‘KALA’ Terbunuh Waktu, Terjebak Masa Lalu

112

KabarKalimantan, Banjarmasin – Menyaksikan pentas KALA seperti menjadi narapidana, sedang melihat narapidana lainnya yang ingin kabur dari penjara.

Penjara itu adalah identitas, tradisi yang sudah mengakar. Ia mengikat sebagai sebuah ingatan. Sekuat-kuat berontak, ikatannya tidak akan lepas.

KALA adalah pertunjukkan musik yang digelar NSA Project Movement. Digarap oleh komposer Novyandi Saputera. KALA dipresentasikan pada Rabu (30/10/2019) malam di Gedung Balairung Sari Taman Budaya Kalimantan Selatan, Banjarmasin. 

Di awal pertunjukkan, penonton sudah diwanti-wanti agar tidak melakukan hal-hal yang merugikan orang lain. Menyebarluaskan video pentas yang berlangsung itu contohnya. Jangankan menyebarluaskan, mendokumentasikan saja harus seijin penyelenggara dan pemilik karya.

Wanti-wanti itu ditegaskan sekali. Petilan undang-undang hak cipta dibacakan dengan lantang lewat pengeras suara. Itu mendasari aturan penonton selama duduk dalam gedung pertunjukkan. Menyalakan layar ponsel saja dapat teguran.

Lagu Indonesia Raya berkumandang sebelum pertunjukkan sesungguhnya dimulai. Semua yang di dalam gedung lantas berdiri. Serentak seperti apel pagi di sekolahan.

Begitu duduk lagi, pengumuman pentas dimulai tak bersambut tepuk tangan. Rupanya masih tegang akibat serangkaian ritual sebelumnya.

Senandung begitu saja mengalun. Tak begitu jelas alunannya mengikut gaya dari mana. Kadang hampir tergelincir ke nada sunda, kadang terasa di daerah perbukitan meratus. Syairnya jelas dari Wayang Kulit Banjar, syair Kucapa dalam bagian mamucukani.

Gamelan Banjar, itu yang ingin dieksplorasi Novyandi Saputera dalam karya tersebut. Begitu instrumen utamanya dipukul, nuansa pagelaran Wayang Kulit Banjar seolah datang mengintip. 

Menonton pentas KALA memang seperti sedang bertamasya dalam berbagai emosi. Boleh juga kalau disebut menjelajahi lorong waktu. 

Tidak salah juga kalau KALA dicurigai sebagai gambaran perjalanan spiritual yang dialami urang Banjar lewat gamelan. Identitas terbentuk akibat banyak percampuran unsur kebudayaan. 

Novyandi Saputera memang mengatakan jika Kala yang dimaksud adalah masalah waktu. “Gamalan Banjar sebagai sebuah peristiwa musikal selalu terbuka atas sebuah masa,” katanya.

Ia seolah menggambarkan eksplorasinya menyelami masa lalu gamelan. Sebagai perangkat ritual, kemudian hadir dalam rangkaian hiburan.

Banyak yang mengatakan gamelan awalnya adalah benda asing di Kalimantan bagian selatan pada masa yang lampau sekali. Ia datang bersama migrasi orang-orang jawa ke Kalimantan.

Sedangkan di wilayah yang sekarang disebut penghuninya sebagai Banua ini saat itu sedang dihuni masyarakat lokal dengan budaya yang terkunci pada peradaban sungai. Gamelan datang, interaksi kebudayaan terjadi. Ada penerimaan, juga penolakan.

Pantas Novyandi agaknya ingin menegaskan, gamelan Banjar sudah menjadi identitas sendiri ketika terjadi penerimaan. Novyandi selalu menggunakan tulisan Gamalan untuk benda tersebut.

Novyandi mengatakan, konsep kekaryaan KALA berangkat dari kuasa inner melodi para penabuh gamalan Banjar yang membentuk pola counterpoint (Contrapung). Saling jalin dari titik yang sama dengan bentang melodi berbeda dan bertemu atau berhenti  pada titik nada yang sama. 

Garapan Kala langsung dibedah usai dipentaskan. Salah satu pembedahnya adalah Lupi Anderiani, pelaku kesenian Gamalan Banjar. Garapan Novyandi menurutnya belum keluar dari tradisi gamalan tersebut.

“Konsep ini sudah ada di gamalan banjar,” katanya.

Penonton boleh saja menikmati pergelaran tersebut. Di sisi lain mungkin sulit ditafsir. Karena banyak kemungkinan akan pemaknaannya. Itu juga yang diinginkan Novyandi.

“Tidak suka dengan sebuah karya, bukan berarti karya tersebut jelek,” katanya. 

Penonton sejatinya dibebaskan menafsir dan menikmati. Sekalipun harus dibelenggu aturan-aturan yang agak dikeras-keraskan.

Seperti diungkapkan akademisi seni Ahmad Budiazaki, Novyandi terkesan tidak terbebas dari belenggu tradisinya. Itu juga diakui Novyandi. Identitas tradisi sudah tertanam kuat pada setiap pribadi. Kemanapun mencari kebebasan, identitas tetap terbawa.

Novyandi seperti juga terjebak dalam tradisi yang sedang diselaminya. Kala akhirnya tak menawarkan hal baru. Hanya menegaskan kelenturan sebuah tradisi.

Semua yang ada dalam Gedung Balairung Sari saat itu seperti dalam penjara. Dikekang aturan-aturan, sambil melihat upaya pembebasan yang tidak berhasil. Tak ada yang benar-benar bebas.

Reporter : M Ali Nafiah Noor

Baca Juga :   NSA Project Movemet akan Kumpulkan Seniman Perempuan Kalsel

Editor : Suhaimi Hidayat

Penanggungjawab : M Ridha

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here