Sab. Jan 23rd, 2021

Mempertanyakan Nasib Generasi Muda Banua

2 min read

MORAL generasi muda di Kalimantan Selatan agaknya cukup memprihatinkan. Belakangan ini kasus kriminal, banyak dilakukan oleh remaja. Mulai dari mencuri dengan kekerasan, percobaan pemerkosaan, menjual narkoba, hingga pembunuhan. Apa yang salah dengan pembinaan generasi muda kita?

Beberapa waktu lalu kita mendengar, kasus pembunuhan di Kabupaten Tanah Bumbu, dilakukan oleh dua remaja yang umurnya masih belasan tahun. Mereka berani melakukan itu, dalam usia masih muda.

Kemudian di Kota Banjarmasin, seorang remaja wanita nekat mencuri sepeda motor dan melakukan pencurian. Bayangkan saja, seorang remaja ingusan ini sudah berani berbuat sekeji itu, padahal ia seorang perempuan.

Paling terbaru ada juga remaja di Banjarmasin melakukan pencurian dengan kekerasan. Menggunakan pisau ia mengancam korban, bahkan sempat ingin melakukan pemerkosaan pula. Benar-benar parah sekali. Seolah mereka tak memiliki moral, akal sehat dan hati nurani.

Ini jelas sangat mengkhawatirkan. Kekerasan dan tindak kriminal yang dilakukan anak muda kian meningkat di bumi Antasari. Padahal generasi muda adalah penopang kemajuan bangsa. Jika generasi muda kita lemah dan bermoral hancur seperti itu, bagaimana nasib bangsa ini ke depan?

Revolusi mental yang digaungkan pemerintah tampak seperti retorika. Sampai saat ini dampak maupun gerakannya tak terasa nyata. Padahal makna kata revolusi, harusnya bergerak cepat. Jika lambat, bukan revolusi lagi namanya, melainkan evolusi.

Semakin membuat miris, generasi muda kita seperti memiliki benteng diri yang amat rapuh. Terbukti, mereka kini kebanyakan bergaya dan bertingkah laku kebarat-baratan. Seks bebas, gaya hidup hedonis, dan apatis jadi tren. Tanyakan saja kepada mereka, bagaimana kondisi bangsa Indonesia hari ini? Mereka barangkali akan terbengong-bengong.

Di sisi lain, gempuran obat-obatan terlarang semakin kuat. Obat daftar G jenis Carnophen merek Zenith misalnya, laris manis terjual. Siapa yang konsumsi? Anak muda kita lah salah satunya. Belum lagi minuman keras, pengaruh film hingga kebudayaan.

Melihat kondisi ini, harusnya ada gerakan dari pemerintah daerah di Kalimantan Selatan. Karena daerah ini memerlukan penerus pembangunan yang berkualitas. Jika generasi penerus kita adalah generasi alay, generasi teler, bisa ditebak bagaimana kemajuan daerah ini.

Generasi muda harus dilibatkan dalam upaya pembangunan daerah. Mereka harus banyak diberikan peran dan kegiatan positif yang menarik. Serta pembentukan mental dan karakter. Sehingga mengurangi waktu mereka untuk melakukan hal negatif.

Kebanyakan dari mereka, kebingungan mencari kegiatan. Hingga akhirnya terjerumus pada pola hidup nista dan tak berguna. Hura-hura, tanpa memikirkan masa depan. Kalau sudah begini, tak menutup kemungkinan mereka juga malah bertindak kriminal.

Sudah saatnya kepala daerah kita membuka mata lebar-lebar. Generasi muda kita terancam tersungkur dalam dekapan generasi rapuh. Jika bukan pemuda hari ini yang melanjutkan perjuangan membangun bangsa di masa depan, siapa lagi?.

 

redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © All rights reserved. | redkal.com by Kabar Kalimantan.