Juriat Barikin dari Sanggar Ading Bastari Meriahkan Malam Seni Budaya Banua

187

KabarKalimantan, Banjarmasin – Mengangkat permainan rakyat yang sudah mulai hilang, 22 bocah asal Desa Barikin, Hulu Sungai Tengah (HST) pukau penonton di Taman Budaya Kalimantan Selatan, Banjarmasin (14/4/2018) malam.

Gelaran bertajuk “Malam Seni Budaya Banua” yang dilaksanakan UPTD Taman Budaya Kalsel ini menampilkan sejumlah pertunjukan dari berbagai bidang seni dan sastra. Halaman Panggung Terbuka Bachtiar Sanderta penuh oleh masyarakat yang antusias menyaksikan.

Tepuk tangan penonton semakin meriah ketika sejumlah “Juriat (penerus generasi) Barikin” itu, di tengah penampilan, mengarak sejenis wayang yang dibuat dengan ukuran besar menyerupai alat berat. Kehadiran mereka digambarkan mengusik anak-anak yang tengah asyik dengan permainan tradisional. Tak lama, anak-anak mengganti mainannya dengan gawai yang membuat keadaan tak seceria sebelumnya.

Itulah sekilas penampilan Sanggar Ading Bastari yang tak seperti biasa, kali ini mereka menyuguhkan pertunjukkan teatrikal dengan judul “Di Mana Rumah Kami?” dalam gelaran Malam Seni Budaya Banua. Hampir semua pemain, baik pemusik maupun penari dan aktor, rata-rata masih duduk di Sekolah Dasar.

Baca Juga :   Miris, Sekolah Favorit di Banjarmasin Tak Mampu Laksanakan UNBK?

Sutradara pertunjukkan tersebut, Lupi Anderiani mengungkapkan, faktor alam turut mendorong punahnya permainan rakyat. Sebab menurutnya, permainan rakyat dibuat oleh anak-anak itu sendiri dengan bahan yang mereka dapatkan di alam sekitar. Ketika hutan semakin sempit, anak-anak pun kehabisan bahan untuk membuat mainan tradisional.

“Sekarang sudah lebih banyak bangunan,” katanya.

Terkait gagasan pertunjukan tersebut yang melontarkan pertanyaan kepada penonton, “Di Mana Rumah Kami?” Lupi mengatakan, jawabannya ada pada diri penonton masing-masing.

Mencoba merubah pandangan umum, ia mengatakan alam bukan warisan. “Tapi titipan untuk cucu kita,” ujarnya.

Salah satu pemain, Yelsa, mengaku senang mendapat kesempatan terlibat dalam pertunjukan tersebut. Apalagi, ini adalah pertama kali baginya bermain teatrikal di hadapan penonton yang lebih banyak dengan panggung besar. “Biasanya cuman menari di sana,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalimantan Selatan M Yusuf Effendi mengatakan, gelaran tersebut merupakan ajang kreasi bagi para seniman di Kalsel. Menurutnya, pendidikan seni budaya merupakan salah satu upaya penguatan karakter bangsa.

Baca Juga :   NSA Project Movemet akan Kumpulkan Seniman Perempuan Kalsel

M ALI NAFIAH NOOR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here