Krisis Listrik, Mahasiswa Kalimantan Ciptakan Indonesia Tidal Power

402
Tiga dari empat mahasiswa ITS Surabaya pencipta Indonesia Tidal Power. Ghufron Fawaid (kiri), Pinanggih Rahayu (tengah), dan Muhammad Rifky Abdul Fattah (kanan). ITS for Redkal.com

KabarKalimantan, Banjarmasin – Krisis energi listrik yang masih membayangi masyarakat di pulau-pulau terpencil, terdepan, dan dan terluar (3T) se-Indonesia, mengusik empat mahasiswa Departemen Teknik Elektro dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Mereka tercetus ide mengonsep suatu pembangkit listrik tenaga gelombang laut dengan nama Indonesia Tidal Power (INTIP).

Keempat mahasiswa ITS itu terdiri dari Ghufron Fawaid, Muhammad Rifky Abdul Fattah, Pinanggih Rahayu, dan Aniq Jazilatur. Alasan paling mendasar atas konsep INTIP karena kebutuhan energi listrik nasional selalu melonjak setiap tahun.

“Kebutuhan ini (energi listrik) tidak mampu terpenuhi dengan pembangkit listrik yang ada sekarang,” kata juru bicara tim, Muhammad Rifky Abdul Fattah lewat keterangan resmi ITS Surabaya kepada KabarKalimantan, Kamis (4/1/2018).

Abdul Fattah menuturkan, Indonesia harus lebih jeli memanfaatkan potensi energinya. Indonesia yang berstatus negara kepulauan, menurut Abdul, memiliki potensi besar gelombang laut yang bias dikonversikan menjadi energi.

Baca Juga :   ITS Luluskan Doktor Muda Pertama dari Beasiswa PMDSU

Sayangnya, ia melihat potensi tersebut belum dimanfaatkan secara maksimal. Menurut mahasiswa yang merangkap santri di Pesantren Mahasiswa Darussalam Keputih, Kota Surabaya, itu energi gelombang laut berpotensi memegang peran strategis meningkatkan rasio elektrifikasi nasional.

Rasio elektrifikasi adalah perbandingan jumlah daerah yang telah dialiri listrik dengan keseluruhan wilayah. “Dengan memanfaatkan gelombang laut sebagai pembangkit listrik, pulau terpencil di daerah-daerah tertinggal, terdepan, dan terluar dapat turut mendapatkan akses listrik. Dampaknya, rasio elektrifikasi nasional akan merambat naik,” ujar pria asli Kota Samarinda, Kalimantan Timur tersebut.

Ia mengatakan salah satu teknologi pembangkit energi listrik tenaga ombak yang paling banyak diminati adalah Oscilating Water Column. Cara kerja alat ini diletakkan di pesisir laut dan sangat cocok digunakan sebagai pembangkit listrik di pulau-pulau berstatus 3T.

Namun, Oscilating Water Column memiliki tingkat efisiensi yang masih rendah karena suplai udara ke generator tidak kontinyu.

Baca Juga :   ITS Luluskan Doktor Muda Pertama dari Beasiswa PMDSU

Sadar atas kendala itu, Abdul Fattah dan koleganya membuat inovasi pembangkit listrik sistem kombinasi tenaga gelombang laut tipe Oscilating Water Column dan angin yang memanfaatkan sistem katup. Pembangkit inovatif semacam ini kemudian diberi nama Indonesia Tidal Power (INTIP).

Hasilnya menggemberikan setelah melalui tahapan pengujian. Abdul mengklaim nilai tegangan yang dihasilkan INTIP melonjak sebesar 24 persen ketimbang teknologi konvensional. Sistem katup INTIP membuat sistem searah, sehingga terdapat celah udara bertekanan yang mengalir bebas.

“Kemudian kami manfaatkan udara bertekanan tersebut untuk menggerakan pembangkit listrik tenaga angin,” kata Abdul Fattah.

Abdul berharap, inovasi INTIP bisa membantu memenuhi kebutuhan listrik di daerah 3T dengan lokasi di sekitar pesisir laut. Sebab, kata dia, generasi emas 2045 akan lahir ketika pemerataan energi melalui keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia telah terpenuhi.

Baca Juga :   ITS Luluskan Doktor Muda Pertama dari Beasiswa PMDSU

DP

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here