Di Balik Sukses HTD 2019

1950

KabarKalimantan, Banjarmasin – Perayaan Hari Tari Dunia (HTD) 2019 di Kalsel menyisakan beragam kesan. Di balik panggung Bakhtiar Sanderta, panitia pelaksana mengukir cerita.

Selama dua hari, sedikitnya ada 54 penampil karya tari di Panggung Terbuka Bakhtiar Sanderta Taman Budaya Kalsel. Berbagai macam bentuk tarian silih berganti unjuk gigi. Hari pertama, Sabtu (27/4) malam, ada sepuluh lebih kelompok tari tampil sebagai pembuka. Sisanya menumpuk di hari kedua, Minggu (28/4) siang hingga malam.

Tak sekadar menanti sorak dan tepuk tangan penonton, ada semacam gengsi tersendiri ketika tampil dalam momen tahunan itu. Tak ayal karya yang ditampilkan pun terlihat seperti sudah dengan persiapan yang tak bisa dibilang seadanya. Mulai dari kostum yang meriah, hingga alat musik yang beraneka ukuran diangkut ke atas panggung.

Pemandangan menarik juga muncul di barisan penonton. Tak kalah dengan suasana lomba dan festival sejenisnya, ada kompetisi yang berarti jika dilihat dari respon penonton. Mereka seolah menjadi juri, yang mendapat tepuk tangan paling meriah dari mereka layak berbangga.

Antusias penonton pun perlu diacungi jempol. Jumlah kursi yang tidak mencukupi, tak mengurangi kenikmatan untuk menyaksikan setiap karya yang ditampilkan. Beruntung, meski sempat turun, hujan tampak tidak begitu mengganggu.

Selama lima kali dirayakan, HTD yang sedari pertama kali dilaksanakan ini diawaki Ekselcior Dance Project Banua, berhasil jadi acara yang ditunggu-tunggu. Di balik sukses tersebut, ada kaum militan yang bekerja siang malam dan hujan panas demi lancarnya even bersama.

HTD 2019 sudah dipersiapkan dari jauh-jauh hari. Sejak Februari lalu segala konsep dan perencanaan dimatangkan. Memasuki pertengahan April, kerja mereka semakin berat untuk pembuatan panggung yang megah.

Menurut sang Ketua Pelaksana HTD 2019 Hafizah, tidak sedikit panitia berjatuhan. Ada yang jatuh sakit, ada juga yang jatuh dalam arti sebenarnya. Khususnya yang mendapat tugas memasang material panggung di tempat yang agak tinggi.

“Faktor cuaca tidak menentu. Sebagian juga kelelahan akibat rata-rata panitia punya kesibukan di luar juga,” terang Hafizah.

Meski demikian, mereka tampak tak jera. Ada kesan tersendiri yang mereka rasakan ketika melayani ratusan penari dari bermacam komunitas. “Ada peserta yang memberi hadiah kue pada panitia. Mereka mengaku suka dengan acara ini,” tambah mahasiswi STKIP PGRI Banjarmasin itu.

Di balik panggung lain cerita lagi. Kemeriahan yang dirasakan penonton tak sama rasanya bagi panitia. Mereka yang sibuk mengatur antrean peserta yang hendak tampil, hanya bisa memandang dari layar proyektor.

Setiap tahun tentu ada perbedaan. Jika pada pelaksanaan sebelumnya ada eksebitor dari luar daerah, kali ini semua penampil murni pegiat dari Kalsel. Ada kesan jika kegiatan ini mencoba mengakomodir para pecinta seni tari untuk naik panggung.

Hal itu juga diungkapkan Kepala UPTD Taman Buday Kalsel Suharyanti. HTD menurutnya ialah even yang harus dijaga. Kesenian tari yang beragam, baik dalam bentuk tradisi, modern, dan kontemporer harus mendapat ruang. HTD menjadi momen yang tepat.

“Kali ini kita fokus di dalam dulu. Ini pun belum semua komunitas kita bisa tercover,” ucapnya kepada wartawan.

Suharyanti mengungkapkan, HTD memberi ruang bagi masyarakat untuk memahami seni tari sebagaj warisan budaya milik daerah. Meski banyak hal-hal modern yang juga masuk di sana, pegiat tari harus mampu beradaptasi. “Dalam pelestarian daerah, tradisi harus diinovasi juga dengan modern. Sehingga ada bentuk pertunjukkan baru,” katanya.

Reporter : M Ali Nafiah Noor
Redaktur : Suhaimi Hidayat
Penanggungjawab : Muhammad Ridha

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here