Laung dan Jubah Kuning Raja Banjar

2 min read
149

KabarKalimantan, Banjarmasin – Pangeran Tumenggung dianggap gagal memasang mahkota Kerajaan Negara Daha. Ia dianggap raja tanpa mahkota.

Wartawan: M Ali Nafiah Noor

Seorang sultan di Kesultanan Banjarmasin belum lengkap menjalankan ritualnya jika belum memasang mahkota kesultanan. Sejarawan Kalsel Yusliani Noor menjelaskan, hal itu dipercaya oleh masyarakat bahkan sejak jauh sebelum Kesultanan Banjarmasin berdiri. “Legalitas seorang sultan atau raja ditandai dengan kesanggupannya memasang mahkota,” tulisnya dalam Islamisasi Banjarmasin (Abad ke-15 sampai ke-19).

Yusliani menyebut Mahkota kesultanan Banjarmasin merupakan sebuah mahkota dari laung (ikat kepala dari kain) kuning yang datang dari langit. Kepercayaan mahkota yang turun dari langit merupakan wujud simbolik dari sistem kosmologis tradisional yang menempatkan mahkota sebagai mandat langit.

Baca Juga :   Suplai Kebutuhan Pokok Ditahan, Banjarmasih Minta Bantuan Sultan Demak

“Mahkota adalah simbol kekuasaan politik yang secara geneologis dipakai oleh pewaris tahta. Ketaatan dan ketundukan rakyat berdasarkan pada mahkota yang telah sanggup dipakai oleh sang raja,” katanya.

Mahkota yang dimaksud itu rupanya pertama kali turun kepada Pangeran Suryanata, raja putera di Kerajaan Negara Dipa yang menurunkan trah raja-raja hingga periode selanjutnya. Dalam titah suara yang keluar secara gaib diamanatkan kepada calon raja yang memakai mahkota. Mahkota akan dapat dipakai bagi pewaris yang memang memiliki mandat dari Yang Maha Kuasa.

Baca Juga :   37 Sample Darah Dinyatakan Positif Rubella

“Mahkota akan sesuai dengan kepala raja yang memakainya, tidak sesak, tidak longgar, dan tidak berat, seperti memasang peci atau kopiah,” ujar Yusliani.

Selain itu, Pangeran Suryanata juga mewariskan pakaian raja sebagai bentuk simbolik legalitas yang serasi dengan mahkota. Pakaian yang dimaksud berbentuk tapih (sarung/jubah) sutera.

Tradisi pakaian dengan menampilkan warna kuning yang diwariskan Pangeran Suryanata dalam bentuk sarung kuning, kemudian menjadi tradisi dalam tata busana seorang raja, termasuk bagi Sultan Suriansyah.

Konflik politik Kerajaan Negara Daha antara Pangeran Mangkubumi dengan Pangeran Tumenggung diakhiri kemenangan pada pihak Pangeran Tumenggung. Namun ia tak mampu memasang mahkota kerajaan. Beberapa tokoh masyarakat, termasuk di antaranya para patih di Muara Banjar berupaya menemukan pengganti raja yang sanggup memakai mahkota kerajaan.

Baca Juga :   Hadapi PSU di Kalsel, Korem 101 Antasari Siapkan Personil di Tiap TPS

Pangeran Samudera yang berhasil mengalahkan pasukan Pangeran Tumenggung, merupakan tutus raja-raja yang sanggup memakai mahkota. “…maka mangkota yang turun dari udara…, mangkota itu dipakai dapat sapati bakupiah,” tulis Yusliani mengutip Hikayat Banjar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *