Berkumpul Menonton Sekumpul Teater

1168

 

KabarKalimantan, Banjarmasin – Memasuki ruangan Wargasari Taman Budaya Kalsel, penonton Sekumpul Teater wajib melepas alas kaki.

Sebelum pentas digelar, tata aturan menonton diperdengarkan. Sementara ruangan masih gelap.

“Untuk menonton teater, kita harus berperilaku seperti yang diajarkan guru-guru kita,” kata seorang pria dari kegelapan ruangan.

Musik bernuansa pop kekinian mengalun. Sesama masih asik bercengkerama. Pintu gedung belum ditutup, belum ada tanda pentas akan dimulai.

Begitu musik disetop, ucapan selamat datang diucapkan. Masih dalam suasana gelap.

Pentas berjudul “Komandan Komedi” pun dimulai. Naskahnya dikarang Angga Buana Jaya yang sekaligus menyutradarai.

Bercerita tentang dua kelompok manusia lucu yang berebut sebuah kunci. Pertikaian ditengahi seorang wasit layaknya pertandingan sepakbola. Tidak ketinggalan petugas kesehatannya.

Akhir cerita dibuat mengagetkan. Semua yang terlibat pertikaian ternyata penghuni rumah sakit jiwa. Si wasit sendiri tidak lain ialah dokternya. Komandan Komedi dipentaskan dua kali, sore dan malam pada Sabtu (29/6/2019).

Baca Juga :   Benih 'Pamandungan' Belum Tumbuh Subur

Sekumpul Teater merupakan salah satu kelompok teater indipenden di Banjarmasin. Didirikan Angga Buana Jaya dan kawan-kawan sejak 12 Desember 2017.

Namanya memang identik dengan nama kawasan pengajian ulama kharismatik Kalimantan Selatan, KH Muhammad Zaini A Ghani (Guru Ijai) di Martapura. Meski demikian, ternyata ada arti lain dari Sekumpul tersebut. Sekumpul adalah singkatan dari sering kumpul.

“Memang ada beberapa anggota mengidolakan sidin. Jadi tanggungjawab kami juga agar Sekumpul Teater bisa memberi contoh. Jangan sampai kesenian membawa ke arah negatif,” kata Angga menerangkan.

Seperti yang tertuang dalam lakon “Komandan Komedi” yang mereka pentaskan, pesan dibungkus lewat tingkah aktor-aktornya. Komedi dijadikan sebagai sarana pendidikan.

Semangat itu juga mereka lambangkan lewat sebuah jargon, “Pajah Bapira.” Dalam bahasa Banjar, pajah berarti mati, sedang bapira adalah istilah untuk menjelaskan kondisi buah-buahan yang busuk bagian dalamnya.

Baca Juga :   Paman Birin Inginkan Taman Budaya Kalsel Bertaraf Internasional

Soal pilihan mereka pentas di Gedung Wargasari Taman Budaya Kalsel rupanya tidak sesuai rencana awal. Niat ingin pentas dengan fasilitas cukup pun mesti direlakan.

Taman Budaya Kalsel padahal punya gedung pertunjukkan khusus, Gedung Balairungsari namanya. Dari jadwal yang direncanakan awal, Sekumpul Teater harus rela mengulur waktu. Gedung tujuan sudah dipesan komunitas pecinta budaya pop Korea.

Meski sudah diundur waktunya, Gedung Balairungsari lagi-lagi sudah terpesan. Sekumpul Teater pun pentas dengan fasilitas seadanya. Itu pun hasil minjam dari kelompok lain.

Karena tak ada kursi penonton, jadilah pentas mereka disaksikan dengan posisi lesehan. Itu lah alasannya nonton wajib lepas alas kaki.

“Untungnya ada karpet. Dipinjamkan setelah dipakai acara yang di depan siang tadi,” ucap Angga.

Reporter : M Ali Nafiah Noor
Redaktur : Suhaimi Hidayat
Penanggungjawab : M Ridha

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here