Caronong Samudera di Gedung Sultan Suriansyah

1103

KabarKalimantan, Banjarmasin – STKIP PGRI Banjarmasin masih konsisten menggelar pertunjukkan tahunan mereka di Gedung Sultan Suriansyah Banjarmasin.

Gelaran yang bertujuan sebagai ujian mata kuliah mahasiswa Program Studi Seni Tari itu pun menampilkan kisah Pangeran Samudera yang kemudian dikenal dengan Sultan Suriansyah. Pementasan digelar dalam dua sesi, siang dan malam, Sabtu (2/2/2019).

Karya yang berjudul “Caronong Samudera” itu merupakan persembahan kolosal ketiga setelah dua karya kolosal STKIP PGRI Banjarmasin sebelumnya, yakni “Ramayana Full Story” pada 2017 dan “Manjalung Ratu Zaleha” pada 2018.

Jika dua karya sebelumnya berbentuk sendratari, kali ini mereka mencoba untuk menampilkan sajian dalam bentuk yang berbeda, yaitu memasukkan unsur lagu dan dialog yang dilagukan.

Judul ini mengangkat kisah hidup sang ahli waris kerajaan Negara Daha, Pangeran Samudera yang dilarikan dari istana karena terjadi intrik perebutan takhta dalam istana. “Sesuai dengan komitmen dan visi misi Program Studi Pendidikan Seni Tari STKIP PGRI Banjarmasin, maka nilai pendidikan dan kearifan lokal semaksimal mungkin diakomodir di dalam karya,” ujar Ketua Program Studi Pendidikan Seni Tari STKIP PGRI Banjarmasin Suwarjiya yang sekaligus menyutradarai pementasan tersebut.

Baca Juga :   Menekan Golput, DPD Partai Golkar Kalsel Lakukan Silaturahmi dan Tatap Muka

Babakan kisah klasik tentang trah raja-raja Banjar tersebut diuraikan dengan padat. Kisah dimulai dari babak Maharaja Sukarama yang memberi wasiatnya sebelum moksa. Pangeran Samudera kemudian besar dalam pelariannya dengan menyamar sebagai pencari ikan. Kisah pun berakhir sampai Pangeran Samudera mendapatkan takhtanya kembali.

Suwarjiya menjelaskan, penamaan bentuk opera diputuskan setelah melalui diskusi dengan akademisi tari yang ahli dalam bidangnya. “Setelah melalui proses panjang dengan bantuan, arahan, dan masukan dari berbagai narasumber, karya ini dapat diselesaikan,” katanya.

Sayangnya, pergelaran tersebut rasanya cukup melelahkan untuk dinikmati. Musik dan lagu-lagu hampir tak diberi jeda. Lirik-lirik sebagai dialog dan narasi bahkan perlu perhatian ekstra untuk ditangkap. Sampai-sampai, seolah tak ada dramatik yang diatur untuk diikuti dan dinikmati. Hanya serangkaian lagu yang divisualkan dengan adegan tari.

Sebagai kisah bertema sejarah, Opera Caronong Samudera tak memberikan hal baru. Plotnya tak ubahnya dengan yang sudah-sudah. Sudut pandangnya pun demikian.

Baca Juga :   Menjadi Aktor Harus Iklas

Pangeran Samudera ditampilkan sebagai peran utama. Sesuai dengan judul, Raja Islam pertama itu dianggap punya andil besar dalam gerak sejarah di Banua. Apapun yang terjadi, haknya sebagai pewaris takhta tak bisa dibantahkan.

“Karya ini juga dibuat berdasarkan studi pustaka, antara lain buku Sejarah Banjar, Hikayat Banjar, Urang Banjar dan Kebudayaannya, dan Sultan Suriansyah Pioner Dakwah Islam di Tanah Banjar,” ujar Suwarjiya.

M Ali Nafiah Noor

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here