Hari Ini, Yayasan Palatar akan Bahas Peranan Pers dalam Perkembangan Kesenian

1411

KabarKalimantan, Banjarbaru – Peran dunia pers dan tumbuh kembang kesenian serta kebudayaan tak terpisahkan. Itu bahkan sejak era koran cetak merajai dunia informasi di masanya.

Berlandaskan itu, salah satu yayasan seni yang baru berdiri di Kalsel, yakni Yayasan Palatar akan melaksanakan program regular bertajuk Basurah, yang dilangsungkan di Ruang Wakapitu, Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Kota Banjarbaru, Rabu (20/2/2019).

Manager Program Basurah Ega Wardhani menyebutkan, Basurah menjadi program berbentuk forum diskusi yang kelak akan teragenda setiap dua bulan sekali. “Temanya kemungkinan tidak akan jauh dari bahasan seputar kebudayaan yang tentu berbeda di tiap pertemuan,” ujarnya kepada Kabar Kalimantan.

Sebenarnya, Basurah yang terbuka untuk umum ini mulai dilaksanakan pada Selasa malam (19/2/2019) sejak pukul 20.00 Wita yang menghadirkan tiga narasumber yaitu Sumasno Hadi, Novyandi Saputra, dan Sandi Firly.

Baca Juga :   Belum Meluncurkan Buku Antologi Puisi, YS Agus Suseno Gelar Pentas Tunggal

“Basurah 1.0 sebagai forum pertama yang dilaksanakan oleh Yayasan Palatar di tahun 2019 mengangkat judul “Pers dan Seni; Upaya Pengembangan Seni Budaya”. Keberadaan Pers dalam dunia seni merupakan sebuah sistem yang berkaitan satu sama lain dan tidak dapat dipisahkan,” katanya.

Menurutnya, gaung seni akan lebih terdengar ketika pers pun turut menyoroti kesenian. Di sisi lain, keberadaan jurnalis sebagai pembuat berita seni seringkali hanya pada hal-hal umum dan data-data faktual.

“Maka dari itu untuk mengupas berita seni menjadi lebih mendalam memerlukan pengetahuan tentang bidang seni itu sendiri. Berita seni yang dimaksud adalah semacam tinjauan seni atau kritik seni,” terangnya.

Ia juga menjelaskan, keberadaan ahli seni seperti kurator, pengamat, dan kritikus seni diperlukan untuk mengisi kolom berita seni pada pers. Seni yang acapkali termarjinalkan perlu mendapat ruang yang luas dalam media massa. Hal ini agar merangsang semua pihak untuk memerhatikan seni.

Baca Juga :   Kampung Banjar Tabalong Pamerkan Baju Kulit Kayu di Festival  Budaya Pasar Terapung 2018

Sekadar diketahui, Basurah memiliki arti bercakap dari bahasa melayu lama. Basurah sebagai ruang terbuka untuk bertukar pikiran dan mengemukakan pendapat.

Kegiatan diskusi ini akan dikemas secara ringan dan juga santai. Setiap orang dapat mengutarakan apa yang menjadi pemikirannya. Selain itu, Basurah bukan hanya sebagai ruang diskusi yang membahas isu-isu kebudayaan namun juga bedah buku, bedah karya hingga orasi budaya.

Yayasan Palatar ini sendiri berdiri pada 15 September 2018. Yayasan Palatar adalah yayasan non-profit yang memiliki visi untuk melestarikan dan mengembangkan seni budaya dengan menjaganilai-nilai luhur masyarakat. Yayasan Palatar merupakan peleburan dari NSA Project Movement (NSA PM) yang telah berdiri di Kalimantan Selatan, pada 15 September 2015.

Yayasan Palatar diharapkan menjadi sebuah upaya untuk membaca dan mendukung wacana perkembangan seni tradisional, populer dan kontemporer melibatkan seniman lintas media dan bentuk. Hal ini dilakukan untuk melahirkan pembaruan yang tidak lepas dengan nilai-nilai lokalitas sebagai sebuah identitas seni yang berhubungan dengan budaya, sosial, dan kemanusiaan.

Baca Juga :   12 Penulis Indonesia akan Diboyong ke LBF 2019

Melakukan kerja tata kelola seni baik dalam bentuk pertunjukan dan juga dalam bentuk pendidikan. Membuka ruang-ruang pertemuan dan pertunjukan adalah jalan yang diambil agar seni mampu kembali dekat dengan apresiatornya (masyarakat). Pada akhirnya Yayasan Palatar ingin membangun sebuah ekosistem dan proses seni budaya yang berkelanjutan.

Ananda

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here