Hikayat Ulama Sugianor hingga Berujung Penistaan di Sungai Tabuk

Ulama Sugianor Fajar bicara berapi-api menjelaskan sepak terjang dakwah agama, Sabtu (21/10/2017). Redkal.com/ Diananta Putra

KabarKalimantan, Marabahan – Satu unit rumah yang belum rampung pengerjaannya, itu cukup mencolok ketimbang rumah tetangga di kanan-kirinya. Aneka properti rumah semacam selambu, karpet, televisi layar datar, plus pendingin ruangan, terpampang di ruang tamu.

Rumah pribadi milik Sugianor A. Fajar, ini berdiri di lingkungan Komplek Persada Baru II, III, dan IV, Kelurahan Handil Bakti, Kecamatan Alalak, Barito Kuala. Di pelataran rumah ketika hari menjelang siang, Sabtu (21/10/2017), puluhan warga Desa Lok Buntar, Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar, menyambangi si tuan rumah setelah muncul dugaan isu penganiayaan, penistaan, dan perusakan terhadap diri Sugianor.

Mereka datang memberi dukungan moral kepada si shohibul bait. Dalam satu pekan terakhir, nama Sugianor A. Fajar, mencorong dan mencuri perhatian khalayak di sekitaran Kota Banjarmasin, Kabupaten Barito Kuala, dan Kabupaten Banjar.

Maklum, Sugianor– yang kerap diberi titel Abah Guru atau Ulama– membuat heboh karena ikut mengawasi Dana Desa lewat dakwah keagamaan dengan bekal secarik kertas mandat yang diteken Gubernur Kalsel, Sahbirin Noor. “Ulama ini enggak bisa dibikin-bikin, bukan saya yang minta. Warga yang memanggil saya ulama,” kata Sugianor.

Baca Juga :   Difitnah, Warga Lok Buntar Sungai Tabuk Datangi Ulama Sugianor

Lahir di Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Sugianor merintis dakwah setelah menimba ilmu agama dari satu ulama ke ulama lain di Kalimantan Tengah. Sugianor mengaku tak pernah mengenyam pendidikan khusus keagamaan di pondok pesantren. Adapun orang tua kandungnya tidak mewarisi darah seorang alim ulama atau tokoh agama.

“Saya hanya sekolah duduk, datang ke ulama-ulama. Saya sudah keliling ke empat provinsi di Kalimantan. Orang tua saya hanya warga biasa, bukan tokoh agama,’ kata pria yang punya sembilan anak kandung dari satu istri itu.

Berbekal ilmu agama non-formal, Sugianor keliling dari satu kampung ke kampung lain. Di tengah syiar agama itu, Sugianor kerap mendengar keluh-kesah warga desa soal penggunaan Dana Desa. Keluhan semacam ini membuat Sugianor meneguhkan diri iktikaf keliling desa mengawasi Dana Desa lewat ceramah agama.

Baca Juga :   Difitnah, Warga Lok Buntar Sungai Tabuk Datangi Ulama Sugianor

Ia ingin mengingatkan aparatur desa agar mengayomi warganya dan memanfaatkan Dana Desa sebagaimana mestinya. “Ulama ini jangan hanya disuruh baca doa dan mensalatkan orang meninggal. Tugas ulama itu dunia dan akhirat, ingat itu! Allah paling murka dengan orang yang pandai urusan dunia, tapi tidak pandai urusan akhirat,” kata Sugianor berapi-api.

Tercetus ide pengawasan Dana Desa dibungkus misi dakwah, Sugianor lantas meminta restu kolega lamanya yang kini menduduki Gubernur Kalsel, Sahbirin Noor. Lantaran karib lama, Sahbirin Noor meneken secarik kertas yang merestui Sugianor ikut mengawasi Dana Desa lewat dakwah.

Berbekal surat ini, Sugianor dan Rahmansyah, keliling ke-122 desa se-Kabupaten Barito Kuala. Kisruh baru muncul ketika Sugianor dakwah ke desa-desa yang masuk administrasi Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar. Sugianor membenarkan ada penolakan dari sebagian kecil kepala desa atas aktivitas dakwah tersebut.

Baca Juga :   Difitnah, Warga Lok Buntar Sungai Tabuk Datangi Ulama Sugianor

“Tapi, yang menolak hanya Kades Lok Buntar, Kusairi. Kades dan warga lainnya menerima saya dengan tangan terbuka. Saya menolak dianggap bikin resah warga 10 desa. Padahal, saya enggak pernah tanya RAP dan item proyek. Ini bentuk fitnah dan penistaan terhadap ulama,” ujar Sugianor.

Adapun seorang anggota BPD Desa Lok Buntar, Nasrullah, menguatkan pengakuan Sugianor. Nasrullah dan puluhan warga lain justru membawa bukti valid soal pelanggaran yang pernah dibuat oleh Kades Kusairi. Kusairi, kata Nasrullah, sempat mengundurkan diri dari jabatan kades setelah kepergok menyelewengkan bantuan beras miskin pada 2013.

Mengutip surat pernyataan bertarikh 22 Januari 2014, Kusairi menyatakan undur diri sebagai kades dengan dua alasan: “Saya tidak dapat melaksanakan tugas sebagaimana yang diharapkan masyarakat dan ada pekerjaan atau kesibukan di luar daerah sehingga saya sering tidak berada di rumah”.

DIANANTA PUTRA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here