Euforia Kemegahan ‘Karna’

218

KabarKalimantan, Banjarmasin – Gelaran Sendratasik Berkarya makin tahun makin meriah saja. Seperti yang baru tadi, pentas digelar di ruang terbuka Universitas Lambung Mangkurat pada Sabtu (4/1/2020) malam.

 

“Saya merasa dejavu. Saya kira ini di pelataran Candi Prambanan,” ucap Walikota Banjarmasin Ibnu Sina mengungkapkan ketakjubannya pada acara yang dilaksanakan Mahasiswa Pendidikan Sendratasik ULM itu.

 

Setidaknya ungkapan orang nomor satu di Kota Seribu Sungai itu dapat memberi bayangan tentang kemegahan sebuah pertunjukkan. Dengan tata rupa pentas alat serta pengeras suara yang modern dan terkesan mahal, ruang terbuka (open space) Kampus ULM Banjarmasin tersebut tampak mendadak meriah.

 

Dalam Sendratasik Berkarya 9, kisah gagahnya Adipati Karna sebagai orang terbuang diangkat dalam bentuk drama musikal. Puluhan pemain dan pemusik terlibat dalam satu alur pertunjukkan berjudul “Karna”.

 

Garapan Karna disutradarai Bayu B Setiawan. Ide dan konsep awalnya diajukan mahasiswa Pendidikan Sendtratasik FKIP ULM yang ujian mata kuliah bersangkutan.

 

“Karna merupakan karakter yang benar-benar kompleks baik dilihat dari latar belakang, peristiwa-perisitiwa yang dialaminya seperti segala penolakan yang didapatkanya karena perbedaan kasta. Hingga bagaimana sang karna sendiri dalam memandang arti dari sebuah sumpah setia,” ujar Bayu yang juga alumni Pendidikan Sendratasik FKIP ULM.

 

Pemilihan lokasi pertunjukkan Sendratasik Berkarya 9 patut diapresiasi. Para Mahasiswa Pendidikan Sendratasik FKIP ULM yang tengah menjalani ujian mata kuliah berhubungan itu rela berjudi mengadakan pentas di ruang terbuka saat hujan sedang rutin menampakkan diri. Entah beruntung atau ada faktor lain, pentas Karna sendiri berhasil terlaksana tanpa gangguan hujan.

 

Melihat kemegahan panggung serta pendukung lainnya, Karna tidak bisa disebut karya yang murah. Tidak hanya biaya, pentas sekelas itu tampaknya mesti melibatkan banyak biaya.

 

Sendratasik Berkarya dari tahun ke tahun seolah-olah pertarungan gengsi antar angkatan. Tiap angkatan mahasiswa Pendidikan Sendratasik FKIP ULM jadi ingin angkatannya yang terbaik melaksanakan pergelaran.

 

Sementara itu, salah satu pemangku mata kuliah yang diujikan, M Budi Zakia Sani mengungkapkan aspek penilaian dalam Sendratasik Berkarya hanya seputar pengelolaan sebuah pertunjukkan dan kualitas karya yang dibuat. Hal itu tidak menuntut mahal dan megah yang berlebihan. Lagipula menurut Zaki, bobot mata kuliah cuma 2 SKS saja.

 

“Yang terpenting adalah pengelolaannya. Tidak perlu besar sebenarnya,” ujar Zaki.

 

Pelaksanaan Sendratasik Berkarya setidaknya berhasil menyedot perhatian banyak pihak. Apresiasi berdatangan baik berupa pujian juga kritik dan saran.

 

Seperti yang diungkapkan pegiat seni Lupi Anderiani. Agak berlebihan menurutnya jika sebuah pertunjukkan dinilai kesuksesannya hanya dari sebuah kemegahan saja. Apalagi dengan bobot mata kuliah yang tidak terlalu besar.

 

“Kenapa tidak bikin acara khusus saja. Di luar dari mata kuliah yang diujikan,” katanya.

 

Melihat kemasan pertunjukkan tanpa memandang kualitas kekaryaan, Lupi menilai itu juga berlebihan. Sehingga jika menjadi barometer, akan jadi memberatkan mahasiswa sendiri.

 

“Kemasannya sudah setara ujian mahasiswa seni murni. Itu juga pada level S2 atau S3 dilihat dari pembiayaannya yang begitu fantastis,” ujar Lupi menambahkan.

 

Reporter : M Ali Nafiah Noor

Editor : Suhaimi Hidayat

Penanggungjawab : M Ridha

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here