Film Pangeran Antasari Resmi Diputar

857
Gubernur Kalsel Sahbirin Noor dan kru film Pangeran Antasari saat merilis pemutara perdana film sejarah itu di Duta Mall Banjarmasin, Senin (1/1/2018). Redkal.com

KabarKalimantan, Banjarmasin – Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan resmi merilis perdana film sejarah Pangeran Antasari di Studio Bioskop XXI Duta Mall Banjarmasin, Senin (1/1/2018). Lauching film besutan sutradara Iwan Siregar itu sekaligus mengawali tahun 2018.

Alhasil, para penonton mesti berjubel ketika hendak mendapatkan tiket gratis di sela launching film. Mereka rela antre demi duduk menatap layar lebar yang terpacak di delapan studio XXI Duta Mall Banjarmasin.

Walikota Banjarmasin Ibnu Sina menghendaki masyarakat bisa menikmati gratis tontonan film Pangeran Antasari tersebut. Menurutnya, sangat disayangkan jika film produksi Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Selatan (Kalsel) berdurasi 100 menit tersebut nantinya harus ditonton berbayar karena memberatkan masyarakat.

“Medianya sangat efektif. Tapi kalau berbayar kan perlu anggaran. mudah-mudahan setelah dibikin Pemprov ini bisa ditoton secara geratis oleh seluruh warga,” ucap Ibnu Sina usai nonton perdana film Pangeran Antasari.

Dia menambahkan, penting bagi masyarakat khususnya Kalsel untuk menonton film yang mengabiskan angaran Rp 2,6 miliar itu. Sebab materi film mengandung pesan-pesan sejarah dan nasionalisme, baik dari segi pengetahuan sejarah, maupun insfirasi khususnya bagi generasi muda.

“Setelah ini diharapkan lagi ada filem yang mengangkat sosok pahlawan asal Kalsel agar terus mermberikan insfirasi ke kita,” ujarnya.

Baca Juga :   Gubernur Sahbirin Minta Warga Kalsel Jaga Kerukunan

Pemprov Kalsel mengangkat kisah heroik Pangeran Antasari dalam Perang Banjar ”Haram Manyarah Waja Sampai Kaputing” ke dalam film layar lebar. Gubernur Kalsel, Sahbirin Noor, sangat mendukung film Pangeran Antasari karena mencintai dunia kebudayaan, khususnya seni peran dan teater.

Si produser film, Egy Massadiah, pernah mengatakan ada 50 kru dari Jakarta yang ikut proses produksi film di lapangan. Selain actor nasional, Egy menggunakan aktor lokal sebagai pendukung karena banyak dialog dalam film menggunakan bahasa daerah Banjar.

Aktor utama asal Ibu Kota memerankan toko-tokoh utama, di antaranya Hemalia Putri memerankan tokoh Bulan, istri Pangeran Hidayatullah, dan Egy Fadly sebagai Pangeran Antasari. Adapun sutradaranya dosen IKJ yang juga sutradara senior Irwan Siregar.

Menurut Egy Massadiah, penggarapan struktur cerita film melibatkan lebih dari 150 pemain ini dimulai dengan kehadiran pelajar sekolah dasar zaman sekarang. Dikisahkan mereka ingin mencari tahu tentang sosok Pangeran Antasari dan perjuangannya. Film dibagi dua segmen, yaitu masa perjuangan Pangeran Antasari sekitar tahun 1850-an dan segmen zaman sekarang.

Baca Juga :   Proyek Film Antasari Rp 2,9 Miliar, Sahbirin Noor: Kecil

”Ini film edukasi tentang pahlawan Banjar. Banyak keteladanan bisa dipetik oleh generasi sekarang,” kata Sahbirin Noor menimpali.

Sahbirin memang ingin cerita tentang epos kepahlawanan daerah Banjar difilmkan, meniru provinsi-provinsi lain, misalnya Aceh dengan Tjut Nyak Dien, Jawa Tengah dengan Pangeran Diponegoro.

Seniman dan budayawan terkemuka asal Banjar, Yadi Muryadi, juga terlibat langsung dalam film ini. Yadi bangga bisa mewujudkan film ini dan melibatkan banyak pemain lokal yang memang sehari-hari menggeluti dunia seni peran. Yadi juga terlibat sejak riset dan penulisan cerita hingga turut serta ambil bagian sebagai salah seorang pemain.

Sejarah mencatat, Perang Banjar pecah saat Pangeran Antasari dengan 300 prajuritnya menyerang tambang batubara milik Belanda di Pengaron pada 25 April 1859. Dibantu para panglima dan pengikutnya yang setia, Pangeran Antasari menyerang pos-pos Belanda di Martapura, Hulu Sungai, Riam Kanan, Tanah Laut, Tabalong, sepanjang Sungai Barito sampai ke Puruk Cahu.

Pertempuran berkecamuk makin sengit antara pasukan Pangeran Antasari dan pasukan Belanda. Pasukan Belanda yang ditopang oleh bala bantuan dari Batavia dan persenjataan modern berhasil mendesak pasukan Pangeran Antasari. Akhirnya, Pangeran Antasari memindahkan pusat benteng pertahanannya di Muara Teweh.

Baca Juga :   Sahbirin Noor Cetak Banyak Gol, H Cacan: Gancang Banar

Berkali-kali Belanda membujuk Pangeran Antasari untuk menyerah, tetapi dia tetap pada pendiriannya. Ini tergambar pada suratnya yang ditujukan untuk Letnan Kolonel Gustave Verspijck di Banjarmasin tertanggal 20 Juli 1861. ”Dengan tegas kami terangkan kepada tuan: Kami tidak setuju terhadap usul minta ampun dan kami berjuang terus menuntut kemerdekaan.”

Dalam film ini muncul juga tokoh, di antaranya Tumenggung Antaludin, Tumenggung Jalil, Demang Lehman, Ratu Zaleha, Wulan Jihad (pejuang perempuan Dayak Kenyah), Amin Oellah, Soero Patty, Kiai Djaya Lalana, Goseti Kassan. Dari pihak kolonial Belanda antara lain Augustus Johannes Andresen, George Frederik Willem Borel, Karel Cornelis Bunnik, CE Uhlenbeck, dan Gustave Verspijck.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalsel, H Muhammad Yusuf, mengatakan film Pangeran Antasari bertujuan menumbuhkan semangat generasi muda untuk bisa membangun daerah melalui berbagai prestasi yang bisa diraih.

“Kita ingin membangkitkan nilai-nilai kejuangan pahlawan kepada generasi muda, sehingga pemuda bisa mewarisi semangat para pahlawan tersebut,” katanya. Rencananya, film sejarah tersebut akan diputar di sekolah-sekolah maupun di bioskop yang bersedia bekerja sama untuk pemutaran film.

M SYAHBANI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here