Jum. Apr 10th, 2020

Ketika Seniman non Akademis Unjuk Monolog Perlawanan

2 min read

Penampilan komunitas teater Datu Tadung Mura (Datamur) di Gedung Taman Budaya Kalsel di Banjarmasin, Sabtu pekan lalu (9/12/2017). Istimewa

KabarKalimantan, Banjarmasin – Kain hitam terjuntai menyerupai bagian belakang kapal tongkang menyambut penonton yang masuk. Di depannya panggung kecil tersedia. Pertunjukkan langsung dimulai sejak judul pertama dibacakan tepat pukul 20.30 WITA, Sabtu akhir pekan lalu (9/12/2017).

“Sekelam Malam Sehitam Batubara” karya YS Agus Suseno dimainkan Gusti Desi Citra Wardani. Sebelum lampu panggung menyala, gemerisik kantong kresek sayup terdengar. Seorang wanita muda nampak sedang menunggu dijemput suaminya.

Ia bekerja di sebuah rumah makan. Dalam penentiannya, ia mulai bercerita tentang masa lalu yang ia alami. Secara keseluruhan Sekelam Malam Sehitam Batubara menyinggung dampak sosial dari pertambangan batubara. Sesekali juga disentil persoalan lainnya seperti pemadaman listrik.

“Kita mengirim berjuta-juta ton batu bara untuk menyalakan listrik di pulau lain di negeri seberang. Tapi kita sendiri kekurangan listrik,” ucap Citra dalam karakter yang dimainkannya.

Baca Juga :   Pasar Ramadhan di RTH Kamboja, 160 Stand Pedagang Disiapkan

Itulah penampilan pertama para seniman yang mengatasnamakan komunitasnya sebagai Datu Tadung Mura (Datamur). Mereka menggelar pentas dua monolog di Gedung Balairungsari Taman Budaya Kalsel.

Pertunjukkan kedua langsung dimulai tanpa menunggu lama. “Senjakala di Sungai Martapura” dimainkan Winda Iriyani. Keduanya ditulis serta disutradari langsung oleh YS Agus Suseno.

Lakon kedua mengisahkan seorang eksil yang kembali ke Banjarmasin setelah puluhan tahun hidup dalam pelarian di Eropa. Banyak kenangan yang ia utarakan. Sayang, ia mengeluhkan banyaknya perubahan yang terjadi pada Kota Seribu Sungai ini. Kenangannya seakan hilang.

“Segalanya telah berubah. Semua tak lagi kukenali. Kota yang berusia hampir lima abad ini mengingkari sejarahnya sendiri,” ujar Winda mengucapkan dialog wanita berusia senja yang diperankannya.

Mewakili Sutradara yang dikabarkan tidak bisa hadir karena mengalami sakit, Asisten Sutradara Andi Sahluddin menjelaskan tujuan dipresentasikannya dua monolog tersebut. Menurutnya selain untuk menunjukkan eksistensi aktor-aktor wanita di panggung teater Kalsel, ada beberapa tujuan lain.

Baca Juga :   Distribusi Air Leding di Tiga Kecamatan Bakal Macet Total, Catat Tanggalnya

Datamur sebagai kelompok baru, dalam pertunjukkan tersebut diisi oleh sekumpulan seniman yang bukan berasal dari akademisi seni. Bagi Andi, hal ini merupakan misi yang tidak kalah penting. “Kita juga bisa bersaing soal kualitas,” katanya.

Selain itu, secara tegas Andi mengatakan pertunjukkan tersebut sebagai salah satu media untuk menyampaikan aspirasi serta perlawanan terhadap penguasa yang dianggap tidak peduli dengan lingkungan dan masyarakat kecil. “Ketika pers tidak bisa bicara, maka teater yang akan bicara,” ujarnya.

M. ALI NAFIAH NOOR

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © All rights reserved. | redkal.com by Kabar Kalimantan.