Cerita Amang Ojek Ketipu Orderan Fiktif di Banjarmasin

1677
Ilustrasi Amang Ojek. Layanan transportasi online ini asli Kota Banjarmasin.

KabarKalimantan, Banjarmasin- Layar monitor komputer itu menampilkan puluhan baris orderan ojek dan pesanan makanan. Mayoritas baris berkelir hijau dengan kombinasi selang-seling baris kelir merah. Garis berkelir hijau menandakan driver online mengambil pesanan itu.

Tampilan warna hijau ini cocok dengan google map yang terpampang di layar monitor komputer. Si pemesan terpantau di google map. Melalui peta titik koordinat semacam itu, driver online dan admin tahu apakah pesanan fiktif atau tidak.

Adapun garis berkelir merah mengindikasikan driver online menolak orderan karena dugaan fiktif. Indikasinya, driver online dan admin mencurigai jarak tempuh si pemesan cukup pendek dan peta titik koordinat tidak menampilkan posisi si pemesan.

Satu dari sekian puluh orderan fiktif itu atas nama akun Wildan Farizan dengan nomor telepon 089658285951. Melalui aplikasi itu, Wildan meminta pesanan dikirim ke alamat: Jalan Rambey Sisaat. Setelah dicek di google map, alamat dan sosok si pemesan tidak terekam di titik koordinat google map.

Baca Juga :   PDAM Klarifikasi Soal Pipa yang Belum Dipindah di Jembatan Sungai Gardu I

“Alamatnya ada di daerah Jawa Barat. Ada lagi yang titik koordinatnya di laut, enggak mungkin pemesan dari laut di daerah Afrika,” kata pemilik Amang Ojek, Nicko Fariski kepada KabarKalimantan, Minggu sore (24/9/2017).

Menurut Nicko, driver online sudah tahu gelagat apakah pesanan itu fiktif atau tidak. Pesanan fiktif, kata Nicko, bisa dilacak dari nomor telepon si pemesan tidak aktif, pesanan tidak wajar, dan tempat serah terima pesanan mencurigakan seperti di kawasan rawan dan hotel. “Meski akan dikasih Rp 50 ribu, driver enggak mau ambil,” Nicko melanjutkan.

Berdiri sejak 30 Oktober tahun lalu di Kota Banjarmasin, Amang Ojek kerap menerima orderan fiktif. Nicko mengatakan Amang Ojek rata-rata mendapat dugaan order fiktif sebanyak 20 kali dalam satu bulan. Namun, dari 20-an dugaan order fiktif, driver tidak memproses semua pesanan itu.

Baca Juga :   2018, DBD Sudah Menelan Satu Korban Jiwa

Alhasil, Nicko menyarankan driver mesti hati-hati dan selektif ketika memproses orderan pelanggan. “Mungkin hanya lima yang diproses, tapi setelah diantar ternyata fiktif. Yang lima belas sisanya enggak rugi karena tidak diproses,” ujar Nicko.

Kalaupun orderan diambil dan driver ketipu pesanan fiktif, manajemen Amang Ojek dan driver patungan fifty-fifty mengganti kerugian. “Kami tetap menanggung lima puluh persen dari harga orderan,” kata dia, seraya menambahkan Amang Ojek saat ini punya 62 driver ojek motor dan tujuh driver taksi online.

Toh, walau di bawah bayang-bayang order fiktif, usaha semacam ini mendatangkan keuntungan lumayan. Untuk sekelas Amang Ojek, Nicko bisa mendulang laba bersih minimal Rp 6 juta per bulan. “Ya lumayan, Alhamdulilah,” ujar dia.

Nicko merogoh kocek sebanyak Rp 30 juta untuk modal awal membangun usaha transoprtasi dan layanan online ini. Duit sebanyak itu dibuat membeli properti driver, perlengkapan kantor, operasional, dan pemasangan aplikasi.

Baca Juga :   Paman Birin Sebut Komisi Penyiaran Indonesia Semakin Berkualitas

DIANANTA PUTRA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here