ITS Luluskan Doktor Muda Pertama dari Beasiswa PMDSU

618
Dua calon doktor termuda dari ITS Surabaya, Wahyuniarsih dan Asdam. ITS for Redkal.com

KabarKalimantan, Banjarmasin– Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya untuk kali pertama akan meluluskan doktor muda dari program Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU) ketika wisuda ke-116.

Dua wisudawan doktoral yang merupakan angkatan pertama program PMDSU ITS juga tercatat sebagai lulusan doktor termuda dari ITS dengan usia 27 tahun. Program PMDSU adalah program beasiswa untuk menempuh gelar doktor tanpa harus menempuh pendidikan S2.

Dari sembilan orang yang terdaftar dalam program ini, ITS baru akan meluluskan dua wisudawan terbaiknya dari Departemen Teknik Sipil saat wisuda ke-116, Sabtu (23/9/2017).

Kedua doktor itu lulus dengan pujian atau cum laude. Keduanya bernama Asdam Tambusay yang berhasil lulus dengan IPK 3,97 dan Wahyuniarsih Sutrisno yang lulus dengan nilai IPK sempurna: 4,00.

Asdam tercatat alumni S1 Teknik Sipil Universitas Hassanuddin (Unhas) Makassar dan Wahyuniarsih alumni S1 Teknik Sipil ITS.

Baca Juga :   Krisis Listrik, Mahasiswa Kalimantan Ciptakan Indonesia Tidal Power

Dalam disertasi S3, Asdam mengangkat topik penggunaan material engineered cementitious composite (ECC) dari mikrostruktur bangunan tahan gempa. Kekuatan beton yang dihasilkan dari material ini setara kekuatan beton sesuai standard minimum bangunan yakni 20 Mpa.

”Bedanya adalah kekuatan tarik yang dihasilkan dengan ECC ialah 500 kali lebih besar dan meminimalisir lebar retak bangunan lebih kecil daripada 0,1 mm,” kata pria yang bercita-cita menjadi profesor itu seperti keterangan resmi ITS yang dikirimkan ke KabarKalimantan, Jumat (22/9/2017).

Pria kelahiran Agustus 1990 itu mengatakan latar belakang pembuatan desain gedung tahan gempa karena Indonesia termasuk negara rawan gempa. Ia sempat melakukan riset ke Edinburg University, Inggris.

“Untuk tindak pencegahan pada bencana gempa, maka perlu dibangun bangunan yang anti gempa sehingga mengurangi besarnya kerusakan banguanan,” tutur Asdam.

Adapun Wahyuniarsih—kerap disapa Wahyu—mengusung disertasi yang mengangkat topik propagarsi retak akibat korosi (karat) pada beton bertulang. Disertasi ini berguna memprediksi lebih dini kapan terjadi korosi pertama pada sebuah bangunan. Sebab korosi dapat memicu menurunkan daya tahan bangunan.

Baca Juga :   Krisis Listrik, Mahasiswa Kalimantan Ciptakan Indonesia Tidal Power

“Terutama di Indonesia yang saat ini sedang gencar membangung infrastruktur maritime, sehingga perlu memprediksikan sejak dini kapan terjadinya korosi untuk menjaga daya tahan beton bangunan,” ucap perempuan berkacamata ini.

Proses korosi, kata Wahyu, terjadi ketika air dan udara masuk ke dalam pori-pori bangunan hingga besi mengalami korosi. Korosi yang meluas pada bagian besi akan memicu bangunan hanya ditahan oleh beton.

Jika bangunan hanya ditahan oleh beton dan kondisi besi sudah retak, Wahyu memprediksi bangunan akan kehilangan tulang penyangga sehingga rentan rusak. “Itu dalam perhitungan prediksi saya yang menggunakan teori Fix Law,” papar perempuan asal Surabaya ini.

Wahyu mengaku pengerjaan disertasinya cukup rumit karena harus membahas tiga topik besar seperti korosi, rumus dan teknik sipil. Sehingga ia harus menggaet koleganya yang dari program S2 Teknik Sipil dan melakukan riset hingga ke Kumamoto University, Jepang.

Baca Juga :   Krisis Listrik, Mahasiswa Kalimantan Ciptakan Indonesia Tidal Power

Di ITS, program PMDSU baru dimulai tahun 2013, yakni di tiga departemen: Teknik Sipil, Teknik Kimia, dan Teknik Elektro. Dari ketiga departemen itu, baru Teknik Sipil yang berhasil meluluskan mahasiswa doktoralnya.

DIANANTA PUTRA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here