Kam. Jul 2nd, 2020

Jejangkit yang Ditarget Terus Bangkit

3 min read

KabarKalimantan, Batola – Desa Jejangkit yang terletak di Kabupaten Barito Kuala (Batola) menjadi sangat populer di Kalsel bahkan tingkat nasional.

Maklum, pada 18-21 Oktober tahun lalu, Desa Jejangkit dipilih sebagai lokasi penyelenggaraan Peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS) ke-38.

Lantas, bagaimana kondisi Desa Jejangkit setelah satu tahun HPS? Rupanya, Gubernur Kalsel H Sahbirin Noor tetap memberikan perhatian tinggi. Buktinya, di sana akan dibuat Kawasan perkampungan Jejangkit Baru.

Untuk memuluskan rencana itu, bahkan Gubernur Kalsel telah mengutus sejumlah staf khusus untuk terjun langsung ke Desa Jejangkit, Sabtu (10/10/2019).

Empat staf khusus Paman Birin adalah orang-orang yang dikenal punya kerja apik baik di bidang Pendidikan maupun pemerintahan. Mereka yakni, H Noor Aidi, Taufik Arbain, Apriansyah,  Samahuddin Muharram.

Kedatangan mereka disambut sejumlah perangkat pemerintah Barito Kuala diantaranya, Camat Kecamatan Jejangkit, staf kecamatan, perwakilan dari Bapelitbangda Barito Kuala, Dinas PUPR Batola. Selain itu, hadir pula para Kepala Desa Jejangkit dan staf desa. Pertemuan dilaksanakan di ruang pertemuan Desa Jejangkit Muara.

Ketua Stafsus Gubernur Kalsel, H Noor Aidi mengatakan, rencana pengembangan kawasan Jejangkit Baru akan memberi dampak pembangunan tidak sekadar di kawasan perkotaan, pinggiran tetapi juga pelosok pedesaan menjadi perhatian pemerintah. ”Kami melihat  Jejangkit ini kawasan strategis yang menghubungkan jalur cepat pertemuan penduduk baik dari Kabupaten Banjar, Kabupaten Barito Kuala, dan Hulu Sungai khususnya Tapin,” ujarnya.

Untuk itu, lanjut Noor Aidi diperlukan rintisan trans Jejangkit yang tentu saja dilakukan per-tahapan. “Maka dari itu kesamaan pandangan dalam pembangunan untuk rencana ini sangat diperlukan,” kata mantan Bupati Tabalong ini.

Sementara itu, Dr Taufik Arbain mengatakan, gagasan ini mencoba menerjemahkan keinginan Paman Birin agar program HPS tidak sekadar berdampak pada aspek pertanian ektensifikasi dan intensifikasi, inspiratif bertani bagi penduduk, tetapi harus juga berdampak pada infrastruktur dan pengembangan kawasan baru. “Adanya rencana kawasan Jejangkit Baru setidaknya meminimalkan kepadatan pemukiman di kawasan lama, perbaikan sanitasi lingkungan, diversifikasi usaha masyarakat, pengendalian kebanjiran dan kebakaran lahan termasuk ke depan menjadi inspirasi kawasan perkantoran tiap desa-desa yang masuk dalam jalur Trans Jejangkit Baru,” jelasnya.

Ia menuturkan, secara teknis hanya mengeruk lahan saja, sehingga harus dikoordinasikan dengan kabupaten berkaitan dengan RTRW. Menurutnya, hal ini merupakan kesempatan emas bagi warga Jejangkit agar menghibahkan lahannya yang terkena jalur tersebut, termasuk mengoptimalkan pemanfaatan 60 % dana desa yang menyokong simpul-simpul infrastruktur dengan trans Jejangkit Baru. “Kita meyakini akan terjadi percepatan kemajuan, sehingga tidak lagi disebut Gang Buntu seperti tahun 1990-an ” ungkap  dosen Fisip ULM ini.

Rencana kawasan Jejangkit Baru ini direncanakan berada di belakang pemukiman lama sekitar 300–400 meter dengan jalur  melintasi Desa Jejangkit Muara, Jejangkit Pasar, Jejangkit Barat, Jejangkit Timur hingga perbatasan Kabupaten Tapin dengan lebar jalan 4-6 meter dan lebar jalur sungai 3 meter.

Drs Apriansyah menambahkan, peran dan partisipasi warga sangat penting dalam rencana ini. Untuk itu diperlukan komunikasi dan sosialisasi dan koordinasi bersama pihak Kecamatan kepada warga termasuk kepada instansi terkait di Kabupaten. “ Jika tahapan sosialisasi dan koordinasi dianggap beres, maka kami akan segera membicarakan pada tahapan berikutnya bersama PUPR Provinsi Kalimantan Selatan dan dinas terkait dalam rangka Pembangunan Kawasan  Jejangkit Baru ini,” katanya Dosen FISIP ULM ini.

Sementara itu, Camat Jejangkit Drs H Mujiburrahman sangat menyambut baik adanya rencana tersebut dalam pengembangan desa-desa di Kecamatan Jejangkit, apalagi untuk kebaikan dan kesejahteraan masyarakat. “Kami merasakan dengan program HPS Kecamatan Jejangkit terdampak perbaikan infrastruktur sehingga saat ini saja menjadi lintasan  jika ada Haul Guru Sekumpul ke arah Martapura. Semoga rencana ini  bisa mengangkat Jejangkit maju seperti kecamatan lainnya” ungkap Mujiburrahman.

Salah satu Kepala Desa Jejangkit Timur Muhammad Muar menyambut baik rencana tersebut, sebab hal utama yang dialami kawasan desa tersebut adalah adanya kebanjiran dan kebakaran lahan, termasuk air sungai Sungai Jejangkit yang masam dan keruh.” Kami bersama Kepala Desa lainnya akan mengajak warga kami mendukung rencana ini karena sangat berpengaruh pada perbaikan lahan pertanian, perkebunan dan perikanan warga kami,” ungkap Kepala Desa yang mendapatkan Juara pada Lomba Kreatif Desa Bumdes berupa pembuatan pengolahan air bersih tahun 2018.[]

Reporter: Smara Aqdimul Azmi

Redaktur: M Ridha

Penanggungjawab: M Ridha

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © All rights reserved. | redkal.com by Kabar Kalimantan.