Budaya Kalsel Suharyanti mengaku prihatin dengan kondisi salah satu kesenian daerah Kalsel ini. Ia punya tekad untuk kegiatan itu berkesinambungan.

“Kalau bisa ini nanti dilanjutkan dengan lomba,” ucapnya.

Sebagai kekayaan budaya masyarakat Kalsel, ‘Bapandung’ masih minim dokumentasi. Teater monolog ala Banjar yang satu ini adalah salah satu yang belum rercatat dalam Warisan Budaya Tak Benda (WBTB).

Baca Juga :   Taman Budaya Kalsel Gelar Madihin Gaya Baru

Perihal tersebut, jalan panjang harus ditempuh. Agar kebudayaan daerah masuk WBTD, pengusulannya harus disertai hasil riset dalam bentuk tulisan. Selain itu, komitmen pengusul juga harus diyakinkan dalam bentuk konsep yang jelas.

M Ali Nafiah Noor

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here