Makam Lettu H Awang Nasir Dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Balangan

32

KabarKalimantan, Paringin – Salah satu pahlawan kemerdekaan RI di Kabupaten Balangan yang sebelumnya bermakam di tepi jalan Desa Lampihong Kiri dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Kabupaten Balangan, di Kecamatan Juai.

Dialah Lettu H Awang Nasir. Pria kelahiran Pulau Pinang, Malaysia 10 Desember 1925 tersebut mendedikasikan dirinya sebagai tentara pada Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) sampai akhir hayatnya pada 3 Februari 1980.

Sempat mengecap pelatihan sebagai tentara di Haiho, sang Letnan terus berjuang keluar masuk hutan Kalimantan Selatan khususnya daerah HST dan Balangan. Kemudian Lettu Awang Nasir bergabung pada Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan terakhir menetap pada ABRI.

Achmad Maragi salah seorang anak pahlawan ini menyebutkan, semasa hidup ayahnya, dari awal menikah dengan ibunya Hj Masrah pada tahun 1948, keluarga ini tidak pernah hidup menetap di suatu tempat. Mereka selalu berpindah-pindah.

Bahkan setelah ayahnya menikahi sang ibu yang merukapan wanita kelahiran Barabai 10 Maret 1929 ini, mereka selama 7 bulan hanya tinggal dalam hutan untuk bersembunyi dari kejaran para penjajah.

”Perjuangan ayah dulu tidak seperti perjuangan tentara yang kita lihat seperti saat ini, beliau menggunakan bambu runcing dan senjata tajam lainnya untuk melawan para penjajah,” kata Maragi di sela pembongkaran makam ayahnya, Jumat (8/11/2019).

Sementara itu, Linda yang merupakan anak terakhir Lettu H Awang Nasir mengungkapkan, semasa hidup ayah ibunya dikaruniai 13 orang anak, dan hingga kini tersisa 11 orang yang hidup dan menetap di berbagai daerah di Kalimantan.

Linda menceritakan, selama bertugas ayahnya sering berpindah pindah. Selama pelatihan militer dan tugas luar daerah, sang ayah menetap di Pulau Jawa. Kemudian kembali lagi ke Kalimantan dan bertugas di Danau Panggang, Kabupaten HSU.

Selama perang melawan penjajah, lanjut Linda, ayah ditemani sang ibu, keluar masuk hutan di daerah Barabai. Hingga dikumandangkannya kemerdekaan oleh Presiden Soekarno, ayah ibunya baru bisa menetap dengan tenang di Kabupaten Balangan.

“Ayah sempat tugas di Kecamatan Lampihong dan Paringin Kabupaten Balangan, hingga masa pensiun dan tutup Usia,” ujar Linda.

Dirinya mewakili seluruh Keluarga mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Balangan yang telah memberikan apresiasi dan penghargaan yang tinggi untuk almarhum ayahnya.

Menurutnya, dengan dipindahkannya makam sang ayah ke Taman Makam Pahlawan setempat, ini dapat memberikan nilai yang sangat positif bagi daerah khususnya para generasi muda agar tahu tentang para penjuang kemerdekaan di Balangan.

“Perpindahan makam ayah ini akan membantu kami pula dalam pengurusan makam. Makam ayah pasti akan terawat dengan baik, dan memudahkan kami untuk mencari makam ayah yang akan tertata rapi,” tutupnya.

Sementara itu, Kabid Pemberdayaan Sosial Dinas Sosial Kabupaten Balangan Rusmin Nuriadin mengatakan, pemindahan makam ini bertujuan untuk mengumpulkan makam-makam para pahlawan di Balangan di Taman Makam Pahlawan, Kecamatan Juai.

Saat ini, kata Rusmin, hanya ada satu makam yang berada di taman makam tersebut, dan hari ini akan bertambah satu lagi, yaitu makam untuk Lettu H Awang Nasir yang sedang dipindahkan ini.

“Kami sudah mendata, ada lima orang yang makamnya akan kita pindahkan termasuk makam ini, empat makam lainnya masih menunggu izin dari pihak ahli waris untuk dipindahkan,” bebernya.

Pihaknya berharap, dipindahkannya satu makam ini menjadi keterbukaan pihak keluarga yang lain untuk memindahkan makam keluarganya yang termasuk dalam data untuk dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan.

Perlu diketahui, semasa hidupnya, Lettu H Awang Nasir menerima 9 penghargaan atas perjuangannya melawan penjajah, yakni Satyalantjana Gerakan Operasi Militer V yang ditandatangani Menteri Pertahanan Djuanda 1950, Satyalantjana Kesetiaan ditandatangani Menteri Pertahanan Djuanda 1959, Satyalantjana Peristiwa Perang Kemerdekaan Kesatu ditandatangani Menteri Pertahanan Djuanda 1960, Satyalantjana Peristiwa Perang Kemerdekaan Kedua ditandatangani Menteri Pertahanan Djuanda 1960.

Medali Sewindu Angkatan Perang Republik Indonesia ditandatangani Presiden Republik Indonesia 1960, Tanda Jasa Pahlawan dari Presiden Republik Indonesia pada 1962, Satyalantjana Wira Dharma ditandatangani Kepala Staff Angkatan Bersenjata Djendral TNI A.H Nasution pada tahun 1967, Satyalantjana Penegak ditandatangani Djendaral TNI Soeharto pada tahun 1971, dan Surat Tanda Penghargaan dari Panglima Daerah Militer X Lambung Mangkurat ditand tangani Pangdam X Brigjen Soebarjo pada 1975.

Reporter: FM hidayatullah

Editor: Suhaimi Hidayat

Penanggungjawab: M Ridha

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here