Ming. Jan 17th, 2021

Ketika Bakti Anak pada Orang Tua Dianggap ‘Salah’

3 min read

KabarKalimantan, Batulicin – Anak memiliki kewajiban untuk berbakti kepada orang tua. Hal ini tetap berlaku meski orang tua telah meninggal dunia.

Nah, hal ini rupanya dijalankan dengan baik oleh anak-anak Haji Maming. Pengusaha asal Tanah Bumbu ini telah meninggal dunia pada 23 Maret 2016 lalu. Anak-anaknya kemudian memuliakan almarhum sang ayah dengan membangun komplek pemakaman di Jalan Cappa Padang, Batulicin.

Mardani H Maming dan Syafruddin H Maming yang merupakan anak dari Haji Maming kemudian beberapa kali menggelar kegiatan keagamaan di komplek pemakaman sang ayah. Kegiatan yang rutin dilaksanakan setiap tahun yakni peringatan haul Haji Maming. Banyak ulama-ulama dan para habaib asal Tanah Bumbu maupun daerah lain yang datang pada acara haul ini.

Warga Tanah Bumbu dan luar daerah pun tak mau ketinggalan untuk berhadir guna mendoakan dan mengenang sosok Haji Maming yang memang dikenal dermawan dan suka menolong semasa hidupnya.

Di hari-hari biasa pun makam ini sering dikunjungi warga. Apalagi, komplek makam Haji Maming memang dilengkapi dengan fasilitas ibadah yang nyaman, selain itu ada juga taman dan lapangan.

Namun, rupanya saat Syafruddin H Maming mencalonkan diri sebagai Bupati Tanah Bumbu ada saja isu miring yang menyerangnya. Kegiatan ibadah dan fasilitas yang nyaman di komplek pemakaman dianggap sebagai bentuk pengkramatan makam.

Tentu saja, kabar miring ini langsung ditangkis Mardani H Maming. Mantan Bupati Tanah Bumbu dua periode ini menuturkan, pembangunan komplek makam sang ayah adalah bentuk dari bakti mereka sebagai anak untuk memuliakan ayahnya yang telah tiada. “Tidak ada maksud lain. Saya membangun komplek makam Haji Maming karena ingin memuliakan almarhum ayah saya,” katanya.

Ia mengakui, setiap acara haul Haji Maming banyak warga yang datang, dari Tanah Bumbu ataupun luar daerah. “Setiap tahun jamaah haul yang datang terus bertambah, makanya kami bangunkan fasilitas sebagai tanda terimakasih untuk mereka yang datang mendoakan almarhum ayah kami,” ujarnya.

Selain membangun komplek pemakaman, Mardani juga membentuk yayasan dengan mengambil nama sang ayah yakni Yayasan Haji Maming. Yayasan ini sangat aktif dalam berbagai kegiatan sosial, pendidikan, kesehatan, maupun keagamaan.

Bantahan mengenai isu pengkramatan makam sang ayah juga dilontarkan Syafruddin H Maming. Pria yang maju bersama M Alpiya Rakhman pada Pilkada Tanbu 2020 ini mengatakan, isu pengkramatan makam oleh anak-anak Haji Maming adalah kebohongan besar. “Sebagai anak sudah menjadi kewajiban kami untuk memuliakan orang tua kami,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pembangunan komplek makam sebagai tanda bakti, rasa sayang, serta bentuk pemuliaan terhadap orang tua yang telah melahirkannya. “Kalau tidak ada ayah tentu kami tidak ada. Beliau juga sudah memberikan pendidikan terbaik bagi kami. Makanya, sangat wajar kalau kami sebagai anak memuliakan beliau,” tegasnya.

Sementara itu, Habib Abdurahman Bahasyim atau yang akrab disapa Habib Banua menuturkan, apa yang dilakukan anak-anak Haji Maming adalah hal yang sangat baik. “Pak Mardani ini membangun kubur orang tuanya dengan baik. Kemudian, memakmurkannya dengan kegiatan pengajian maupun baca Alquran,” ujarnya.

Ia menjelaskan, ketika orang meninggal dunia, maka putuslah amal ibadahnya, kecuali tiga perkara yakni, ilmu yang bermanfaat, amal jariah, serta doa anak shaleh.

“Anak-anak Haji Maming sudah menunjukan sikap bakti kepada orang tua. Ini harusnya menjadi contoh bagi kita. Harusnya, kita bercermin, apakah kita sudah berbuat baik kepada orang tua, bukan malah mengisukan hal yang macam-macam,” katanya.

 

Tim Liputan Kabar Kalimantan

Penanggungjawab: M Ridha

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © All rights reserved. | redkal.com by Kabar Kalimantan.