Jum. Sep 25th, 2020

BI Kalsel Minta Daerah Manfaatkan Momentum Penurunan Suku Bunga

2 min read

KabarKalimantan, Banjarmasin– Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kalimantan Selatan, Harymuthy Gunawan, mengatakan pertumbuhan kredit perlu terus didorong di tengah kebijakan pelonggaran moneter.

Menurut Harymurthy, BI sudah dua kali menurunkan suku bunga acuan pada 22 Agustus dan pertengahan September 2017. Pada 22 Agustus lalu, kata Hary, BI menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin, dari 4,75 persen ke 4,50 persen.

Adapun pada pertengahan September, BI kembali menurunkan suku bunga sebesar 25 basis poin, dari 4,50 persen ke 4,25 persen. Harymurthy berharap pemerintah daerah, perbankan, dan pelaku usaha memanfaatkan kebijakan bank sentral itu demi memacu pertumbuhan ekonomi di Kalimantan Selatan. Perbankan diminta menggenjot kredit produktif di tengah pelonggaran moneter.

“Kebijakan Bank Indonesia yang terkait dengan suku bunga lebih dipahami semua pemangku kepentingan agar lebih efektif, baik pemerintah, perbankan, dan investor bisa memanfaatkan kelonggaran moneter untuk memacu pertumbuhan ekonomi di Kalimantan Selatan,” ujar Harymurthy di sela membuka Seminar Nasional Memanfaatkan Momentum Penurunan Suku Bunga Kebijakan Dalam Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Kalsel, Rabu (27/9/2017).

Baca Juga :   BI Kalsel Kunjungi SD Muhammadiyah

Ia mengakui pertumbuhan ekonomi Kalsel sempat terpukul setelah ekspor batubara dan minyak sawit mentah terpuruk pada dua tahun lalu. Itu sebabnya, Harymurthy meminta pemerintah mesti mendorong dunia usaha UMKM, potensi pariwisata, dan potensi ekonomi lain yang berkelanjutan untuk menopang perekonomian lokal.

Asisten I Bidang Pemerintahan Pemprov Kalimantan Selatan, Siswansyah, mengatakan Pemprov Kalsel terus memacu investasi sektor-sektor baru demi mendongrak pertumbuhan ekonomi Kalimantan Selatan. Pemprov Kalsel, misalnya, memudahkan investasi dengan pelayanan terpadu satu pintu.

Pemerintah pun mendorong berkembangnya UMKM melalui program kredit usaha rakyat dengan bunga 9 persen. Siswansyah mengakui ada perlambatan perekonomian Kalsel pada periode 2012-2015 seiring anjloknya permintaan ekspor batubara.

“Tahun 2011, pertumbuhan ekonomi di Kalsel sebesar 7 persen, kemudian turun ke 6 persen pada 2012, dan turun lagi ke 3,8 persen pada 2015,” kata Siswansyah.

Perekonomian Kalsel baru meraih momentum perbaikan ekonomi pada 2016. Pihaknya juga menaikkan belanja pemerintah 15 persen dari besaran APBD murni 2017 sebesar Rp 6,1 triliun. Selain konsumsi rumah tangga, ia berharap belanja pemerintah ini efektif menopang pertumbuhan ekonomi.

Baca Juga :   BI: Ada Peluang Besar E-Commerce di Kalsel

“Semoga hasil seminar ini bisa mendorong kemajuan perekonomian di Kalimantan Selatan,” kata Siswansyah.

DIANANTA PUTRA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © All rights reserved. | redkal.com by Kabar Kalimantan.