Sel. Jun 15th, 2021

Cara Berperilaku yang Baik dalam Berkomunikasi

3 min read

SETIAP detik manusia selalu berkomunkasi antara satu dengan yang lainnya, manusia senantiasa berbicara dan berkomunikasi. Komunikasi adalah proses penyampaian pesan yang sedang berlangsung sedemikian rupa, sehingga sebuah pesan dapat diterima dengan utuh dan benar seperti yang dihendaki si pengirim.

Pesan-pesan dapat dikomunikasikan seseorang umumnya berupa informasi, berita dan data. Namun dapat pula berbentuk pertanyaan, ajakan, nasehat, atau ucapan selamat. Oleh karena itu dikenal pula jenis komunikasi satu arah dan komunikasi dua arah. Banyak masalah muncul karena tidak adanya komunikasi. Kesalahpahaman, salah persepsi, salah sangka, dan konflik bisa terjadi karena kurangnya komunikasi.

Program kerja organisasi tidak terlaksana juga akibat terputusnya komunikasi. Perusahaan tidak berkembang baik kalau jajaran pimpinan dan karyawan komunikasinya tidak optimal. Dalam kenyataan kehidupan sehari-hari, di manapun dan kapanpun kita berada, serta dengan siapapun kita berkomunikasi, sering atau kadang-kadang terjadi pembiasaan sikap perilaku positif secara sepontanitas saat kita berkomunikasi dengan orang lain.

Pembiasaan dapat terjadi dalam bentuk verbal, refleksi gerakan fisik, tampilan bahasa tubuh, dan lain sebagainya. Dalam bentuk verbal misalnya disaat orang lain berbicara biasanya spontan kita berkata “iye” atau “iya” dan sebagainya. Dalam bentuk gerakan fisik misalnya saat kita berbicara ataukah orang lain berbicara biasanya kedua tangan sepontan pindah atau bergerak atau berada pada bagian depan bawah perut, dan sebagainya.

Dalam bentuk bahasa tubuh misalnya, di saat orang lain berbicara biasanya secara sepontan posisi mulut dan bibir senyum simetris, dan sebagainya. Berikut adalah sebuah kemampuan mendengar yang baik yang perlu dilatih atau dikembangkan dan sejumlah perilaku mendengar buruk yang perlu dihindari.

Kemampuan memproses informasi yaitu berusaha memahami pesan, berfikir ke depan, menarik kembali kritikan. Kemampuan mendengar reflektif yaitu merangkai pesan dengan kata-kata sendiri, membuat pesan lebih jelas, meringkas komentar pembicara. Kemampuan memberi isyarat nonverbal yaitu mengarahkan pandangan kepada si pembicara, tersenyum dan memperhatikan.

Kemampuan memberi semangat berupa membuka percakapan “Anda kelihatan bahagia hari ini”, menggali pembicaraan dengan pertanyaan terbuka “apa yang terjadi”, memberi dorongan singkat “o…ya”, ”bagus”, ”teruskan”, diam atau tidak menyela pembicaraan orang lain secara sopan.

Kebiasaan buruk komunikasi dalam kenyataan kehidupan sehari-hari dimanapun dan kapanpun kita berada, serta dengan siapapun kita berkomunikasi sering atau kadang-kadang terjadi pembiasaan sikap perilaku positif secara sepontanitas disaat diri kita berkomunikasi dengan orang lain. Pembiasaan dapat dalam bentuk verbal, revleksi gerakan fisik, tampilan bahasa tubuh dan lain sebagainya.

Kebiasaan atau tingkah laku buruk penghambat komunikasi contohnya berprasangka atau berpraduga yaitu mengkritik (“itu tidak ekonomis, kita sedang mengalami kesulitan uang”), mendiagnosa (“anda tahu apa masalah anda”), menilai (“tetaplah bekerja dengan baik”). Cara menyampaikan pemecahan masalah yang tidak baik yaitu memerintah, menakut-nakuti, dan memberi pelajaran.

Adapun contoh komunikasi lain yang tidak baik adalah penghindaran misalnya mengalihkan pembicaraan, bereaksi secara emosional misalnya memotong pembicaraan, membantah, dan mengkritik dengan tajam. Contoh lain misalnya menyampaikan isyarat tidak menarik perhatian, menjauhi sipembicara atau cuek, bertolak pinggang sambil menunjuk-nunjuk, pandangan kosong dan tidak mengarahkan pandangan kepada lawan bicara.

Bagaimana menjadi pembicara yang efektif? Tentu bukan hal yang mudah dan tidak boleh diremehkan, ada tiga macam perilaku berbicara dalam berkomunikasi yaitu perilaku agresif, pasif dan asertif. Perilaku berbicara agresif adalah cara berbicara yang bersifat konfrontasi, keras dan kasar. Perilaku pasif adalah si pembicara berusaha menyenangkan lawan bicara, cenderung berbicara secara halus, khawatir melakukan kesalahan.

Sedangkan perilaku berbicara asertif adalah berbicara secara jujur,langsung,dan berorientasi pada tujuan,menggunakan kemampuan mendengar aktif.Perilaku asertif cenderung membina sesuatu dalam hubungan positif jangka panjang, saling menghormati dan saling memuaskan kepentingan lawan bicara.

Jadi, apapun yang kita komunikasikan terhadap orang lain baik buruknya kita di mata mereka akan tampak dan terlihat dari bagaimana cara kita menyampaikan komunikasi tersebut. Membiasakan menyampaikan sesuatu meskipun kondisi dan situasi mengharuskan kita marah atau emosi harus tetap dengan cara penyampaian yang baik dan mudah dimengerti orang lain dengan cara yang tentunya baik dan tepat.

Oleh: Lisa Andriani, S.Pd.I

Guru Matematika di SMPN 8 Satap Mantewe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © All rights reserved. | redkal.com by Kabar Kalimantan.