Ditertibkan Satpol PP, Siti Berusaha untuk Tenang

166

KabarKalimantan, Banjarmasin – Tubuh Siti gemetar layaknya orang kedinginan. Perempuan berusia 42 tahun ini berusaha menutupi kegugupannya dengan bersikap tenang. Maklum, dia baru pertama kali berhadapan dengan Satpol PP.

Siti merupakan salah seorang penghuni kolong Jembatan Pangeran Antasari dimana lapak tempat tinggalnya dibongkar Satpol PP dan Damkar Banjarmasin, Rabu (1/8/2018).

Janda beranak satu ini mengaku terpaksa tinggal di kolong jembatan. Alasanya karena tak mampu menyewa rumah. Terlebih suami Siti baru saja meninggal, dan anaknya berada di RSJ Sambang Lihum. “Kalau sudah begini paling saya akan tidur di dekat sini juga beralas kardus,” ucapnya.

Siti mengaku sehari-hari mencari rezeki dengan bekerja sebagai buruh pengupas bawang. Kadang-kadang jika pekerjaannya kosong, dia terpaksa mengumpulkan kardus bekas untuk dijual.

“Mau nyewa rumah mahal, ongkosnya lima ratus ribu sebulan. itu pun orang minta bayar enam bulan di depan. Jadi bayar tiga juta. Mana saya punya duit,” keluhnya.

Baca Juga :   Pemilik Bangunan Keluhkan Pendeknya Jangka Waktu Pembongkaran

Semantara itu, Komandan Pleton (Danton) I Satpol PP dan Damkar Banjarmasin Rizkan Wahyudin mengatakan, ada beberapa wajah baru yang mereka dapati. Dia menduga mereka merupakan warga pindahan dari kawasan Muara Kelayan yang tempat tinggalnya baru saja dibebaskan.

“Ada delapan blok, kalau jumlahnya sekitar lima belas orang. Mungkin pindahan dari Muara Kelayan. Karena baru sekitar satu dua bulan saja tinggal di sini. Dan ini kami akan melakukan pendataan,” imbuhnya.

Melihat kembali maraknya soal penghuni kolong jembatan, Rizkan berjanji akan terus melakukan pemantauan agar mereka tidak kembali bermukim. “Ini lokasi yang keempat kami tertibkan. Sebelumnya di bawah jembatan Merdeka juga ada satu keluarga di sana. Setelah ini akan kami akan pantau terus agar mereka tidak kembali lagi bermukim,” katanya.

Dia menyadari, jika akhir-akhir ini Satpol PP sempat lengah dalam menangani penghuni di kolong jembatan. Mengingat banyaknya tugas lain yang dikerjakan. Dia berharap, Instansi terkait lainnya, seperti Dinas Sosial misalnya bisa membantu menangani permasalahan tersebut.

Baca Juga :   Pembebasan Lahan Wilayah Banjarmasin untuk Peningkatan Jembatan Alalak Tergolong Alot

“Kalau untuk pembinaan dan solusi itu ada di Dinsos. Mereka kan warga Banjarmasin juga. Cobalah Dinsos datang ke sini, bagaimana supaya mereka mendapat kehidupan yang layak. Karena memang Dinsos hampir tidak ada memperhatikan orang bawah jembatan,” pungkasnya.

M Syahbani

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here