Jum. Feb 28th, 2020

Genjot Sumber Daya Alam Terbarukan, UPPB untuk Sejahterakan Petani Karet

2 min read

KabarKalimantan, Martapura – Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan terus menggelorakan agar sumber daya alam yang tak terbarukan dapat digantikan dengan sumberdaya alam terbarukan.

Gubernur Kalimantan Selatan H Sahbirin Noor mengatakan, kurang lebih 20 persen pertumbuhan ekonomi Kalimantan Selatan masih bertumpu pada batubara.

“Jadi, apa saja sumberdaya alam yang terbarukan itu. Itu adalah pekerjaan yang digeluti oleh bapak/ibu seperti perkebunan, pertanian, peternakan, perikanan, bahkan pariwisata,” katanya dalam Temu Usaha Unit Pengolahan dan Pemasaran Bokar (UPPB) dan Sosialisasi Petugas Kemitraan Lingkup Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Kalimantan Selatan, di Kiram Park, Kabupaten Banjar, Selasa (11/2/2020).

Gubernur yang akrab disapa Paman Birin ini menuturkan, Kalsel adalah salah satu daerah yang memiliki potensi alam, seperti perkebunan karet. Untuk itu, pemerintah selalu memberikan pembinaan, motivasi dan lain sebagainya, agar perkebunan karet Kalsel benar-benar menghasilkan karet yang banyak dan berkualitas.

“Mudah-mudahan ini bisa menyejahterakan rakyat Kalimantan Selatan,” ucap Paman Birin.

Paman Birin berharap, petani karet yang tergabung dalam UPPB dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi Kalsel melalui sektor perkebunan karet. “Teruslah menanam pohon karet untuk perekonomian Kalsel, Karena karet sangat berpengaruh kepada lingkungan,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kalsel, Suparmi mengatakan, tujuan kegiatan ini untuk meningkatkan mutu bahan olah karet atau Bokar pada kelembagaan petani, khususnya unit pengolahan dan pemasaran Bokar atau UPPB di wilayah Kalsel. “Kita juga akan melakukan pengawalan, pembinaan dan pendampingan terhadap UPPB yang ada di Provinsi Kalsel,” katanya.

Ia menuturkan, Kalimantan Selatan dengan luasan 270 ribu hektare kebun karet masih ada petani karet yang menjual hasil karetnya ke tengkulak dan membuat harga karet para petani masih rendah. “Tapi kalau mereka langsung bergabung dengan UPPB, mereka bida langsung mendapat harga yang lumayan,” ucapnya.

Suparmi menambahkan, harga karet di Kalsel itu yang paling tinggi sementara ini. “Saat ini, kalau Kadar Kering Karet (K3) nya 66-67 bisa di atas Rp 10.000-11.000, tinggal mengalikannya saja lagi,” tuturnya.

Untuk itu, ia terus mengajak para petani kebun karet yang ada di kabupaten/kota di Kalsel agar bergabung di UPPB. Karena dengan luasan 270 ribu hektare tersebut, UPPB memerlukan sebanyak 650 unit, sedangkan saat ini Kalsel hanya memiliki 133 unit.

“Ayo, teman-teman. UPPB bisa menaikkan harga karet. Mari kita ajak kabupaten/kota yang memiliki perkebunan karet untuk bergabung ke UPPB. Jadi target tahunan untuk jangka panjang sudah kita tetapkan, sekitar 105-110 unit pertahun agar kita bisa mengejar 650,” pungkas Suparmi.

Reporter: Syahri Ramadhan

Editor: Suhaimi Hidayat

Penanggungjawab: M Ridha

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © All rights reserved. | redkal.com by Kabar Kalimantan.