Hikayat Banjarmasih Menjadi Banjarmasin

479
Foto koleksi Tropen Museum 1905-1914.

KabarKalimantan, Banjarmasin– Berstatus Ibu kota Provinsi Kalimantan Selatan, Banjarmasin merupakan salah satu kota dengan usia cukup tua. Tepat 24 september 2017, Kota berjuluk Seribu Sungai ini memasuki usia ke-491 tahun.

Begitu mendekat Pangeran Samudera menyatakan tak mau melawan pamannya yang dianggapnya sebagai ganti ayahnya yang sudah mati. Ia bahkan menyilahkan Pangeran Tumenggung untuk membunuhnya. Melihat penyerahan diri keponakan yang menjadi musuh politiknya itu, Pangeran Tumenggung lantas melemparkan senjatanya.

Alih-alih menyerang, ia langsung memeluk Pangeran Samudera dan mengangkatnya pada hari itu juga sebagai raja. Pusaka-pusaka kerajaan pun diserahkan kepada keponakannya tersebut.

Adegan ini diperkirakan oleh M Idwar Saleh terjadi pada Rabu 24 September 1526. Momen tersebut kemudian ditetapkan sebagai hari berdirinya Kota Banjarmasin yang diperingati setiap tahun.

Dalam “Banjarmasih” terbitan museum Lambung Mangkurat Banjarbaru 1981, ia menguraikan, hari kemenangan Pangeran Samudera atau Sultan Suriansyah ini sekaligus merupakan penyerahan regalia kerajaan Negara Daha dengan dirajakannya Pangeran Samudera oleh Pangeran Tumenggung.

Baca Juga :   Perang Pertama Dipicu Perpindahan Bandar Niaga

Banjarmasih pun menjadi ibukota bagi seluruh kerajaan Banjar. Sebagai pusat pemerintahan, pusat perdagangan, pusat penyiaran agama Islam dan mata rantai baru dalam menghadapi penetrasi Portugis di Laut Jawa.

Namun, ternyata saat itu belum dikenal istilah Banjarmasin sebagai nama kota yang berjuluk seribu sungai ini. Dalam Hikayat Banjar atau Hikayat Raja-Raja Banjar dan Kota Waringin pun tak pernah disebut-sebut nama Banjarmasin. Nama yang dikenal waktu itu adalah Banjarmasih.

“Istilah ini amat umum untuk dipakai menyebut negeri Banjarmasih, orang Banjarmasih, Raja Banjarmasih, Raja di Banjarmasih dan Tanah Banjarmasih,” tulis Idwar.

Daerah ini kemudian dinamakan Banjarmasih karena kepala negeri atau patihnya disebut Patih Masih. Namun, ia beranggapan nama Patih itu sendiri bukanlah nama sebenarnya. Melainkan hanya sebutan atau gelar.

“Dalam bahasa Oloh Ngaju (etnis yang lebih dulu menempati wilayah itu), orang melayu disebut Oloh Masi. Patih Masih berarti patihnya Oloh Masi atau patih orang-orang Melayu sebagai sebutan suatu kelompok etnik di daerah ini,” ia melanjutkan.

Baca Juga :   Wayang Kulit Banjar Masuk Kampus ULM

Adapun kata “Banjar” sendiri, menurut Idwar Saleh, mengacau bentuk pemukiman masyarakat saat itu yakni berderet sepanjang sungai atau berbanjar. Istilah banjar saat itu digunakan untuk menyebut nama kampung atau pedukuhan.

Dengan dipindahkannya pusat pemerintahan dan perdagangan ke kampung orang-orang melayu di tepi sungai kuin itu, nama Banjarmasih pun menjadi nama kerajaan. Sekaligus sebagai pusat peradaban yang membentuk identitas orang banjar saat ini.

Menurut Idwar Saleh, Belanda yang mengubah istilah Banjarmasih menjadi Banjarmasin. Belanda menggunakan istilah itu dalam surat-surat resminya. Dua buah kontraknya dipermulaan abad 17, Belanda masih menggunakan istilah Bandsyermash. Kemudian berubah menjadi Bandjermassingh, dan akhirnya menjadi resmi sebagai Banjarmasin.

M ALI NAFIAH NOOR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here