Hari Teater Dunia 2018 di Kalimantan Selatan, Apresiasi Perlu Ditingkatkan

383

KabarKalimantan, Banjarmasin – Perayaan Hari Teater Dunia 2018 di Kalimantan Selatan ditutup pada Rabu (28/3/2018) malam.

Sedikitnya ada 23 pementasan teater bergelar di Gedung Balairung Sari Taman Budaya Kalimantan Selatan. Berturut-turut selama tiga hari, baik komunitas teater kampus, pelajar, maupun umum menampilkan karyanya masing-masing.

Hari Teater Dunia dideklarasikan pada 27 Maret 1961 oleh International Theatre Institute (ITI) yang disokong oleh UNESCO. Setiap tahun, pelaku teater di seluruh dunia kemudian merayakannya untuk mendekatkan seni tersebut di masyarakat.

Di Kalsel, perayaan Hari Teater Dunia 2018 diselenggarakan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Kampoeng Seni Boedaja (KSB) Universitas Lambung Mangkurat (ULM). Mereka dibantu oleh jaringan komunitas pekerja seni kampus se Kalsel yang menamakan diri sebagai Forum Komunikasi Pekerja Seni Kampus (FKPSK) Kalsel.

Diskusi seputar persoalan teater dan wacana yang dibangun pementas mewarnai perayaan ini. Sejumlah pementas membawa wacana pementasan yang beragam. Mulai dari persoalan sosial, budaya, dan lingkungan, juga perkembangan apresiasi teater.

Baca Juga :   Festival Teater Komedi Si Palui VI Angkat Tema Politik dan Demokrasi

Menurut Ketua Pelaksana Hari Teater Dunia (Harta Dunia) 2018 Mahbob Fran Akbar, pementasan yang diselenggarakan sejak Senin (26/3/2018) itu untuk melihat perkembangan seni pertunjukkan di Kalimantan Selatan. “Apresiasi masih perlu ditingkatkan,” ucapnya.

Menurut Mahbob, ruang-ruang seni pertunjukkan di Kalimantan Selatan perlu diperluas lagi. Tujuannya, agar seni teater baik tradisional maupun modern lebih diterima oleh masyarakat secara luas.

Sementara, kritikus seni pertunjukkan Kalsel Noviyandi Saputra menilai pelaksanaan Hari Teater Dunia di Kalsel masih bersifat ekslusif. Sebab, perayaan dengan pertunjukkan di Gedung Balairung Sari Taman Budaya Kalsel masih belum bisa mengundang apresiator yang lebih banyak. “Yang nonton masih pegiat teater saja,” ucapnya.

Menurutnya, FKPSK Kalsel harus bisa mengembalikan tujuan Hari Teater Dunia untuk mendekatkan teater kepada masyarakat. “Agar teater tidak lagi sebagai tontonan semata. Lebih lanjut menjadi penggerak masyarakat,” katanya.

Baca Juga :   Pementasan Tunggal Perdana, KSB akan Angkat Kisah Syekh Abulung

M ALI NAFIAH NOOR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here